17 Sep 2012

Anda Memilih Fauzi Bowo Karena Dia Muslim?



Isu-isu sensitif, yang mengundang perdebatan panjang bahkan munculnya kekerasan, bisa berasal dari empat isu yang disingkat SARA ini. Suku, Ras, Agama dan Antar Golongan. Keempat isu ini kalau disinggung terlalu dalam, bisa mengundang amarah, maka tepatlah kalau disebut isu sensitif.

Kalau Anda bertanya-tanya tentang judul tulisan saya ini, jangan salah. Saya bukan warga DKI Jakarta. Saya tidak berkepentingan secara langsung dengan siapa gubernur DKI Jakarta 2012-2017 nanti. Wacana mengenai kampanye SARA yang menarik perhatian saya.

Jimly Asshiddiqie, yang merupakan Ketua Dewan Penyelenggara Pemilu, di Kompas.com menanggapi pernyataan Rhoma Irama yang memberikan ceramah tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012). Jimly menyebutkan, penggunaan isu suku agama ras dan antar-golongan (SARA) masih diperbolehkan sepanjang itu digunakan sebagai transparansi.

Pernyataan ini, memberi kita petunjuk untuk menjawab pertanyaan, "Apakah salah kalau saya memilih Fauzi Bowo karena dia muslim?" Jawabannya, tentu tidak salah. Bahkan untuk menyatakan bahwa sesuai ajaran Islam, seorang muslim harus memilih pemimpinnya yang seiman, juga tidak dilarang.

Persoalannya pada kata "Kampanye", yang diperdebatkan banyak pihak. Kampanye, menurut Panwaslu, adalah kegiatan mempromosikan salah seorang kandidat dalam ajang pemilu. Hal ini tentu terkait pemilihan umum kepala daerah yang sedang diselenggarakan. Jika ada kata-kata untuk memilih salah satu kandidat, maka itulah yang dikategorikan sebagai kampanye.

Apakah dalam kampanye, lalu boleh menyarankan seorang kandidat karena agamanya? Menurut Panwaslu, boleh-boleh saja. Yang penting, tidak mendiskreditkan kandidat lain, atau menjelek-jelekkan agama atau ras kandidat lain.

Batasannya ada di sini.

Pertanyaannya bagi para pemilih nanti, apakah cukup penting untuk memasang kriteria agama seorang kandidat, lebih penting dari unjuk kerjanya sebagai gubernur? Pertanyaan ini yang bisa diperdebatkan panjang lebar.

Ada yang berpendapat, daripada memilih pemimpin yang beragama lain, lebih baik memilih yang seagama, apapun kondisinya. Termasuk jika kandidat itu diketahui tak punya catatan unjuk kerja yang bagus.

Dilemanya kemudian, mau pemimpin yang tak seiman, tapi korup? Atau mau milih yang tak seiman tapi bisa mensejahterakan rakyat banyak? Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari seorang pemimpin, di Jakarta nanti dalam konteks pilgub DKI Jakarta ini? Perubahan macam apa yang Anda impikan?

Idealnya tentu, yang seiman dan tidak korup, serta bisa mensejahterakan rakyat banyak.

Masalah besarnya adalah, sedikit yang mau peduli untukmempelajari ajaran agamanya sendiri. Kebiasaan motong satu ayat untuk satu kepentingan, tanpa merujuk ayat yang lain untuk mendudukkan perkaranya secara obyektif, menimbulkan kesan Islam itu eksklusif. Padahal, Islam itu Rahmatan lil alamin.

Ini terjadi ketika Ketua DPR, Marzuki Alie dikutip media ketika berkomentar, Jakarta ini kan mayoritas Islam. Jadi ya sesuai aturan agama saja. Harus pilih yang seiman. Pernyataan ini tentu menjadi penyebab kontroversi.

Ayat tentang memilih pemimpin seiman, memang dijelaskan dalam ayat ini:
"Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai ketua, sebagian terhadap sebagiannya. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai ketua, maka dia itu tergolong mereka, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. Maka kamu melihat orang-orang yang dalam hatinya itu ada penyakit, cepat-cepat pergi kepada mereka." (al-Maidah: 51-52)
Ditambah lagi kalau mengutip ayat ini:
"Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu jadikan musuhku dan musuhmu sebagai ketua, kamu tampakkan kepada mereka rasa cinta, padahal mereka telah kufur terhadap kebenaran yang datang kepadamu, mereka akan mengusir Rasul dan kamu juga, lantaran kamu beriman kepada Allah sebagai Tuhanmu." (al-Mumtahinah: 1)
Penjelasan yang menyejukkan saya dapat dari situs ini: media.isnet.org. Bahwa ayat-ayat ini, sebenarnya tidak mutlak, tidak mengenai setiap Yahudi dan Nasrani atau kafir. Kalau difahami demikian, niscaya akan terdapat kontradiksi antara ayat-ayat tersebut dengan yang mengundang supaya dijalin saling pengertian dengan baik dengan seluruh pemeluk agama.

Bahkan, ada seruan juga untuk ber-muwalat: bersahabat, dan mengangkat orang kafir sebagai ketua. Kenapa? Karena ada fakta bahwa orang kafir sekalipun, ada yang lebih mencitai kaum mukmin.
"Sungguh kamu akan menjumpai dari antara orang kafir yang lebih dekat cintanya kepada orang-orang mu'min, yaitu orang-orang yang mengatakan: kami adalah orang-orang Nasrani." (al-Maidah: 83)
Ini penjelasan yang obyektif, mengakui bahwa tidak selamanya kafir itu jahat, musuh, dan segala atribut buruk lainnya. Bahwa disarankan memilih pemimpin yang seiman, itu benar. Tetapi bukan syarat utama ketika ada pilihan lain yang kualifikasinya bagus, tetapi tidak seiman. Salah satunya tentu mereka yang tidak memusuhi Islam.

Anda, para pemilih sebaiknya memilih berdasarkan yang Anda pikir paling benar. Lupakan desakan soal seiman atau bukan, karena itu bukan dasar utama. Ini bukan persoalan Haram/Halal. Tetap halal bagi seorang muslim memilih pemimpin non-muslim, selama ia tidak memusuhi Islam, dan ia memang layak dipilih karena kemampuannya, amanah, bersahaja, dan jujur.

Selamat memilih.

Gambar: http://socialmedianz.com

-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar