21 Nov 2011

Karena Informasi adalah Koentji!



Chico Mendes kecil, hanya bisa bengong ketika hasil sadapan karet Ayahnya kali ini tetap saja tidak pernah mencukupi untuk membayari hutang kepada para pengijon itu. Seorang pemuda di dekat pintu, meliriknya penasaran. Ia menangkap ketidakpuasan si Chico Mendes kecil, tetapi juga ketidakberdayaannya.
"40 kg!" ujar si pengijon membacakan hasil timbangan Chico dan Ayahnya.
Pemuda itu terkejut. Ia mencoba menyanggah, “Bukankah timbangan itu menunjukan angka 70 kg?”.

“Kalau gue bilang 40 kg, ya segitulah timbangannya!”, demikian sang pengijon menjawab dengan sorot tak bersahabat.

“Tapi, bukankah timbangan itu menunjuk angka 70 kg?” sambar pemuda itu makin keras.
“Lu pasti orang baru di sini, anak muda,” sang pengijon menunjukkan ketidakenangannya sambil menggebrak meja.

“Baiklah ini memang 40 kg”, ujar ayah Chico Mendes, mencoba cari aman saja. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan kegusaran si pengijon.

“Nah, orang tua selalu lebih bijak dari anak muda, sepertimu. Lekaslah kau tanda tangan di sini hai orang tua!” sang pengijon segera menyodorkan buku tanda terima, dan menyelesaikan transaksi tak adil itu. Ayah Chico pun menorehkan sesuatu di buku itu, dan mereka menerima pembayarannya.
Hasil sadapan karet waktu itu dihargai 10 Cruzerio (Rp 18 dengan kurs saat ini) per kilogramnya, tetapi Ayah Chico hanya menerima 10 cruzeiro, untuk '40 kg' hasil sadapannya. Mereka harus membayar hutang sebesar 25 cruzeiro serta bunganya yang sebesar 5 cruzeiro.

Di perjalanan pulang, Mendes kecil masih penasaran, dan mencoba menanyakan kebenaran hal tersebut. Sang ayah tetap meyakinkan Mendes kecil bahwa mereka harus tetap menuruti apa yang dikatakan sang pengijon, dengan harapan mereka mendapatkan hidup yang lebih baik di kemudian hari.

Sang pemuda, Wilson Pinheiro, langsung sadar bahwa para petani itu selalu miskin karena mereka tak bisa berhitung. Mereka jadi sasaran empuk para pengijon, yang selalu memanipulasi hasil timbangan, belum lagi dengan sistem rentenir yang menyebabkan para petani itu tidak pernah bisa lepas dari jeratan hutang.

Merasa bisa berbuat sesuatu, Wilson Pinheiro mengikuti Mendes dan ayahnya hingga ke rumah mereka. Ia minta diajari cara menyadap karet kepada ayah Chico, dan sebagai imbalannya ia minta ijin untuk mengajari Chico membaca dan berhitung. Inilah awal revolusi yang terjadi di Hutan Amazon, Brasil itu, dengan Chico Mendes sebagai pahlawannya.

Itu sedikit adegan pembuka film The Burning Season, bercerita tentang Chico Mendes yang dikenal sebagai Pahlawan Hutan Amazon.

Chico Mendes, pada awalnya bukanlah pahlawan hutan tropis. Ia adalah ketua organisasi buruh penyadap karet, Ia tidak punya wawasan biodiversity, atau pentingnya Hutan Amazon sebagai salah satu paru-paru dunia. Yang ia tahu adalah mitos bernama Cirupira, sang kekuatan supernatural yang akan marah jika hutan tempatnya bersemayam dirusak manusia.

Perlahan tapi pasti, berkat pendidikan yang didapatnya dari Pinheiro, ia sadar, bahwa satu-satunya sumber nafkah desa mereka adalah dari menyadap karet, dan karenanya keberadaan hutan karet adalah sebuah harga mati. Warga desa tidak memiliki keterampilan lain sebagai upaya mencari nafkah bagi penghidupan mereka. Sayangnya kepentingan itu bertabrakan dengan kepentingan lain, yang atas nama pembangunan ingin menyingkirkan sebagian hutan demi keuntungan korporasi lokal, penguasa lalim, maupun korporasi multinasional.

Setelah sukses mendirikan Rubber Tappers National Council (CNS), dan Forest People Alliance, Chico Mendes dengan bantuan wartawan, akhirnya berhasil menembus forum di PBB, dan di sanalah ia ditasbihkan sebagai pahlawan hutan tropis. Ia mendesak agar bantuan lembaga keuangan dunia, menghentikan atau menunda bantuan mereka terhadap proyek pembangunan yang akan menebas hutan tropis di Brasil, selama masyarakat yang hidup tergantung dari hutan itu tidak mendapatkan kompensasi berarti. Gelar yang sama sekali tidak diduganya ketika harus berangkat, tapi sedikit banyak, momen itu membawa berkah.

Harga mati perjuangan Chico, akhirnya memang dibayar sangat mahal. Kurang lebih 982 nyawa termasuk nyawa Pinheiro dan Chico Mendes sendiri, menjadi korban akibat berkonfrontasi dengan kekuatan korporasi yang didukung 'preman' lokal dan penguasa setempat. Kematian Chico mendapat sorotan dunia internasional, dan akhirnya memaksa koalisi jahat itu mundur teratur. Sebagian wilayah Hutan Amazon Brasil dilindungi oleh Undang-undang, meski tidak mengurangi aksi pembabatannya hingga hari ini.

INDONESIA juga pernah punya banyak kisah sejarah dengan gerakan pendidikan yang berupaya melahirkan revolusi. Sebut saja upaya seorang pemuda bernama AM Hanafi, teman dekat Soekarno. Ia lahir pada tahun 1918, dan meninggal di Perancis, 2004. Pada era Orda Baru, ia turut disingkirkan karena kedekatannya dengan Bung Karno. Ia akhirnya memilih minta suaka ke Perancis, dan akhirnya menetap di sana hingga akhir hayatnya.

AM di depan namanya merupakan singkatan dari Anak Marhaen, yang pada sekitar 1940 - 1941 mencoba memulai revolusi dengan mendirikan Pendidikan Kilat (Diklat) Politik "Penyambutan Revolusi Kemerdekaan." Upaya ini akhirnya kandas dengan masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942. Detil cerita tentang AM Hanafi bisa dibaca di milis PPINDIA, pada Bagian-1, Bagian-2, dan Bagian-3.

Pendidikan, yang ujungnya-ujungnya membawa informasi kepada mereka yang tertindas, bisa mendorong terjadinya revolusi. Pendidikan, yang menurut Freire tak mungkin tidak berpihak, adalah alat yang paling efektif, karena dampaknya akan berkelanjutan. Dalam diskusi tentang situasi dan kondisi sosial politik terkini, guru dan siswa akan memperoleh pengalaman saling belajar terkait kemungkinan perubahan-perubahan sosial yang mungkin dilakukan melalui proses pendidikan. Pemikiran ini menggambarkan bahwa pendidikan memiliki tugas utama untuk membebaskan siswa dari lingkungan hemologi struktur sosial kaum yang berkuasa. Tugas itu terkait dengan tujuan pendidikan pembebasan untuk mencpai keadilan kesejahteraan sosial bagi kaum tertindas (Ellias dan Merriam, 1984).

Semua penguasa yang lalim, pasti benci dengan arus informasi yang terbuka dan mengalir cepat di antara warganya. Karena pendidikan formal biasanya dikuasai oleh negara, maka memelintir materi pendidikan demi kelanggengan kekuasaan, adalah langkah yang biasa dilakukan. Langkah lainnya, seperti yang pernah kita alami di jaman Orde Baru, dan bisa kita lihat juga di berita belakangan ini, tentang aksi massa di Mesir dan Tunisia. Pembredelan, dan pemblokiran sumber informasi, serta salurannya.

Masih mencari cara revolusi? Mari gunakan jalur pendidikan.

-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar