24 Mar 2011

Bersikap Adil Sejak Dalam Pikiran

Berlaku adil memang tidak mudah. Terutama jika cara pandang telah terkontaminasi oleh mainstream. Apapun bentuk sumber informasinya, tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi selalu menjadi rujukan, yang terkadang tanpa reserve menjadi panduan dalam mengambil keputusan. Keadilan bisa terpinggirkan begitu rupa, hanya karena informasi mainstream yang dominan. Kini bahkan yang media sosial telah mulai menjadi mainstream.

Tuan Minke, tokoh ciptaan Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu tetraloginya, Bumi Manusia, adalah tokoh yang  mengucapkan kalimat dalam judul artikel ini, "BERSIKAP ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN".  Konteksnya adalah prinsip pokok jurnalisme, dimana dalam menerima dan mengolah fakta haruslah seobyektif mungkin. Sejak dalam bentuk "pikiran", belum "tertuang" menjadi "kata-kata", kita sudah harus adil. Supaya yang keluar pun hasilnya obyektif.

Betulkah masih ada ruang dan waktu untuk bersikap adil sejak dalam pikiran? Bukankah jika sudah tidak sejalan, dianggap berseberangan secara ideologi atau tidak sepaham, maka sudah dikatakan sebagai lawan? Bukankah sekarang ini informasi menjadi alat untuk menundukkan pihak lain, atau menggalang dukungan untuk pembenaran sebuah tindakan?

Mari kita tengok dari ruang yang paling kecil, keluarga.

Perilaku jaga image (jaim) seseorang, bisa jadi kebiasaan karena lingkungan keluarga mendesaknya untuk tampil sempurna di tengah ketidaksempurnaan. Seringkali seseorang tidak menjadi dirinya sendiri, karena harus memenuhi selera orang lain, semacam benchmark, yang bisa berbentuk etika atau tata krama, seringkali jadi kode etik dalam keluarga. Sementara "orang lain" itu, terkadang tidak lain adalah keluarganya sendiri.

Etika atau tata krama tentu sesuatu yang dibangun sesuai konteks sosialnya. Biasanya sesuatu yang dirujuk untuk hal-hal yang baik. Kakunya nilai-nilai dalam etika ini, kemudian menjadi alat untuk menyamaratakan kasus. Sedikit saja seseorang melanggar kode etik, maka seolah tidak ada jalan kembali. Social punishment yang menimpa seseorang, bisa lebih kejam daripada hukuman fisik.

Bersikap adil sejak dalam pikiran, kita harus bisa menyisihkan citra yang melekat kuat pada satu subyek. Pencitraan itu sendiri bisa lahir oleh sebuah tindakan yang disengaja dan direncanakan, atau sesuatu yang terjadi dengan begitu saja. Ia bisa terjadi dengan begitu saja, karena ada nilai yang terlanggar. Citra itu bisa sedemikian kuatnya, tetapi sayangnya citra bukanlah kebenaran.

Masih ada kebenaran lain di balik kebenaran semu hasil pencitraan, asal kita mau bersikap adil sejak dalam pikiran. Citra dan pelabelan terhadap seseorang hanya karena tampilan luarnya saja, adalah sikap yang tidak adil sejak dalam pikiran. Bersikap prejudice, hanya karena kata yang diucapkan, atau karena pakaian yang dikenakan, adalah cara pandang yang dangkal. Kita butuh lebih dari sekedar itu untuk kemudian merespon.

Nilai-nilai yang jadi kode etik itu, seharusnya selalu di-upgrade sesuai perkembangan jaman. Nilai-nilai kekeluargaan, tidak berlaku di saat kita ditilang, tetapi berlaku ketika keluarga kita mendapati sebuah situasi kesusahan. Yang menjadi salah kaprah, nilai-nilai itu menjadi benchmark yang diberlakukan tidak pada tempatnya, hanya karena sesuatu yang sudah dilakukan sekian lama, dianggap mengandung nilai kebenaran yang paling tinggi. Hanya karena nilai-nilai itu menjadi mainstream.

Lalu anggota-anggota keluarga itu akan tumbuh besar, dan mulai memasuki dunia yang lain.

Bersikap adil sejak dalam pikiran menjadi sulit, karena desakan nilai yang berlaku sebagai mainstream, tidak mudah ditentang. Menentang mainstream, harus siap menerima risiko dikucilkan. Mengikuti arus mainstream, harus siap dengan risiko menentang suara hati.

KKN di era Orba, tidak lain lahir karena penerapan nilai kekeluargaan yang keluar dari rel profesionalisme. Merekrut saudara sendiri tentu bukan sebuah larangan, tetapi ada etika lain di tempat bekerja, yang kita sebut sebagai profesionalisme itu. Memaksakan KKN meski melanggar profesionalisme, adalah sebuah dilema bagi orang yang mau berpikir adil sejak dalam pikiran. Dilema yang bisa mengakibatkan runtuhnya ikatan.

Beradunya nilai dalam keluarga dan tempat bekerja, menjadi persoalan rutin masyarakat kota. Antara keluarga dan tempat bekerja, di kota adalah dua dunia yang bisa sangat berbeda. Tidak seperti jaman dulu di desa, ketika jenis pekerjaan tidak terlalu beraneka ragam, bahkan cenderung seragam, atau paling tidak memiliki kedekatan.

Dalam desakan kontradiksi nilai-nilai ini, ruang dan waktu semakin sempit untuk membangun sikap adil sejak dalam pikiran. Sikap adil sejak dalam pikiran membutuhkan lebih banyak waktu untuk merekam informasi, mengolahnya, agar menghasilkan sebuah keputusan yang benar-benar adil. Tapi manusia tidak seperti komputer yang hanya terdiri dari mesin logika berargumen ganda, ya dan tidak. Manusia juga dianugerahi emosi, yang tidak punya ukuran standar yang pasti.

Membawa tradisi keluarga ke ruang bekerja, atau sebaliknya membawa tradisi bekerja ke ruang keluarga, akan melahirkan benturan nilai. Lalu terbentuklah watak bangsa, yang diwakili oleh sikap kenegaraan petinggi-petingginya. Kegagalan menyelesaikan konflik di tingkat mikro, terbawa hingga ke tingkat makro; melahirkan kerusuhan. Di sinilah tingkat kedewasaan dibutuhkan. Di sinilah ruang dan waktu jeda untuk dapat bersikap adil sejak dalam pikiran, menjadi sangat penting.

Lalu di mana seharusnya perilaku adil dalam pikiran itu disemai?

Pendidikan informal dalam keluarga, dan lingkungan sekitar, pendidikan non-formal di lingkungan kerja, dan pendidikan formal yang dilakukan di sekolah, jarang sekali menyentuh sisi-sisi perbenturan nilai-nilai di atas. Pendididikan informal dibiarkan tertinggal jauh dengan nilai-nilai yang sudah kadaluarsa, sementara pendidikan formal meluncur sangat cepat mengikuti arus modernisasi. Pendidikan non-formal, hidup enggan mati tak mau, karena sebagian lahannya malah diserobot ranah formal.

Pendidikan di tingkat keluarga dan lingkungan, meski tak pernah ada kurikulumnya, adalah tulang punggung pembentukan watak bangsa. Tidak mungkin hanya meletakkan tanggung jawab pendidikan karakter bangsa pada pendidikan formal saja. Justru ruang informal inilah, dimana manusia dilatih berkonflik sejak lahir dan dibesarkan, akan melahirkan manusia-manusia tangguh, dan adil.

Lingkungan dan keluarga adalah arena belajar yang sesungguhnya, sementara sekolah formal hanyalah simulasi belaka. Jadi sungguh salah kalau menilai, semua yang bertitel, berpendidikan tinggi di sekolah formal, kemudian menjadi manusia beradab dan bisa berlaku lebih adil. Apalagi kalau diukur dari sisi materi saja. Rasanya itu adalah pikiran abad pertengahan di Eropa.

Fenomena mainstream belakangan ini, orang dengan mudah terbawa oleh informasi yang tidak diperiksa dulu keakuratannya. Orang ikut-ikutan menghujat karena informasi yang belum tentu akurat, sebaliknya ada pula orang yang disanjung sedemikian tingginya, juga karena informasi yang masih sumir kebenarannya. Semua hanya menggantungkan penilaiannya pada citra.

Apa yang berlaku di masyarakat, jelas menjadi pembelajaran bagi generasi muda ke depan. Kalau tidak dihentikan, maka kita hanya akan mengulang kesalahan yang sama yang telah dilakukan pendahulu kita di jaman Orde Baru, bahkan sebelumnya. Kita butuh perubahan. Pertanyaannya, darimana perubahan itu akan datang? Menunggu ratu adil dari langit, atau mau dimulai dari bawah saja?

Mungkin bisa kita mulai sekarang, dengan memaksakan bersikap lebih adil, sejak dalam pikiran.

-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar