25 Agt 2011

Dua Nyawa Melayang Karena Menuntut Janji

Pantau beritanya dari Google News.

Dua orang dilaporkan tewas, sementara enam orang lainnya menderita luka tembak ketika berunjukrasa di lokasi kilang  minyak di Pulau Tiaka, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Kilang itu dioperasikan oleh Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Medco E&P Tomori. Menurut Kapolres Morowali, AKBP Suhirman, anggotanya terpaksa menembak dua warga dalam aksi demonstrasi tanggal 22 Agustus yang berakhir rusuh karena mereka dinilai membahayakan aparat.

Warga melakukan unjuk rasa, karena JOB Pertamina –Medco E&P Tomori tidak memberikan hak-hak masyarakat setempat sejak tahun 2007. Perusahaan tersebut sebelumnya telah menjanjikan pemberian mesin-mesin kerja kepada masyarakat setempat, bantuan beasiswa, community development serta pembangunan Desa Mamosalato.

Bagaimana berita yang beredar di media massa? Dari penelusuran di internet, Saya temukan dua versi pemberitaan yang agak berbeda. Satu versi dari pihak aparat, dan versi lain dari LSM Jaringan Advokasi Rakyat Indonesia (JARI) yang disampaikan dalam konferensi pers pada tanggal 24 Agustus yang lalu. Mari kita lihat ringkasan dari kedua versi tersebut.

UPDATE: Warga Membantah telah Menyandera Polisi

Versi Aparat Keamanan
Sabtu, 20 Agustus 2011. Aksi demonstrasi warga itu mulai terjadi.

Minggu, 21 Agustus 2011. Terjadi bentrok antara aparat Polres Luwuk dengan massa. Saat itu ada sekitar 50 masyarakat yang membawa senjata tajam dan bom molotov ke daerah pengeboran minyak. Kelompok massa itu langsung merusak enam sumur. Selesai melakukan pengerusakan dua karyawan Medco disandera oleh massa. Setelah kejadian itu, sekitar 80 anggora polisi dan Brimob mendatangi lokasi untuk menjaga keamanan.

Senin, 22 Agustus 2011. Dua orang karyawan Medco yang disandera oleh massa berhasil kabur dan diselamatkan oleh polisi. Masyarakat kemudian kembali ke lokasi menggunakan beberapa perahu. Polisi berusaha melakukan negosiasi dengan masyarakat mengenai duduk persoalannya, tapi tampaknya tidak berhasil. Satu sumur dibom molotov.

Masyarakat dituding justru menyerang polisi yang melakukan penjagaan. Tiga polisi reguler dan satu anggota Brimob disandera dengan cara dibawa kabur menggunakan perahu. Massa juga mengambil alih senjata polisi. Baku tembak pun terjadi antara massa dengan polisi. Mereka pergi tapi bahan bakar habis di tengah jalan, dan malah minta ke polisi. Pada saat tembak menembak inilah, diklaim pihak keamanan jatuh dua korban tewas dari pihak masyarakat.

Versi JARI (Jaringan Advokasi Rakyat Indonesia)
Sabtu, 20 Agustus 2011. 20 orang masyarakat dari Desa Kolobawah Kecamatan Mamasalo, Kabupaten Morowali bersama dengan empat orang mahasiswa berangkat menuju lokasi unjuk rasa menggunakan perahu. Mereka hanya melakukan aksi selama 5 menit, sekitar pukul 07.50 WITA. Tiba-tiba 30 aparat gabungan polisi, TNI dan Security Pertamina-Medco mengepung peserta aksi. Meski demikian, aksi jalan terus. Masyarakat meminta bertemu dengan pimpinan perusahaan, tetapi tidak bisa terpenuhi. Akhirnya masyarakat diminta pulang untuk mengatur jadwal pertemuan kembali.

Saat meminta jaminan agar pertemuan berikutnya bisa terjadi, sempat terjadi aksi dorong-mendorong hingga akhirnya diberikan jaminan sebuah speed boat. Sekitar pukul 09.15 WITA, rombongan pulang dengan membawa speed boat tersebut. Setelah berada sekitar 100 meter dari lokasi, tiba-tiba terdengar sekitar delapan kali suara tembakan ke arah perahu dan speed boat. Seketika itu pula mereka panik sekaligus marah atas tembakan-tembakan yang diarahkan pada mereka.

Minggu, 21 Agustus 2011. Masyarakat pun memberikan peringatan terhitung 1x24 jam agar pihak perusahaan meminta maaf atas insiden penembakan. Namun permintaan itu tidak ditanggapi.

Senin, 22 Agustus 2011. Sekitar 100 orang dengan 5 perahu berangkat ke lokasi anjungan Medco Tamari-Pertamina. Saat aksi berlangsung sempat terjadi kericuhan lantaran dalam hitungan menit rombongan massa sudah dikepung oleh aparat gabungan. Beberapa fasilitas perusahaan terkena lemparan batu dan kayu dalam situasi chaos yang berlangsung sekitar 15-20 menit. Setelah situasi  mereda, masyarakat kemudian memutuskan pulang. Terinventarisir ada lima orang masyarakat yang luka karena bentrokan.

Setelah lima perahu rombongan masyarakat berjarak 750 meter dari lokasi, tiba-tiba perahu masyarakat dikejar oleh speed boat berisikan 15 orang aparat bersenjata lengkap, yang menembaki masyarakat di dalam perahu. Suasana menjadi kacau, apalagi ketika disadari ada seorang mahasiswa yang luka tertembak di dada. Masing-masing perahu coba menyelamatkan diri dan menjauh dari speed boat.

Sesampainya di Luwuk, masyarakat menyadari masih ada satu perahu yang tidak terlihat. Masyarakat akhirnya menemukan perahu yang hilang terombang-ambing di tengah laut. Keempat perahu kemudian mendekat ke perahu yang hilang, dan menemukan dua orang sudah dalam keadaan tidak bernyawa, lima luka-luka, dan dua lagi dalam keadaan shock ketakutan di sudut perahu. Perahu tersebut ternyata kehabisan bahan bakar dan diserang oleh aparat yang menggunakan speed boat.

Latar Belakang Kasus

Koordinator lapangan aksi demontrasi ke kilang minyak Medco, Andi M Sondeng yang juga menjadi tersangka utama dalam kasus kerusuhan ini, menuliskan melalui blog morowalifuture.blogspot.com betapa masyarakat Mamosalato tidak memperoleh keuntungan apapun dari pengoperasian kilang minyak tersebut. Yang diuntungkan, menurutnya, hanyalah oknum-oknum pejabat di Pemda Morowali. 
“Kekayaan alam yang begitu melimpah di Morowali, seharusnya menjadikan masyarakat di daerah ini sejahtera. Mengapa tidak, kekayaan alam yang terkandung di bumi Morowali setidaknya terdapat 10 jenis sumber galian tambang. Tidak hanya daratan, perairan Morowali juga memiliki sumber daya mineral berupa minyak bumi dan gas alam. Akan tetapi kondisi tersebut tidak memberikan manfaat yang berarti buat daerah, khususnya bagi masyarakat Morowali.  
Sebut saja, pertambangan minyak bumi yang ada di wilayah Mamosalato dan BungkuUtara dikenal dengan ladang Minyak Tiaka Blok Trili. Hingga pengoperasiannya oleh Job Pertamina Medco sejak 2001 hingga 2011, keberadaan ladang minyak di wilayah ini belum memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat di dua wilayah ini. Ironisnya sumber pencaharian nelayan tradisional yang berpuluh-puluhtahun sebagai sumber penghidupan masyarakat menjadi tidak dapat di akses,” 
Tuntutan utama yang ingin mereka ajukan adalah kepastian hukum terhadap hak-hak masyarakat yang diklaim telah dirugikan oleh kehadiran pengoperasian tambang ini. Perlu ada kepastian hukum yang memaksa pihak perusahaan untuk menepati janjinya kepada masyarakat sekitar, dan pemberian sanksi jika mereka ngemplang. Saat ini, menurut tulisan Andi, tidak ada aturan hukum yang jelas.
Ingat, kata kunci dari penyelesaian masalah Blok Minyak di TIAKA adalah mengenaiKepastian Hukum atas kewajiban Perusahaan Pertambangan yang mengoperasikan Blok TIAKA tersebut. Hal itu dapat ditempuh dengan penetapan PERDA. Jika tidak, maka tidak akan ada dasar hukum, bagi upaya paksa dari Pemerintah Daerah terlebih lagi oleh Masyarakat untuk menuntut Perusahaan Tambang Minyak TIAKA memenuhi segala kewajibannya kepada masyarakat.
Dia menuliskan, hingga kepemimpinan Anwar Hafid, dana community development sudah defisit, bahkan pembagian hasil untuk daerah beberapa tahun tidak diterima oleh Pemda. Hal ini tentu saja sangat membingungkan bagi pemerintah daerah Morowali. Polda Sulteng pun membenarkan bahwa pemicu terjadinya aksi tersebut lantaran JOB Pertamina-Medco tidak memberikan apa yang menjadi hak masyarakat setempat. “Adalah janji-janjinya (Medco) yang tidak ditepati,” kata Kapolda Brigjen Pol Dewa Parsana. Menyikapi kejadian ini, pemilik perusahaan belum mau memberikan komentar. Mereka akan melakukan diskusi terlebih dahulu bersama Bupati Morowali, Polda Sulteng serta Polres Morowali.

Entah bagaimana kasus ini akan berakhir. Kematian dua orang ini, terlepas bagaimana sebenarnya insiden itu terjadi, adalah bukti bahwa menuntut penegakan hukum di negara ini masih jadi barang langka. Mungkin agak klise kalau dikatakan bahwa kepentingan korporasi lebih diprioritaskan daripada masyarakat awam. Tapi faktanya, siapa yang mampu memberi upeti besar kepada aparat kemanan, biasanya memang mendapat prioritas.


-----------------------
say it, you'll have it.


*Gambar oleh Eddie B. Handono
Posting Komentar