15 Mei 2012

Juara Sejati Tak Mundur Karena Calciopoli



6 Mei 2012, Trieste. Beberapa saat sebelum wasit meniupkan peluit tanda pertandingan berakhir, juventini sudah bersorak sorai karena tahu AC Milan ditekuk Inter Milan dengan skor telak, 4-2. Kekalahan Milan itu, otomatis membuat persaingan menuju scudetto 2011/2012 selesai sudah. Allegri harus lempar handuk, karena dengan satu pertandingan tersisa, tak mungkin mengejar Juventus yang terpaut 4 poin.

13 Mei 2012, Juventus meresmikan scudetto ke-30 di kandang setelah menekuk Atalanta 3-1. Lalu kenapa banyak media menyebut tetap ke-28? Karena skandal calciopoli yang menuduh Antonio Giraudo dan Luciano Moggi, dua direktur Juventus pada periode itu (2005/2006), telah berbuat curang dengan mengatur hasil pertandingan melalui penentuan wasit yang memihak Juventus.

Scudetto kali ini jadi penuh makna bagi juventini sedunia, karena ini adalah pembalasan dendam lama. Serangan terhadap Juventus melalui calciopoli, jelas telah merusak prestasi salah satu klub terbaik Eropa ini. Padahal, saat calciopoli terjadi, tidak mempengaruhi prestasi Italia di Piala Dunia 2006. Marcello Lippi membawa Italia juara, dan itu sekaligus membuktikan, bahwa skuad Italia tidak butuh bantuan wasit untuk memenangkan pertandingan. Pemain Italia diving? Mungkin iya, dan itu memang tidak pantas dilakukan.

Mau tahu berapa jumlah pemain Juventus waktu itu di timnas Italia? (1) Gianluigi BUFFON; (5) Fabio CANNAVARO; (19) Gianluca ZAMBROTTA; (16) Mauro CAMORANESI; (7) Alessandro DEL PIERO. Lima pemain Juventus terlibat dalam pemenangan Piala Dunia 2006. Ini adalah kualitas yang diberikan Juventus pada timnas mereka. Juve, adalah salah satu klub yang tak pernah absen menyumbang pemain ke timnas Azzurri, hingga kini.

Karena skandal calciopoli, dua gelar Juventus dicabut oleh FIGC, PSSI-nya Italia, tepatnya gelar pada musim 2004/2005, dan 2005/2006. Saat itu Juve ditukangi Fabio Capello, pelatih bertangan dingin yang pernah membawa AS Roma dari klub yang biasa mentok di papan tengah menjadi juara liga. Soal rekornya di AC Milan, tak usah lagi diragukan.

Inter Milan, menjadi klub yang diuntungkan karena calciopoli, gelar 2005/2006 diberikan pada mereka. Banding Juventus dalam sidang calciopoli ditolak, dan FIGC tetap bersikukuh memberikan gelar musim itu pada Inter. Sementara gelar pada musim 2004/2005 resmi dihapus, tak diberikan pada klub manapun.

Luciano Moggi, dalam persidangan yang panjang, sudah mengemukakan banyak bukti bahwa skandal ini bukalah persoalan moral dan etika persepakbolaan di Italia, tetapi balas dendam Inter Milan. Fakta yang muncul di persidangan, bahwa petinggi Inter Milan, pernah makan malam bersama pengatur wasit, sudah dikemukakan tapi tak pernah dijadikan bukti untuk menghukum Inter.

Ribuan rekaman yang dibawa sebagai bukti persidangan, jelas menunjukkan bahwa tak ada hubungan khusus antara Juventus dengan para pengadil di lapangan itu. Semua petinggi klub sudah biasa berkomunikasi dengan para pengadil, dan tidak ada yang spesial dari rekaman tersebut. Justru fakta mengenai petinggi Inter, yang mengemuka dalam bukti-bukti itu.

Keterlibatan Inter dalam kasus ini sudah cukup jelas. Bocoran dari TIM ke Gazzetta dello Sport, dan pengambilalihan FIGC dari Andrea Galliani, bisa dibaca dari keterangan di blog juvefc.com berikut ini:

In 2006 the Calciopoli scandal was firstly ignited from the pages of a famous football newspaper in Italy called “Gazzetta dello Sport”, a newspaper with Carlo Buora on the board, a very important figure in the TIM (Telecom Italia) board of directors and a managing director in the company of Pirelli. This suspicious newspaper actually printed the transcripts of the conversations of Luciano Moggi and other rival clubs like Fiorentina, Lazio and Milan. This did not result in anything and they were not taken into consideration. Moratti hoped for media tittle-tattle and an attack to Juventus that would probably cause them a lot of harms.
The transcripts were however send to trials in Rome but there was no evidence of a possible scandal and it was concluded that no illegal action existed. Frustration increased and Moratti hoped for another media gossip so that rival clubs could be found guilty. 
Andrea Galliani, the then president of FIGC was forced to step down due to speculations and a suspicious guy named Guido Rossi took over the role.  He was rather quick in decisions, and as a known Inter fan he punished Juve with a relegation to Serie B.  Suspicions do not end here because his next decision was stepping down from FIGC and as already a shareholder in Inter; he took over TIM (Telecom Italia), the company that wiretapped Moggi’s phone calls. 
Massimo Moratti, the owner of Inter also appears to be in the board of TIM which increases uncertainties even more. Another gentleman named Tronchetti Provera, the owner of Pirelli actually owns TIM. So again, you want to tell me this is a coincidence?

Laporan dari goal.com, 17 Juni 2011, juga menguatkan, bagaimana modus kerja TIM yang sengaja memantau percakapan musuh-musuh Inter, untuk digunakan oleh tim Inter Milan. Sedemikian curangnya Inter, yang tampaknya frustasi karena sekian lama tidak merasakan scudetto.

Inter tetap tidak terkena hukuman apapun karena calciopoli. Juventus, harus terlempar ke Serie B, dan merangkak dari angka minus untuk bisa kembali ke Serie A. Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, Paolo De Ceglie, Pavel Nedved, Mauro Camoranesi, dan David Trezeguet, adalah bintang yang tak meninggalkan Juve di saat krisis ini. Kutipan kalimat Ale sungguh menyentuh kala itu, "A true gentleman never leaves his lady. (Un vero cavaliere non lascia mai una signora)".

Rasa puas menjadi scudetto kali ini, tak terbayangkan besarnya jika mengingat sakitnya ditendang ke Serie B. Menjadi scudetto dengan rekor tak terkalahkan sepanjang musim (total 42 pertandingan dari semua ajang), menjadi tim dengan kebobolan paling sedikit, dan dari gol yang hampir selalu dihasilkan dari keringat sendiri, bukan mengandalkan gol dari penalti. Sebuah rekor yang bisa mengobati berbagai sandungan selama ini.

Hanya satu hal yang menyebabkan kesedihan juventini, perginya Ale, Il Grande Capitano. Del Piero dipastikan tidak memperpanjang kontraknya dengan Juventus. Meski hampir seluruh fans di muka bumi tidak menginginkan Del Piero pergi, dan masih berharap ada keajaiban dari Direktur Juventus untuk menawari Ale kontrak satu musim lagi.



Selamat Juventus, selamat Juventini. Scudetto musim ini adalah bukti, bahwa si Nyonya Tua adalah juara sejati.

Picture Courtesy of www.ilpost.it

-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar