1 Mar 2012

Menyoal Agresifitas Kita


Tulisan ini aslinya saya buat setelah kerusuhan Koja di Jakarta. Kerusuhan, kekerasan massal, sepertinya sudah jadi menu utama dalam hidangan perseteruan di antara masyarakat kita. Belakangan, kasus pembantaian jemaat Ahmadiyah, kerusuhan di Temanggung, Mesuji, dan bentrokan FPI-Masyarakat Dayak di Kalimantan, kembali mengulang catatan kekerasan yang sama. Tidak dulu, atau sekarang. Apakah kita sudah gagal mengawal kebhinekaan?

API dalam sekam. Bangsa ini ternyata diam-diam masih menyimpan dendam. Mungkin bangsa ini memang tipe pendendam, mirip Gajah. Padahal yang punya simbol Gajah adalah negara tetangga. Cukup dengan sedikit bensin dari kaleng tua karatan, api dengan mudah tersulut, membakar apa saja di dekatnya.

Perilaku agresif yang dipertontonkan belakangan ini, paling tidak dalam dua kerusuhan besar yang sangat merugikan, ditenggarai bersumber dari kekesalan yang tersumbat. Kasus Koja misalnya, melibatkan Satpol PP yang sejak lama memiliki citra penindas wong cilik. Kerusuhan Batam, katanya dipicu kalimat bernada penghinaan terhadap orang Indonesia. Dan masih banyak lagi catatan kekerasan yang melibatkan agresifitas massa, dengan beragam latar belakang.

Istilah Agresifitas, adalah istilah umum yang dikaitkan dengan adanya perasaan-perasaan marah atau permusuhan atau tindakan melukai orang lain, baik dengan tindakan kekerasan secara fisik, verbal, maupun menggunaka ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang mengancam atau merendahkan. Tindakan agresi pada umumnya merupakan tindakan yang disengaja oleh pelaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ada dua tujuan utama agresi yang saling bertentangan satu dengan yang lain, yakni (1) untuk membela diri, dan (2) untuk meraih keunggulan dengan cara membuat lawan tidak berdaya.

Paling tidak itulah penjelasan yang bisa saya temukan. Kalau di sana disebutkan, dua tujuan agresi itu bertentangan, saya melihat terkadang peristiwanya terjadi secara beruntun. Semua pihak yang merasa "tertindas", membuat pembelaan diri sebagai motif dan pembenaran. Bahwa pihak yang dirugikan merasa perlawanan adalah bentuk pembelaan diri, maka membalas adalah bentuk reaksi terhadap mereka yang menyerang duluan. Begitu biasanya alasan yang mengemuka.

Tetapi kalau diperhatikan, bentuk pembalasan tersebut efeknya jauh lebih mengerikan daripada penyebabnya sendiri. Pihak tertindas dengan beringas bisa menghancurkan apa saja, seolah-olah mau berkata, "Kami bukan orang lemah!" Ini sama saja dengan manifestasi terhadap perasaan ingin menaklukkan, meraih keunggulan dari pihak yang dianggapnya musuh. Kemenangan, pada akhirnya selalu menjadi simbol kekuatan.

Perilaku agresif, bisa datang dari mana saja. Ada penyebab internal, dan eksternal. Penyebab internal yang dimaksud datang dari dalam diri manusianya. Faktor-faktor yang datang dari dalam ini, atau faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi seperti yang ditulis di artikel Faktor Penyebab Perilaku Agresif (mengutip Davidoff, 1991) tersebut adalah:

  • Gen, faktor yang berpengaruh pada pembentukan system neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya. 
  • Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi, ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana, marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang system limbic (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott (dalam Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang pernah mengalami kesenangan, kegembiraan, atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman atau penghancuran. Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cidera otak karena kurangnya rangsangan sewaktu bayi. 
  • Kimia darah, khususnya hormon seks yang sebagian ditemukan pada faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen, seorang ilmuan menyuntikkan hormone testoteron pada tikus dan beberapa hewan lain (testoteron merupakan hormone androgen utama yang memberikan cirri kelamin jantan). Tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan semakin kuat. Sewaktu testoteron dikurangi, hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid. 


Entah faktor yang mana mendominasi bangsa kita. Apakah kita memang mewarisi gen agresif itu dari nenek moyang kita? Ataukah karena kita tidak pernah, atau jarang mendapat stimulasi untuk dapat menikmati sesuatu hal? Atau sebenarnya kita hanya sedang kelebihan hormon? Sementara, di luar manusianya masih banyak faktor yang juga memicu agresifitas.

Dikutip dari artikel yang sama di atas, juga ada penjelasan mengenai faktor lingkungan penyebab agresifitas, antara lain:

  1. Kemiskinan. Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan (Byod McCandless dalam Davidoff, 1991). Dalam situasi kemiskinan, sikap agresif mudah terpicu, terutama karena ada persoalan perut yang sangat mendasar. Demi makan, orang bisa melakukan apa saja. Bahkan demi gaya hidup, kemiskinan yang membuat sekelompok masyarakat terpinggirkan, bisa memicu agresifitas. Anak-anak dengan mudah akan memodelkan perilaku lingkungannya ke dalam dirinya. Regenerasikemiskinan, akan berpotensi meningkatkan tingkat agresifitas. 
  2. Anonimitas. Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri). Bila seseorang merasa anonim ia cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain. 
  3. Suhu udara yang panas. Pada tahun 1968 US Riot Comission pernah melaporkan bahwa dalam musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresifitas massa lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et al, dalam Sarlito, Psikologi Lingkungan, 1992) 


Kemiskinan, dan kesenjangan yang lahir dari kemakmuran, menempatkan dua pihak ini menjadi seteru. Kadangkala si miskin merasa si kaya perampok, begitu pula yang kaya merasa si miskin pengemis. Muncullah gerakan-gerakan melawan "si kaya", yang telah dianggap merampok hak-hak si miskin, dan telah memiskinkan mereka. Ketika si kaya kita ganti dengan istilah kapitalis, kapitalis kita hubungkan dengan barat, barat kita hubungkan dengan londo, dan dengan seribu satu asosiasi negatif yang lain, maka dengan mudah kita bisa menyulut kerusuhan.

Kerusuhan massal, bisa menjadi salah satu arena para anonimers ini. Dalam kerumunan, individu yang tadinya tampak kalem bisa mendadak beringas. Mereka merasa, kalau dilakukan bersama-sama, sulit mencari siapa yang harus bertanggung jawab. Karena mudah lari dari tanggung jawab, maka menjadi anonim dalam kerumunan adalah pilihan menarik. Kerumunan itu mungkin punya motif yang berbeda, punya dendam yang berbeda, tapi bisa dengan mudah melebur dalam amuk massa.

Keropos di dalam, tidak kondusif di luar; jelas bukan perpaduan ideal untuk kondisi kebhinekaan kita. Sementara kegiatan menstimulasi kemampuan untuk menikmati sesuatu, mengapresiasi sesuatu, ternyata masih menjadi barang langka. Arena-arena itu harus dibuat lebih banyak, dilakukan lebih sering, dan kalau bisa sedini mungkin. Mengapresiasi perbedaan, dengan selalu menempatkan sikap empati - put ourself in other's shoes - memang perlu latihan, dan tentu saja kesabaran, dan kerja keras. 

Terakhir, saya ingin ceritakan salah satu adegan dalam film The Burning Season. Chico Mendes yang memimpin aksi melawan pembabatan Hutan Amazon, memberi instruksi untuk tidak melawan, bahkan ketika mereka dipukuli. Sebelum berangkat beraksi, ia bahkan merazia semua bentuk senjata. Aksi utamanya hanyalah menjadi perisai hidup bagi pohon-pohon yang akan ditebangi pihak korporasi karena ingin membangun jalan, membelah hutan Amazon.

Chico Mendes memang akhirnya mati, setelah sebelumnya menolak sepucuk pistol yang disodorkan seorang teman kecilnya, dengan saran untuk membela diri. Ini sama sekali bukan tindakan pengecut, atau penakut, ini adalah bentuk perlawanan terhadap kekerasan dan penindasan. Karena tidak mungkin melawan penindasan dan kekerasan, dengan kekerasan yang lain, kawan.


-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar