8 Sep 2011

Hari Literasi Internasional: Bagaimana Mengajarkan Orang Dewasa Membaca


September 8 was proclaimed International Literacy Day by UNESCO on November 17, 1965. It was first celebrated in 1966. Its aim is to highlight the importance of literacy to individuals, communities and societies. On International Literacy Day each year, UNESCO reminds the international community of the status of literacy and adult learning globally. Celebrations take place around the world. Some 774 million adults lack minimum literacy skills; one in five adults is still not literate and two-thirds of them are women; 72.1 million children are out-of-school and many more attend irregularly or drop out.

- UNESCO

Literasi, dalam program pemerintah seringkali diterjemahkan lurus menjadi program Calistung, Baca-Tulis-Hitung. Paling tidak itulah program awal yang berkaitan dengan literasi, karena memang yang menjadi target adalah angka melek-huruf rakyat Indonesia. Standar minimum melek huruf di Indonesia memang bisa membaca, baik itu huruf latin, dan/atau huruf Arab.

Berdasarkan informasi di web tempointeraktif.com, pada semester pertama 2006, jumlah buta aksara mencapai 8,36 persen atau 3.182.492 orang. Pemerintah menargetkan buta aksara usia 15 tahun ke atas, turun menjadi 5 persen pada 2009. Masih banyak lagi berita tentang buta huruf, atau buta aksara yang terdokumentasi di tempointeraktif, periksa saja tautan ini.

Belakangan, dari situs Dikmas Kemendiknas, ada kutipan dari media bahwa angka buta aksara kita, kata Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh, mencapai 4,8 persen dari jumlah penduduk. Itu setara dengan 8,5 juta jiwa. 60 persen dari 8,5 juta jiwa tersebut adalah kaum perempuan. Biasanya kemampuan membaca tidak benar-benar nihil, tetapi hilang karena setelah lulus kelas 3-4 SD, kegiatan membaca hilang dari kegiatan sehari-hari.

Satu hal yang mungkin sering dilupakan dalam kaitannya dengan kemampuan membaca, adalah kemampuan menulis. Seringkali fokus utama melatih anak membaca, adalah memaksakan bahan bacaan. Banyak yang lupa, bahwa sekedar bacaan, tanpa ada tindak lanjutnya, akan membuat anak bosan. Membaca seharusnya menjadi aktifitas yang berkelanjutan, karena ada kepentingan dibaliknya. Kecuali kita bicara tentang orang-orang yang memang gemar membaca.

Melatih ketertarikan untuk membaca, bisa dimulai dengan aktifitas menulis. Apalagi sekarang media untuk menulis tersedia dimana-mana secara gratis. Koran-koran rajin mengajak anak sekolah mengadakan kegiatan menulis, apalagi di internet, menulis bisa dilakukan lewat blog, atau layanan semacamnya. Dengan menulis, anak bisa didorong untuk membaca. Ketika blogging, anak bisa diminta mencari informasi sebagai bahan blogging, baik itu dari koran, majalah, buku, atau di internet sendiri. Hal ini bisa berlaku juga bagi orang dewasa yang sulit membaca.

Membiasakan Membaca Bagi Orang Dewasa

Angka buta aksara banyak disumbangkan oleh kalangan orang dewasa. Karena itu ada upaya Kejar Paket A, pendidikan non-formal yang ditujukan untuk orang dewasa yang belum bisa membaca. Tapi Paket A ini sekarang sering digunakan untuk penyetaraan, sehingga kurikulumnya malah terjebak dalam kesetaraan dengan pendidikan formal yang notabene untuk anak usia sekolah. Lalu harus bagaimana?

Di suatu desa di Tasikmalaya, pernah ada sekelompok ibu-ibu yang ketika berkegiatan untuk isu kesehatan anak, tidak mampu membaca KMS (Kartu Menuju Sehat). Sebagian lagi bahkan tidak bisa membaca rapot sekolahan anaknya. Bagaimana ia akan mengontrol kesehatan dan pendidikan anaknya, jika membaca saja sulit? Apa yang bisa dilakukan?

Ibu-ibu itu kemudian diminta membuat jurnal. Kecil saja, mulai dari membuat daftar belanja, menuliskan catatan kesehatan si anak (kapan sakit, apa yang terjadi, dst.). Setip minggu, ketika kumpul dengan pendampingnya, catatan ibu-ibu tersebut diperiksa bersama-sama. Mereka boleh cerita, kesulitannya apa, senangnya apa, lalu bersama-sama dibahas.

Cara itu di awal kegiatan memang sulit, tetapi lama-lama ketika sudah mulai terbiasa, mereka bisa membangun kebiasaan membacanya sendiri. Jangan harapkan ia langsung doyan baca koran setiap hari. Kebiasaan seperti itu tidak mungkin dibangun dalam hitungan bulan, dan juga tidak dalam kondisi lingkungan yang serba terbatas akses informasi.

Yang perlu diperhatikan dalam membantu mereka menulis, adalah membuat kegiatan rutin yang 'memaksa' mereka membuat tulisan. Sependek apapun tulisan itu. Tahap demi setahap, tugasnya mulai dibuat kompleks, hingga suatu saat mereka bahkan tidak sadar, sudah mampu membuat surat beberapa paragraf.

Mengumpulkan mereka dalam satu kelas, lalu diajari menulis dan membaca layaknya anak SD, bukan pendekatan yang tepat. Mereka adalah orang dewasa, yang ketika melakukan sesuatu butuh pembenaran. Mereka hanya akan melakukan sesuatu yang memberi mereka benefit, kalau perlu profit dalam jangka pendek. Hal ini alamiah, dan wajar saja dalam pemikiran orang dewasa.

Jadi, kejar paket A, yang biasanya diperuntukkan orang dewasa, jangan menggunakan kurikulum sekolah formal.  Sekolah formal memiliki tujuan pendidikan yang berbeda dengan pendidikan untuk orang dewasa. Jane Vella, salah seorang tokoh pendidikan orang dewasa dengan pendekatan dialogue education, bahkan sangat ekstrim menerjemahkan kebutuhan ini. Buat dia, pendidikan orang dewasa harus menyelesaikan masalah mereka, pada saat itu juga. Tidak ada istilah berjenjang untuk pendidikan bagi orang dewasa.

Hari ini 8 September 2011. Entah masih ada atau tidak yang merayakan Hari Literasi Internasional ini dengan merefleksikan lagi, bagaimana metode pembelajaran kita pada orang dewasa agar mereka tidak lagi buta aksara. Apalagi sekarang literasi sudah berkembang karena adanya teknologi informasi dan komunikasi baru. Semoga masih ada.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar