22 Jan 2012

Mendewasakan Demokrasi - Edisi Revisi

Lagi-lagi, tulisan lama yang saya daur ulang, dengan perbaikan di sana-sini...

Tidak ada garis pembatas yang jelas dalam masyarakat modern yang memberi indikasi kapan seorang pribadi menjadi orang dewasa. Pada beberapa masyarakat primitif, pembatas tersebut bisa berupa ritual inisiasi yang mengantar seseorang pada masa kedewasaan. Biasanya masa dewasa dimulai pada awal duapuluhan (yang ditandai dengan beberapa peristiwa penanda) dan berlanjut hingga akhir hayat.

Kedewasaan, biasanya diproses melalui pendidikan. Itulah fungsi pendidikan dasar, yang biasanya diberlakukan hingga anak berusia 17 tahun. 18 tahun ke atas, ia akan dipandang sebagai "orang dewasa mula", yang sudah memungkinkannya menentukan nasib sendiri. Lagipula, dalam proses remaja menuju dewasa, mereka akan cenderung mengurangi atau bahkan menghilangkan (disengage) dari pengaruh orang dewasa yang selama ini "mengendalikannya." Setting lain pendewasaan, tentu pengalaman hidup.

Menjelang dewasa, seseorang sudah melalui bertahun-tahun kehidupan, dan ia mengalami banyak hal dan belajar dari pengalaman itu. Sebagian orang bahkan membentuk dirinya, sikapnya, dan perilakunya berdasarkan pengalaman empirik tersebut, meski usianya masih sangat muda. Pengalaman, adalah sesuatu yang nyata yang dapat dialami sendiri, dan ini seringkali dijadikan sumber belajar yang utama bagi orang dewasa.

Orang dewasa punya kebutuhan hidup yang mendorong dirinya melakukan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan status sosialnya. Ketika kehidupan berubah-ubah, kebutuhan itu akan muncul, sehingga ini adalah saat terbaiknya untuk belajar. Biasanya orang dewasa menginginkan pengetahuan yang spesifik, tepat sesuai dengan kebutuhannya. Contohnya, ketika pertama kali bekerja di sebuah perusahaan, orang cenderung belajar untuk beradaptasi secara alamiah, ketika di tempat kerja ada peralatan baru, maka ia dituntut mempelajari penggunaannya.

Ketika menjadi dewasa, terjadi perubahan orientasi dalam belajar, dari belajar karena diwajibkan dan setengah terpaksa, menjadi belajar untuk memecahkan masalah yang dihadapi atau mampu melakukan sesuatu. Artinya, ia akan berorientasi pada materi belajar yang bisa diterapkan segera setelah kegiatan belajar selesai, bukan pengetahuan yang tertunda, seperti teori-teori para ilmuwan. Orang dewasa tidak belajar berdasarkan prioritas ilmu pengetahuan, tetapi berdasarkan urutan tindakan pemecahan masalah. Meski demikian, orang dewasa memiliki toleransi yang relatif lebih tinggi dalam hal menerima pengetahuan tertunda, daripada anak-anak/remaja.

Motivasi belajar orang dewasa lebih cenderung tumbuh dari dalam dirinya sendiri, daripada karena pengaruh di luar dirinya. Kondisi ini bukan sesuatu yang alami, tetapi memang terkondisi, terutama dalam konteks sekolah. Motivasi ini akan sulit dipaksakan, meskipun bisa, dan akan menghambat proses pembelajaran, karena pada dasarnya orang dewasa menolak belajar dengan cara keharusan/paksaan tanpa rasionalisasi yang jelas bagi mereka.

Ketika orang dewasa harus kembali belajar, ia tidak bisa dipandang sebagai anak-anak dengan tubuh yang luar biasa besar. Mereka adalah orang dewasa, dengan karakteristiknya. Seseorang menjadi dewasa ketika merasa memiliki kekuasaan atas dirinya, mampu membuat keputusan untuk dirinya sendiri, dan bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. Orang dewasa tidak suka/keberatan kalau diperintah terus menerus, dan hanya menurut seperti anak-anak. Orang dewasa membutuhkan informasi untuk dapat mengambil keputusan, dan bertindak menurut pertimbangannya sendiri.

Dari karakter di atas, maka terdapat perbedaan yang khas antara anak-anak dengan orang dewasa. Tentu kita masih ingat ketika SD-SMA, apa motivasi utama kita pergi ke sekolah? Siapa yang mengendalikan proses belaja kita? Kenapa kita lebih suka menunggu waktu liburan? Tapi bandingkan, apa yang terjadi jika kita mengerjakan sesuatu yang memenuhi passion kita?

BELAJAR atau mempelajari sesuatu berdasarkan kebutuhan dan ketertarikan, adalah fitrahnya orang dewasa. Buat mereka, mempelajari sesuatu harus menguntungkan, atau menghindarkan sesuatu yang merugikan terjadi, meski bisa dilihat dari berbagai sisi. Misalnya mengenai apa yang ia ingin capai, lingkup ketertarikannya bisa mulai dari kesehatan, hingga masalah pencapaian diri. Mengenai figur seperti apa yang mereka cita-citakan, bisa mulai dari menjadi orang tua yang baik, hingga selalu menjadi yang nomor satu. Apa yang mereka ingin lakukan, bisa berkisar dari ekspresi diri, hingga hingga mendapat perhatian orang lain. Berdasarkan apa yang mereka ingin minimalisir, mulai dari pemanfaatan waktu hingga menghindari dipermalukan di depan publik.

Tapi secara umum, pengaruh terbesar bagi orang dewasa untuk belajar adalah persoalan sosioekonomi. Ini membangun motif, yang akan cenderung pada persoalan pekerjaan yang layak, pendapatan, baru pada peningkatan derajat pendidikan. Masyarakat di "kelas" terendah dalam hal sosioekonomis, akan menempatkan pencapaian derajat pendidikan tinggi dalam prioritas yang rendah. Mereka akan cenderung pada topik-topik keseharian, dan jangka pendek, seperti meningkatkan pendapatan, atau mendapat pekerjaan yang lebih 'enak'.

Jadi dimana letak demokratisasi dalam tatanan kehidupan masyarakat kita?

Saat ini bisa dikatakan masih pada level demokrasi yang bisa 'meningkatkan pendapatan', atau menawarkan pekerjaan lebih 'enak'. Kalau pada masa dewasa ini kita harus belajar berdemokrasi, sudah tidak ada setting sekolahan yang layak digunakan. Yang ada tinggal ranah informal. Dimana seharusnya pendidikan politik? Pendidikan berdemokrasi itu?

Pekerjaan rumah besar bagi sistem pendidikan dasar untuk membereskan itu, atau kita hanya akan berputar-putar pada persoalan demokrasi prosedural. Tapi pendidikan dasar malah mengkhianati cita-cita demokrasi, terutama karena UUD 45 sudah menetapkan DEMOKRASI PANCASILA sebagai model negara kita. Pendidikan kita baru sampai pada tahap 'menghafalkan' nilai-nilai, bukan pada pemahaman dan penerapannya. Butir-butir Pancasila sibuk didaftarkan dan dihafalkan, karena akan diujikan secara tertulis.

Upaya pendidikan dasar yang seharusnya diarahkan pada demokratisasi, terkadang malah terjebak pada pendidikan ala otoritarian, kental dengan feodalisme, bahkan ada yang sektarian. Rupanya virus Orde Baru tidak sepenuhnya mati di era reformasi ini, dan sebagai sebuah virus, memang tidak pernah ada obat yang sanggup membunuhnya. Yang ada adalah upaya melemahkannya, dan menjadikannya sebagai vaksin. Ya, kita butuh vaksin anti-feodalisme dan otoritarian ala Orde Baru kalau mau benar-benar mendewasakan demokrasi.

Tetapi karena tuntutan perut, pendidikan dasar dan menengah kita justru malah didorong ke arah vokasional, dengan justifikasi menekan angka pengangguran. Kurikulum pendidikan dasar dipenuhi gagasan kewirausahaan. Pemerintah sibuk mendorong iklan-iklan sekolah teknik menengah, STM, digembar-gemborkan seolah bisa menjawab persoalan pengangguran. Padahal persoalan baru akan muncul, karena lulusan STM hanyalah para dewasa muda, yang dipaksa menjadi dewasa karena negara perlu mengubah statistik pengangguran. Jenjang pendidikan dengan masing-masing fungsinya, sudah hampir tidak jelas tahapannya.

Padahal sederhana saja. Ada kemampuan lifeskill yang harus ditumbuhkan di pendidikan dasar hingga menengah. Lifeskills bukan vocational skills, karena kita seharusnya punya diploma yang bisa dipilih beradasarkan minat siswa selepas sekolah menengah. Bermodal ijazah sekolah menengah atas, asumsinya ia sudah siap menjadi manusia dewasa seutuhnya. Bermodal sertifikat diploma, ia bisa menentukan keahlian apa yang ingin ditekuninya.

Demokrasi, bukanlah kemampuan vokasional, tetapi ia adalah kemampuan menjalani hidup, to be a complete human being.

-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar