15 Sep 2012

Takita, Mari Terus Bercerita!

Balasan untuk Takita,

Membaca Surat Takita di sini, mengingatkan saya tentang pentingnya bercerita, khususnya ketika saya masih menjadi fasilitator. Ketika itu, saya bertemu seorang ahli bercerita yang juga mendalami pendekatan pengembangan masyarakat, Positive Deviance. Orang itu bernama Arvind Singhal. Ia seorang profesor di Universitas Texas, di El Paso, Amerika Serikat.

Kenapa bercerita berhubungan dengan pengembangan masyarakat? Karena lewat cerita, ternyata masyarakat bisa dibangkitkan lagi percaya dirinya. Ternyata, cerita tidak hanya "laku" bagi anak-anak sebagai dongeng pengantar tidur saja. Ini hal baru yang menarik perhatian saya dari beliau.

Buktinya apa? Mari kita mulai saja dengan sebuah cerita :D

Tersebutlah seorang anak laki-laki bernama Joe, berusia kira-kira 11 tahun. Ia tampaknya mengalami masa sulit dalam masa pertumbuhannya sebagai anak, karena hanya didampingi sang Ibu, Rosemary Willson. Rosemary adalah seorang penerbit, yang telah bercerai 3 tahun yang lalu dan sekarang menjadi orang tua tunggal bagi Joe.

Joe terkenal suka bikin masalah di sekolahnya. Ia seorang anak pemberontak, marah, dan semakin menjadi-jadi jika perilakunya disinggung di rumah. Joe juga tidak pernah nurut sama pengasuhnya – Ibu Joane. Meskipun ibu ini sangat sabar dan telah berupaya memenangkan hati dan perhatian anak ini, Joe memang sulit diatur.

Sang Ibu, Rosemary, akhirnya memutuskan sudah waktunya untuk melakukan tindakan serius dan sistematis. Rosemery meminta Ibu Joane mencari dan mendaftarkan beberapa perilaku Joe. Ia juga mencatat bagaimana Joel seharian berperilaku di sekolah.
“Anak ini harus mulai belajar,” kata Rosemary. “Melalui daftar ini, saya akan mendekatinya – pelan-pelan, menjelaskan kepadanya bahwa apa yang dilakukannya adalah tidak baik dan salah”. Percayalah kita akan melihat ada perkembangan. Joe adalah anak yang pintar dan cerdas untuk seusianya; dia hanya perlu ditunjukkan dan dipandu, apa yang harus dilakukan. Tatkala dia melihat daftar kenakalannya – dan memastikan kita bersamanya – dia pasti akan berubah…”
DUA ribu mil ke arah Selatan, di sebuah desa kecil yakni Lakota di New Mexico, juga ada seorang anak yang seusia Joe – yang perilakunya kurang lebih sama. Dia sering merusak mobil-mobil orang di parkiran depan sebuah minimarket. Tatkala ia diingkatkan, tingkah lakunya malah semakin menjadi-jadi, dan memberontak terhadap orang tuanya. Sebut saja namanya Navaro.

Pada suatu sore, seluruh keluarga yang sudah tak tahan lagi dengan kelakuannya, diminta berkumpul – duduk membetuk sebuah lingkaran besar. Di sana ada Paman Navaro, yang mengajaknya maju dan duduk di tengah-tengah lingkaran. Tiga orang pemuda tampak ikut duduk di samping sang paman. Sang Pamanpun mulai bercerita tentang Navaro.
“Engkau adalah anak kami yang pertama lahir. Anak yang bagitu berharga bagi kami. Saat pertama kali mulai menendang-nendang perut ibumu – ibumu begitu bersukacita. Ayah dan ibumu berlari-lari dari rumah ke rumah, memberi tahu kami semua bahwa kamu hidup!! Demikian indahnya… Saat kau lahir dengan tangisan yang begitu kuat – sampai terdengar ratusan meter – radio tetangga berhenti dan  mereka berhamburan ingin melihatmu. Ah.. betapa bangganya Ayah dan Ibumu, dan kami semua waktu itu…  “Waktu kau mulai belajar berjalan, terjatuh di rerumputan lembut dan melihat wajahmu yang terkejut bingung – kami semua tertawa… Hahaha! Alangkah lucunya!"
Sang Paman tak henti-henti mengingat masa indah Navaro bersama keluarganya. Seringkali lingkaran itu terdengar tertawa-tawa, hingga tak terasa berurai air mata haru di antara mereka. Ia terus membagikan ingatan-ingatan terbaiknya mengenai Navaro. Tidak ada kritikan yang disampaikan. Sang Paman juga terus mengingatkan anak muda kecil ini tentang betapa berarti hidupnya bagi seluruh keluarga, suku dan masyarakat di sekitarnya.

Saat sang paman selesai bercerita, secara bergantian satu demi satu keluarga dan kerabat satu suku tersebut gantian bercerita, dengan cara yang hampir sama. Langitpun mulai redup dan gelap, bintang-bintang mulai kelihatan di langit. Malampun beranjak semakin pekat, sebelum mereka menutup ceritanya.

Akhirnya, giliran sang ibu bercerita, dengan nada yang rendah hati, lembut, dan penuh kasih sayang. Semua isi ceritanya sama, masa-masa bahagia bersama Navaro sejak masih dikandung ibunya, hingga ia mulai tumbuh besar. Tak ada satupun yang menyinggung perilaku Navaro yang belakangan meresahkan tersebut.

Nah, bagaimana dengan akhir cerita kedua anak tersebut? Mana yang kira-kira akan berubah setelah mendapat dua macam perlakuan yang berbeda dari keluarganya? Bagaimana rasanya kalau Takita yang menjadi kedua anak dalam cerita tersebut?

Takita, saya percaya bahwa cerita yang menginspirasi bisa membangkitkan semangat kita untuk bangkit, termasuk untuk mendidik anak-anak jaman sekarang. Inspirasi dari cerita kepahlawanan para pejuang kita di masa revolusi misalnya, akan selalu mengingatkan kita betapa bangsa dan negara ini tidak dibangun dalam waktu semalam. Ada pengorbanan, perjuangan, darah dan airmata yang patut mendapat penghargaan selayaknya.

Dengan menceritakan kisah-kisah inspiratif, secara tidak langsung kitapun sedang menularkan inspirasi tersebut kepada lingkungan kita. Orang-orang tua yang menyebarkan inspirasi kepada anak-anaknya, akan membangun semangat mereka untuk menjadi seperti tokoh yang dikisahkan.

Pasti, Takita juga bisa. Mari terus bercerita!

*Gambar Takita dari blog.indonesiabercerita.org

-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar