24 Sep 2011

Demi Tuhan, Mereka Masih Anak-anak!

Sebenarnya masih banyak masalah lain yang lebih penting daripada terus-menerus meributkan kasus 'SMA 6 Jakarta vs Wartawan' ini. Tapi lama-lama kuping dan mata saya gatel juga menyimak berita di media massa dan media sosial yang terus menyudutkan para siswa, seolah mereka-lah yang paling layak diganjar caci maki dan kecaman.

Bukan soal siapa yang salah, karena di mata saya dua-duanya salah. Kekerasan itu sama sekali bukan jalan keluar, dan yang harus diingat, kekerasan bukan cuma yang bersifat fisik. Kekerasan dalam bentuk psikis juga bentuk kekerasan, bahkan dampaknya mungkin lebih permanen dan fatal. Bahwa telah terjadi kekerasan di antara kedua pihak, maka keduanya tidak patut merasa paling benar.

Tapi ancaman penjara bagi anak-anak yang diduga terlibat, menjadi ganjalan di hati saya. Masuk penjara, bukan cuma hukuman fisik yang mereka akan terima, tapi juga hukuman mental yang luar biasa. Buat saya, memasukkan anak ke penjara yang tak ramah anak sama saja mendidik mereka menjadi preman baru, dengan teknik baru yang lebih mengerikan. Penjara, bukan jawaban bagi anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Percayalah. Ini penjara, bung!

Dan, demi Tuhan, mereka itu masih anak-anak!

Kalau Anda belum pernah masuh ke rutan, dimana para pesakitan menunggu vonis pengadilan, cobalah berkunjung ke rutan, misalnya di Kebonwaru, Bandung. Di sana tahanan anak dan orang dewasa berada dalam satu lingkungan. Apa yang saya lihat adalah, anak-anak itu menjadi bulan-bulanan para tahanan dewasa. Tak perlu detilnya apa saja yang mereka alami di sana. Pertanyaannya, siapa yang akan bela mereka di dalam sana?

Sekali-kali, bermainlah dengan mereka. Tanya apa perasaan anak-anak yang harus masuk ke rutan. Dengarkan baik-baik keluhannya. Lalu cobalah berempati pada situasi yang dihadapinya. Sebutlah satu kasus, dimana seorang anak menusuk polisi. Orang boleh bilang anak itu biadab, anak setan, kriminil, atau apalah. Tapi siapa yang mau peduli bahwa ia melakukan itu karena berkali-kali ayahnya diperlakukan tidak layak oleh si oknum polisi? Kalau Anda berharap anak itu berpikir jernih layaknya orang dewasa, yang ia lakukan adalah melapor ke polisi. Lalu apa yang akan ia dapat?

Ayahnya bukan pejabat, atau preman yang dicekoki duit aparat. Ia bukan anak sekolahan yang pulang pergi ke sekolah disupiri mobil pribadi. Bermimpi pun tidak mungkin untuk bisa belajar di sekolah yang jalan di sekitarnya habis buat parkiran.

Saya tidak bilang anak-anak yang berkonflik dengan hukum itu tidak boleh dihukum. Kesalahan harus dibayar. Tetapi caranya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau berurusan dengan anak. Anak itu lebih banyak berbuat karena emosinya daripada akalnya. Beda dengan yang sudah bangkotan, seperti koruptor yang melakukan kejahatan dengan penuh kesadaran.

Bagi anak atau remaja, pertemanan adalah nomor satu. Ia hidup karena kebanggaan yang dibangunnya dalam komunitas. Gengsi mereka nomor satu. Pilihan untuk bisa eksis buat mereka adalah menunjukkan apa yang dihormati di komunitas itu. Tapi tak semua punya uang untuk dipamerkan, petantang-petenteng bawa gadget sebagai simbol kelas sosial, atau gerang-gerung mesin motor - mobil sambil boncengan bersama pasangan.

Sialnya, komunitas seperti geng motor atau sejenisnya adalah tempat yang ideal untuk mendapatkan pengakuan. Di tempat seperti itulah mereka bisa diterima. Di sana tidak ada yang nanya, "BB-mu model apa? Sudah pernah pake aplikasi ini itu belum?" Mereka lebih peduli dengan berapa kali dikejar polisi di jalan tapi lolos, atau berapa banyak hasil jarahan di jalan yang bisa diuangkan untuk modal mabok bareng.

Sekarang Anda bisa tebak, apa yang mereka banggakan kalau keluar dari penjara?

Banyak kasus ketika anak di penjara, orang tuanya tak sudi datang menjenguk. Maka keluar dari penjara, mereka tak tahu harus kemana. Menggelandang adalah jalan keluar. Tak usah menunggu bertahun-tahun, dalam hitungan bulan ia akan muncul lagi di rutan, dengan kasus yang lebih serius. Di Indonesia ini, anak masuk penjara itu seperti jalan satu arah. Sekali masuk, keluar itu hanya sementara.

Mendekati orang tua pernah dilakukan teman-teman ketika mendampingi anak di rutan. Pada sesi tertentu, kami minta ia membuat surat untuk orang tuanya atau sekedar surat curahan hati mereka. Lalu ada teman yang akan menyampaikan surat-surat itu kepada orang tua mereka. Tidak sedikit yang menolak membaca, tapi tak sedikit pula yang bercucuran air mata membaca surat lugu anak-anak itu.

... *mbrebes mili*...

Dalam satu diskusi kecil bersama teman ketika memperhatikan perkembangan kasus Anak SMA 6 vs Wartawan ini, kami membayangkan seharusnya sekolah-sekolah lain mulai peka. Ajaklah anak-anak itu mengenal profesi kewartawanan. Pertemukan mereka lebih sering, dalam kegiatan yang positif. Kenalkanlah mereka dengan etika jurnalisme, peran jurnalisme dan media, dan cerita-cerita di lapangan tentang perjuangan wartawan mengungkap kebenaran.

Wartawan yang bijak, sebaiknya juga aktif mengenalkan diri kepada anak-anak muda itu. Datanglah ke sekolah-sekolah, berkegiatanlah dengan mereka. Sibukkan anak-anak muda itu dengan kebanggaan yang lain daripada setiap hari nongkrong tak jelas juntrungannya. Waktu luang mereka yang tak terisi dengan jelas, biasanya adalah awal dari penyimpangan perilakunya.

Bullying yang mereka terima dalam bentuk sindiran, kata-kata yang menyudutkan, merendahkan, adalah hukuman yang menyakitkan. Jangankan dengan kata-kata, saling pelotot saja bisa bikin darah mendidih. Kalau energi sumbu pendek begini tidak tersalurkan di tempat yang tepat, ia bisa meledak dimana-mana, tak terkendali. Kalau orang dewasa masih berperilaku seperti ini, maka kedewasaannya patut ditinjau kembali.

Menjadi anak-anak remaja itu berat, kita semua pernah mengalaminya bukan? Syukurlah kalau Anda bisa melewatinya dengan nyaman. Sayang, tidak semua bisa merasakan hal serupa. Tuntutan orang dewasa agar mereka 'cepat dewasa', sementara dunia anak-anak sudah tak mau menerima mereka, adalah jurang besar yang harus dilalui setiap remaja. Bagi sebagian besar anak-anak kita yang marjinal, jurang itu tidak menyediakan jalan tol. Kalapun ada jalan tol, mereka tak sanggup membeli mobil yang boleh lewat di sana. Mereka akan terus jadi marjinal, atau nekat mencari jalan berputar.

Maka, jangan sembarangan mendorong anak ke ranah pidana. Kalau masih memungkinkan jalan lain, tempuhlah jalan itu. Ada yang namanya restorative justice.

Demi masa depan mereka.



-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar