22 Jul 2011

Belajar Dari Film Hana Kimi

wiki.d-addicts.com/Hanazakari_no_Kimitachi_e

Saya bukan penggemar berat film Jepang, tapi juga tidak pernah sungguh-sungguh membencinya. Saya cuma merasa menjadi generasi yang tidak cocok dengan genre film-film seperti itu. Yang saya maksud bukan cuma film-film kartun Jepang, tetapi juga beberapa film drama yang sering ditayangkan oleh televisi di Indonesia.

Karena alasan di atas, saya miskin referensi soal film-film itu. Tapi banyak teman-teman yang memang beda generasi, punya koleksi yang cukup luar biasa. Dari situlah saya jadi ikut-ikutan menonton beberapa di antaranya. Semua yang sempat saya tonton adalah film seri, sehingga butuh waktu panjang untuk menyelesaikan keseluruhan ceritanya. Salah satunya adalah drama komedi romantis, Hanazakari no Kimitachi e.

Hanazakari no Kimitachi e di Indonesia lebih dikenal dengan nama Hana Kimi, yang sebenarnya sebuah singkatan dari Hanazakari no Kimitachi e. Hana Kimi diadaptasi dari manga karya Hisaya Nakajo dengan judul yang sama. Soal ceritanya dan siapa yang main di film itu bukan hal yang mau saya bahas di tulisan ini. Yang menarik perhatian saya adalah, bagaimana saya menemukan praktik pembelajaran yang unik sekaligus sangat bermakna di dalam film itu.

Drama seri ini sendiri berkisah tentang bagaimana seorang remaja putri, Ashiya Mizuki (Horikita Maki), yang 'kesengsem' dengan penampilan seorang atlet lompat tinggi, Sano Izumi (Oguri Shun). Hingga suatu saat, di luar dugaan mereka bertemu dalam situasi yang buruk. Ashiya diganggu para gangster, lalu Sano menyelamatkannya. Sial bagi Sano, ia tidak sempat meloloskan diri, dan terluka di bagian pergelangan kaki. Luka itu 'menyebabkannya' tidak bisa lagi menekuni lompat tinggi.

Merasa bersalah, Ashiya kemudian nekad mendatangi Sano dan berpura-pura menjadi laki-laki supaya bisa satu sekolah dengannya. Misinya cuma satu, membuat Sano mau kembali lompat tinggi. Dari sinilah cerita fim itu dibangun dalam 12 episode. Hubungan antar teman, konflik cinta di antara mereka, dalam setting sekolah meski adegan belajar di kelas merupakan adegan langka. Tapi ini salah satu keunikannya, karena di sana pesan-pesan pendidikan justru bermunculan.

Dalam drama seri itu, ada seorang figur dokter sekolahan yang dikisahkan sebagai seorang 'gay'. Tapi bagaimana ia membangun hubungan dengan murid-muridnya, memberi contoh perilaku bagi ideal bagi seorang guru. Dalam salah satu adegan, ia meminjam kaca mata guru lainnya, dan membersihkannya karena 'berkabut'. Kira-kira ia bilang begini kepada rekannya itu, "Kaca mata Anda tampak berkabut, mungkin tak akan bisa melihat seperti apa sebenarnya anak-anak (sekolah) itu." Kalimat yang cukup 'dalam'. Potongan videonya bisa Anda lihat di bawah ini.




Selama ini guru, para pendidik, bahkan orang tua, banyak yang merasa tahu, dan berhak memutuskan apa yang terbaik buat siswanya/anak-anaknya. Orang dewasa, orang tua, pendidik, seringkali tidak mampu memahami anak-anak ramaja, pertentangan batinnya, gejolak emosinya. Ini menjadi sebab utama banyak kasus kenapa anak remaja merasa tidak punya tempat di rumah atau di sekolah. Mereka tidak punya ruang mengekspresikan dirinya, dan terpojok oleh harapan orang dewasa di sekelilingnya.

Kalimat guru dalam film itu sungguh menggetarkan saya. Kalimat yang sangat sederhana, tetapi mungkin nasihat yang paling tepat untuk para guru/pendidik, atau orang tua yang memiliki anak remaja. Anak-anak, apalagi yang sudah beranjak remaja, harus memiliki cukup ruang untuk menemukan dirinya. Mereka adalah pemilik masa depan, dan tak layak dikungkung dalam ketakutan berlebihan orang dewasa di masa lalunya.

Memahami film-film Asia yang belakangan populer di kalangan remaja, jadi satu hal penting buat para pendidik dan orang tua. Jangan sampai praduga tentang kebiasaan membaca komik Jepang, atau mencontoh idola-idola dari sana, menjadi penghalang untuk melihat apa yang sebenarnya sedang mereka pelajari. Bahwa tidak semua hal pantas dicontoh -tanpa mau memahami apa yang mereka baca dan tonton- kita, orang dewasa, akan gagal mengartikulasikannya.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar