7 Okt 2011

Marzuki Alie Nggak Mungkin Serius

zazzle.com
Ketua DPR RI itu bikin rame lagi. Gara-gara hasil Komite Etik KPK terus jadi polemik, dia bilang kalau hukum nggak ada yang mau percaya, coba pake lie detector atau sumpah pocong. Sumpah Pocong??

Plis deh ah...

Yang menarik perhatian saya, bukan sekedar sumpah pocongnya, tapi kenapa kalimat MA tentang Komite Etik KPK yang merambah soal pidana, tenggelam begitu saja oleh sumpah pocong? Lebay-nya media kayaknya memang udah parah, separah-parahnya. Substansi pernyataan MA jadi kabur, dan tersisa bubuk umbo rampe nya saja.

Saya bukan pendukung MA. Terkadang dia memang nyebelin. Tapi kali ini pelintiran media bener-bener aneh. Kalau mau diperiksa hasil keputusan Komite Etik KPK itulah yang tampak aneh. Tapi saya juga bukan ahli hukum, jadi ini penalaran biasa saja.

Coba pake logika.

Komite Etik, seharusnya hanya membuat pernyataan seputar etika. Tetapi dalam laporan hasil Keputusan Komite Etik KPK itu, pernyatannya eksplisit mengatakan bahwa terperiksa bebas dari indikasi tindakan pidana. Lha, kok jadi hakim yang memutus perkara pidana di pengadilan? Coba lihat kutipan dari Vivanews ini:
Pertama, Muhammad Busyro Muqoddas. Putusannya adalah, Komite Etik beranggapan tidak ditemukan indikasi pelanggaran pidana maupun pelanggaran kode etik pimpinan yang dilakukan oleh terperiksa. Dengan demikian, terperiksa dinyatakan bebas, tidak bersalah, atas semua hal yang dipersangkakan pada dirinya. Keputusan ini diambil dengan suara bulat.
Semua terperiksa diuraikan dengan penjelasan yang hampir sama, menyinggung persoalan pidana. Bener kata MA, bahwa urusan pidana ya wilayahnya penegak hukum. Pemutusnya ya hasil sidang pengadilan, apakah divonis bebas, atau divonis penjara. Kalau persoalan pelanggaran etika, ya itu jelas wewenang mereka. Judulnya saja Komite Etik.

Kesimpulan dari kalimat MA itu buat saya, sebenarnya justru menyindir Komite Etik yang berani membuat pernyataan tidak adanya pelanggaran pidana (pernyataan hukum), tanpa pengadilan. Kalau Komite tidak percaya pada hukum untuk menentukan siapa salah dan benar, sudah aja pake sumpah pocong. Mungkin... mungkin begitu maksudnya MA.

Kali ini, dan juga mungkin kali yang lalu, MA pun jadi sasaran tembak. Kalimat Kang Jalaludin Rahmat terus terngiang di kepala saya. "Media (TV) memang paling pintar memilah berita yang sampah dan bukan sampah, dan menayangkan sampahnya saja." Anda salah, Kang Jalal.

Ternyata bukan cuma TV yang kelakukannya begitu.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar