20 Mar 2012

Mending Lapor Polisi Atau Selesaikan Secara Kekeluargaan?

Ini sekelumit perjalanan pulang dari kampung. Di tengah perjalanan, ketika sedang berhenti di lampu merah di daerah , mobil yang saya kendarai ditabrak dari belakang. Alhasil, kaca lampu pecah, dan sisi kiri bumper mobil baret terkena cat si motor.

Saya marah. Jelas-jelas saya sedang berhenti, bukan ngerem tiba-tiba. Saya yakin benar si motor ngantuk atau teledor. Dan memang, pengakuan si penabrak, dia sibuk melihat rambu petunjuk arah, dan tidak sadar kalau di depan ada lampu merah dimana kendaraan sedang berhenti.

Kebetulan di sisi jalan, ada beberapa orang bapak-bapak yang punya toko meubel, dan menengahi kasus kami. Ia menyarankan supaya kami selesaikan secara kekeluargaan saja, karena ke kantor polisi bisa kena biaya yang cukup untuk perbaikan kedua kendaraan.

Saya tertegun.

Akhirnya, saya hanya menahan KTP si penabrak, dan menjanjikan akan menyerahkan kembali KTP ini setelah urusan dengan bengkel selesai. Saya tidak menuntut penggantian seluruh kerusakan, tapi kalau biaya dari bengkel sudah keluar, saya minta dia ikut bertanggung jawab. Itikad baik darinya buat saya sudah cukup.

Sesampai di rumah, saya masih terngiang kata-kata si bapak di jalan tadi. Iseng, saya browsing ke internet, lalu saya dapati kisah serupa ditulis oleh para blogger. Salah satunya di Kompasiana, ketemulah sebuah tulisan berjudul Menyesal Saya Lapor Polisi.

Intinya kurang lebih sama. Ia merasa tidak salah, lalu ditabrak oleh pelanggar lalu lintas. Setelah debat, merekapun akhirnya ke Polisi, tapi pada akhirnya harus menebus motor dengan harga tertentu. Ia jadi menyesal, karena uang tebusan itu bisa untuk menambahi perbaikan motornya yang rusak parah. Lha, prosedur seperti apa yang seharusnya dilalui?

Saya jadi merenung...

Untunglah tidak ada korban jiwa dalam kasus saya, seandainya ada, apakah penyelesaian secara kekeluargaan bisa mengganti nyawa yang melayang? Meski diproses secara hukum juga tidak akan mengembalikannya, tetapi ganjaran yang harus dibayar atas sebuah keteledoran, adalah preseden bagi pelaku di masa depan. Berhati-hatilah di manapun, termasuk di jalan raya. Tidak mematuhi aturan, bisa mengakibatkan kerugian pihak lain, bukan cuma Anda sendiri!


Keteledoran si pengendara motor yang menabrak saya, itu menjengkelkan. Tapi musibah memang musibah, yang rusak tetap harus diperbaiki, dan seharusnya bisa dicegah terulang kembali. Tapi kalau fakta seperti tulisan di Kompasiana itu yang terjadi, lalu buat apa hukum di negeri ini?

Jangan-jangan kasus korupsi pun diselesaikan dengan cara "kekeluargaan"...


-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar