13 Jul 2012

Kemenangan Jokowi-Ahok, Kemenangan Media Darling

Banyak yang berpendapat, Jokowi-Ahok menang karena prestasi mereka di masa lalu. Saya setuju. Jokowi terutama, membuat banyak terobosan yang hampir muskil kita temukan di antara para pemimpin di Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini.

Saat ini mereka memang belum resmi memenangkan putaran pertama, karena KPU belum merilis hasil perhitungan resminya. Kalau malam Jumat ini Foke-Nara berhasil mengutus pasukan Jin dan mengubah angka-angkanya, tentu kita akan melihat hasil berbeda di pengumuman KPU nanti, 20 Juli 2012.

Tapi saya juga tidak menampik pendapat yang menyatakan, Jokowi-Ahok adalah media darling. Media darling, bukan media, darling. Dengan atau tanpa PDIP-Gerindra di belakangnya, Jokowi punya amunisi yang kuat untuk memenangkan hati para calon pemilihnya. Itu kata saya ya.

Dari mana bisa ngomong begitu? Biasa lah. Ngomong dulu, baru dicari pembenarannya belakangan. Salah satu favorit saya adalah adalah Wikipedia *eh Mbah Google ding. Pencitraan Jokowi tidak kalah dahsyat dari pasangan lainnya, tapi yang penting adalah pencitraan yang dibuatnya selama ini cukup konsisten. Ia adalah figur yang merakyat. Sejak di Solo, citra itu sudah melekat padanya.

Ketika sampai di Jakarta, pencitraan ini semakin kuat melekat, apalagi kesenjangan antara "rakyat" dengan "setengah rakyat" di ibukota itu sangat tinggi. Jangankan dalam hal ekonomi, dalam dunia perbloggeran saja ada kelas rakyat dan elit *eh. Oke, oke, ini sedikit cuplikan data dari Google Trends, yang menampilkan ketertarikan pengguna internet terhadap nama Jokowi, kalau kita adu dengan yang tertarik dengan nama Foke.



Yang bertanda B itu, adalah artikel Jakarta Post: Jokowi, Ahok take a Kopaja to KPUD, 19 Maret 2012. Sejak hari itu, perhatian terhadap Jokowi meingkat tajam, meninggalkan Foke yang tidak menunjukkan peningkatan berarti. Dari jumlah berita yang memuat mereka berdua, sebenarnya cukup berimbang, hingga hari itu. Jokowi, lebih banyak mengisi berita, dan membuat perhatian para pengguna internet berpaling padanya.

Para pengguna internet ini sih kayaknya bukan penentu kemenangan Jokowi. Saya cuma mau menunjukkan bagaimana pencitraan Jokowi, punya pengaruh kuat terhadap persepsi masyarakat kepadanya. Dan seperti di awal, konsistensi menjadi penting. Bukan saja mempengaruhi jumlah pencarian dan tampilnya dalam media di Internet, di media sosial Jokowi juga jadi percakapan. Baik atau buruk, percakapan tentangnya memang tinggi, baik dari volume maupun jumlah "orang" yang terlibat. Itu kata data SX Indeks di Salingsilang.com.

Foke pernah tertangkap kamera sedang menggendong karung beras di pasar, tapi tetap saja citra kumis tebal bak jawara, melekat padanya. Sebagai jawara, Foke lebih suka memimpin sendiri, makanya Priyanto pun tak tahan mendampinginya. Itu bukan kata saya, tetapi ulasan seseorang entah dimana (mungkin di Politikana?) yang saya lupa namanya siapa, tapi saya mengamininya. Karakter budaya Betawi yang menginterpretasi pemimpin sebagai Jawara dan Ulama, itu menarik menurut saya.

Nah, begitu? Oh ya, foto dari sini: www.opuo.ru
-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar