17 Mar 2013

Quo Vadis Kurikulum 2013?

Betul, judul yang cliche untuk masa sekarang. Saat mempertanyakan kebijakan publik disebut merecoki daripada membantu, saat kebijakan publik dibuat sewenang-wenang, menutup mata dan kuping dari perkembangan zaman dan tantangan di masa depan.

Kurikulum pendidikan nasional kita, seperti yang Anda tahu, akan segera berubah. Namanya Kurikulum 2013. Jajaran kementerian Pendidikan Nasional rasanya sudah kehabisan ludah untuk menjelaskan, betapa kurikulum baru ini sakti mandraguna, menyelesaikan kelemahan kurikulum sebelumnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006).

Tapi kalau melihat isi standar-standar per mata pelajaran yang ramai dibahas publik di berbagai kanal, maka pertanyaan di atas layak kita ajukan lagi. Akan kemana Kurikulum 2013 ini, atau jelasnya, akan dibawa kemana rakyat Indonesia dengan bangunan kurikulum ini?

Menurut komentar para pejabat terkait di berbagai media, kurikulum ini justru untuk mengantisipasi perubahan dunia. Ada banyak perubahan di sana. Berikut beberapa kutipan dari mereka:

"Kalau kurikulum tetap sementara dunia berubah, maka enggak akan menyelesaikan masalah perubahan ini. Kita ikuti perubahan dunia, maka kurikulum yang harus mengantisipasi perubahan-perubahan itu," - Mendikbud, M. Nuh (Okezone.com, 16/3/2013)
"Standar kompetensi lulusan dalam kurikulum 2013 memiliki tiga domain, yakni sikap, keterampilan, dan pengetahuan," - Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Buku (Pusburbuk), Nanik Suwaryani (Okezone.com, 14/3/2013).
"IPA tidak ada, dalam kurikulum baru ilmu pengetahuan akan diintegrasikan dengan pelajaran lain, termasuk salah satunya ilmu bahasa dikemas dalam konteks yang lebih menarik," - Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim (Kompas.com, 22/10/2012).


Sedangkan menurut aturan dan perundang-undangan, Kurikulum 2013 ini katanya sudah sesuai dengan RPJM pemerintah pusat tahun 2010, dan DPR RI pun sudah membentuk Panja Kurikulum pada tahun 2011. Dasar lainnya perubahan kurikulum ini adalah Inpres tentang pendidikan berkarakter.

Berubah, tapi ke arah mana?

Bicara perubahan memang gampang, persoalannya mau diubah ke arah mana kurikulum kita ini? Arah yang jelas tentu akan didukung oleh segenap masyarakat. Faktanya, penolakan terhadap kurikulum baru ini justru karena arahnya yang tidak jelas. Kualitas sumber daya manusia seperti apa yang diharapkan oleh keluaran Kurikulum 2013?

Mari kita mulai dengan tiga kesadaran manusia yang dibangun oleh Paulo Freire, salah seorang filosof pendidikan favorit saya. Mungkin cara pandangnya bukan favorit para perancang kurikulum plus konsultannya, sehingga tak akan nyambung dalam pembahasannya. Tapi kacamata Freire, penting untuk merumuskan, karakter bangsa seperti apa yang akan dihasilkan oleh bangunan Kurikulum 2013 ini.

Bagi Freire saat itu, seluruh sistem pendidikan adalah alat penindasan. Karena itulah ia melakukan mengembangkan metode pembebasan buta huruf dan memberi pendidikan pada masyarakat kumuh di pedalaman Brazil dengan caranya sendiri. Pengalamannya selama bertahun-tahun dalam hal membebaskan manusia melalui pendidikan, memberinya inspirasi tentang tiga tahapan kesadaran manusia.

Pertama kesadaran magis (magical consciousness), sebuah sikap yang sekedar menerima dan melarikan diri dari kenyataan yang brutal dan penindasan yang kejam. Cirinya, sikap bungkam; apatis; dan hubungan sebab akibat yang sederhana. Kesadaran ini dimiliki oleh masyarakat "primitif" yang meyakini segalanya telah diatur, hingga takluk pada keadaan. Mereka menggantungkan nasibnya pada kekuatan lain, yang sangat besar, yang ada di luar dirinya.

Tingkat lainnya adalah kesadaran naif (naival consciousness), yaitu ketika sang “tertindas” semakin menyadari posisinya. Muncul keinginan untuk melawan, memberontak dan memperbaiki nasib. Namun, karena terlalu banyak rintangan, yang terjadi adalah menyalahkan diri sendiri atau manusia lainnya. Dalam hal ini terjadi perlawanan yang tersumbat, baik oleh eksternal maupun internal pelaku. Mereka ini percaya, manusialah yang menjadi penyebab segala persoalan.

Kesadaran tertinggi menurut Freire adalah kesadaran kritis (critical consciousnes), ketika seseorang  mampu bersikap ilmiah dalam menatap realitas. "Kesadaran kritis ditandai dengan penafsiran mendalam terhadap berbagai masalah; digantikannya penjelasan magis dengan kausalitas; menolak bersikap pasif; berani mengemukakan pendapat; mengedepankan dialog daripada polemik; mau menerima pandangan baru bukan sekedar karena sifat kebaruannya, dan tidak menolak pandangan kuno hanya karena sifat kekunoannya, tapi mau menerima apa yang benar meski datang dari pandangan kuno maupun baru,” kata Freire.

Lalu mari kita kembali ke kurikulum yang kita bicarakan di awal paragraf artikel ini. Dengan menengok sedikit kutipan dari Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang ada di sana. Misalnya salah satu Kompetensi Dasar Mata Pelajaran PPKN kelas 1 SD di bawah ini:

"Menerima kebersamaan dalam keberagaman sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah."

Kompetensi Dasar ini berasal dari Kompetensi Inti berikut ini:

"Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya."
Ada banyak cara untuk menerima keberagaman, salah satunya dengan cara yang magis seperti di atas. Ini tentu tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak relevan karena ini pelajaran PPKN yang menggarisbawahi kewarganegaraan. Artinya, sebagai warga negara yang baik, bagaimana kita harus memaknai keberagaman?

Kalau semua konteks mata pelajaran dijawab dengan kepatuhan pada agama dan kepercayaan, maka kita sedang mencampuradukkan disiplin yang berbeda, bahkan dengan pengetahuan yang sifatnya bukan disiplin ilmu, yaitu keimanan. Keimanan adalah dasar kehidupan beragama, dan bukan disiplin ilmu yang harus dipertanyakan terus menerus sesuai paradigmanya.

Di sinilah letak melencengnya tafsir perubahan yang diinginkan Kurikulum 2013. Cita-cita melahirkan anak-anak yang bertakwa kepada Tuhan, dan berakhlak mulia, disalahtafsirkan sebagai kesadaran magis terhadap segala sesuatu di muka bumi. Maka tamatlah era sains di Indonesia, yang justru relevan dengan kesadaran kritis ala Freire.

Kritis bukan berarti jadi tukang kritik, bukan pula menjadikan seseorang serba menentang pendapat orang lain. Kritis artinya menggunakan nalar dan pikirannya untuk memahami sesuatu, bahkan ketika menyetujui sesuatu. Bukan karena alasan irasional, seperti emosi atau kedekatan personal. Termasuk kritis untuk memilah, mana yang harus didekati dengan keimanan, dan mana yang perlu didekati dengan ilmu pengetahuan.

Cara menerjemahkan Kompetensi Inti ke mata pelajaran inilah yang menyesatkan paradigma dalam Kurikulum 2013. Urusan akhlak dan pendidikan agama, tak bisa diajarkan dengan pendekatan materi pelajaran. Ia adalah pendidikan yang berbasis pengalaman, diajarkan melalui tindakan. Tak ada yang bisa dihafalkan tentang akhlak mulia, karena isinya harus diamalkan.

Percuma seorang anak mampu menghafal seluruh isi kitab suci, tetapi tak tahu harus bersikap ketika melihat gurunya menjual LKS dengan berbagai modus, atau menyebarkan jawaban UN agar reputasi sekolah terselamatkan.

-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar