18 Nov 2010

Bencana itu, Semoga Cepat Berlalu



Merapi, mungkin sedang 'lelah'. Semoga saja ia lekas tertidur. Dengan begitu, warga punya waktu untuk berbenah. Setelah berhari-hari 'mengamuk', kehancuran yang diakibatkannya, bukan saja mencabut ratusan nyawa, tapi juga berpotensi membuat jutaan jiwa lainnya terancam kelangsungan hidupnya.

Paska bencana nanti, para korban bencana tidak saja akan dihadapkan dengan kondisi porak poranda, tetapi juga masa depan penghidupan di wilayahnya masing-masing. Upaya rekonstruksi infrastruktur mungkin bisa dilakukan, tapi dalam masa itu, mau berbuat apa para korban ini untuk makan sehari-hari?

Mereka jelas bukan warga yang manja. Hidup di pegunungan, dengan medan yang tidak seramah di kota, adalah pilihan yang tidak main-main. Dari sanalah mereka biasa menghidupi dirinya dan keluarganya. Beternak, bertani, hingga bekerja sebagai kuli galian pasir, adalah mata pencaharian yang tidak mudah dilakukan. Tapi setidaknya, pekerjaan itu memberi mereka kesempatan melanjutkan hidup.

Paska bencana ini, bukan saja rumah atau anggota keluarga yang hilang, tetapi juga mata pencarian mereka. Dan berkah sisa-sisa debu vulkanik yang ditinggalkan amuk Merapi, tidak bisa dipanen besok, atau minggu depan. Butuh paling tidak 10 tahun untuk dapat memanfaatkan kembali lahan-lahan pertanian yang rusak, dan butuh berbulan-bulan untuk memperbaiki sumber air yang tercemar.

Partikel debu vulkanik kaya akan unsur hara penyubur tanah, dan sangat mudah lapuk sehingga sangat bagus digunakan sebagai bahan material tanah. Tempat tandus akan jadi subur. Namun, proses penyuburannya perlu waktu paling tidak 10 tahun. Itu menurut ahli mineralogi liat dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian Bogor, Iskandar.

Meskipun debu yang sudah dingin dapat langsung dimanfaatkan sebagai media tanam, tetapi tidak akan sesubur 10 tahun kemudian. Sifatnya sama dengan pasir umumnya. Upaya lain untuk percepatan dapat dilakukan dengan menambah kompos, urea, dan ekstrak senyawa humat—senyawa hasil ekstraksi bahan organik pada humus. Tapi dalam uji laboratorium, penambahan senyawa akan mempercepat pelapukan hingga cukup lima tahun saja.

Belum lagi kondisi sumber air. Debu vulkanik gunung berapi bersifat mudah mengendap dalam air, sehingga air sumur yang terkena debu vulkanik akan tetap terlihat jernih. Namun, kandungan logam berat yang menempel pada debu vulkanik dan mengendap di dasar sumur tetap berbahaya bagi manusia, meski jumlahnya amat sedikit. Jenis logam berat pada debu vulkanik, antara lain, kadmium (Cd) dan tembaga (Cu), tidak diperkenankan sama sekali terpapar ke tubuh manusia.

Untuk mencegah risiko dari zat-zat mikro berbahaya, sumur sebaiknya dikuras terlebih dahulu sebelum digunakan. Bayangkan, menguras sumur. Jelas ini bukan perkara mudah pula, meski tidak mustahil. Ini mau tidak mau harus dilakukan, karena air bersih, dan air sehat, adalah salah satu elemen penting dalam kehidupan manusia.

SAAT ini, paling tidak ada 4 kabupaten yang terancam; Kab. Sleman, Magelang, Klaten, dan Boyolali. Keempat kabupaten ini yang paling dekat dengan puncak Merapi, dan daerah yang paling mungkin akan mengalami permasalahan besar dalam hal penghidupan warganya. Padahal, satu kecamatan rata-rata penghuninya 30.000-60.000 jiwa. Di setiap kabupaten, rata-rata ada 10 kecamatan.

Sementara, dana bencana yang disiapkan pemerintah paling tidak baru ada 200M. Dari kebutuhan dana yang secara ideal berjumlah Rp 10 triliun atau 1 persen dari volume APBN, pemerintah baru memenuhi 0,2 persen saja atau sekitar Rp 200 miliar. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Kawasan Khusus Daerah Tertinggal Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Suprayoga Hadi kepada Kompas.com.

Ada berita baik pagi ini dari Kompas, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengusulkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memberikan jaminan hidup kepada warga korban Merapi selama tiga bulan hingga enam bulan setelah mereka pulang ke rumah. Sementara terhadap korban banjir di Wasior, Papua Barat, serta korban tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Wasior, Selasa (16/11), menyatakan akan menjamin hidup eks korban bencana selama enam bulan.
Untuk tahap rekonstruksi dan rehabilitasi akan digunakan dana bantuan luar negeri. Pemprov Jateng dan DIY akan membangun permukiman sementara bagi korban Merapi yang rumahnya rusak dan mengupayakan perekonomian keluarga berputar. Permukiman ini akan ditinggali selama satu tahun sambil menunggu pembangunan rumah permanen dengan bantuan dana pemerintah pusat.
Jadi, sementara rencana itu dimatangkan, upaya kita bersama masih sangat diperlukan. Ada foto-foto kiriman seorang kawan, yang juga menjadi relawan di lapangan, melalui jejaring sosial Twitter. Bahu membahu sesama warga, baik relawan dari wilayah bencana maupun dari luar, masih sangat diperlukan. saat ini saja, masih banyak bantuan menumpuk di stasiun kereta, akibat tidak dapat terdistribusikan ke lokasi. Jumlah relawan masih terlalu sedikit dibandingkan kebutuhan di lapangan.

Semoga semua akan baik-baik saja.


-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+
Posting Komentar