6 Agt 2010

Paguyuban Mau Sejahtera (PMS)

web.worldbank.org
Selama ini Pemilu adalah cara wakil rakyat mempromosikan dirinya, agar mendapat dukungan dari rakyat. Seringkali mereka berbusa-busa dengan segala janji, dan bagi-bagi berbagai macam bentuk paket yang sebenarnya cuma legalisasi dari politik uang. Nah, bagaimana kalau kita coba balik saja mekanismenya?

Mungkin gagasan ini cuma mimpi, tapi dunia ini memang dibangun lewat mimpi. Karena saya cuma bisa bermimpi, maka mumpung mimpi belum dilarang dan dikategorikan haram, saya mau bermimpi. Bangunkan saya kalau mimpi ini sudah melewati definisi mimpi Anda sekalian.

Mimpi ini ada syaratnya, para pihak yang berkepentingan dengan isu tertentu mau membangun kolaborasi, dan jejaring. Tidak usah repot dengan tata organisasi, cukup memanfaatkan teknologi saja. Pekerjaan rumah besarnya, bagaimana melibatkan masyarakat yang belum bisa mengakses teknologi informasi seperti Internet. Kalau SMS, relatif mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Dari data tahun 2009, jumlah pemilih kita sebesar 170-an juta orang. Jumlah itu berasal dari pemilih dalam negeri dari 33 provinsi sebesar 169.558.775 orang dan pemilih luar negeri dari 117 perwakilan Indonesia di luar negeri sebanyak 1.509.892. Sementara penetrasi internet kita pada tahun 2009, menurut APJII tercatat sekitar 43 juta dari jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 240-an juta jiwa. Dengan peningkatan rata-rata 25% per tahun, bisa dibayangkan pada tahun 2014 nanti penetrasinya akan naik kurang lebih 2 kali lipat. Belum lagi kalau menengok pertumbuhan koneksi internet mobile, yang diperkirakan di Asia Pasifik termasuk Indonesia, mencapai 119% per tahun. Facebook, saat ini menjangkau 80% pengguna Internet Indonesia, atau 10% dari populasi Indonesia. Tolong koreksi soal statistik ini, kalau saya salah memahaminya.

Paguyuban Mau Sejahtera, saya singkat saja PMS. PMS gagasannya adalah masyarakat sipil yang punya aspirasi, dan aspirasi ini akan kita lelang kepada siapa saja yang mau jadi caleg, dari partai apa saja. Jadi, kita yang punya aspirasi yang menyeleksi siapa calegnya. Seperti buka lowongan lah, tapi bisa kita lakukan audisinya mulai dari sekarang, untuk mendapatkan caleg pada Pemilu 2014 nanti. Kita punya waktu kurang lebih 3 tahun untuk memeriksa rekam jejak si caleg, seberapa serius dengan janjinya untuk meloloskan aspirasi yang kita ajukan.

Sebut saja aspirasi tentang kemacetan, atau aspirasi untuk membangun transportasi publik yang bisa mengatasi persoalan macet. Maka para pihak yang setuju, silakan bergabung dalam Biro Bosan Macet, dengan target Lancar Jaya 2014. Jalur komunikasi dan koordinasinya bisa menggunakan jalur yang sederhana saja, misalnya lewat Facebook, atau Twitter, dan untuk masyarakat yang belum bisa mengakses Internet, semoga terbantu dengan teman-teman di Radio Komunitas. Syukur-syukur kalau bisa saling berkoordinasi dalam Daerah Pemilihan yang sama.

Anda yang bosan dengan Korupsi, silakan buat Biro Anti Korupsi, dengan target KPK Jaya 2014. Kalau dulu Group FB Bibit-Chandra bisa menggalang lebih dari sejuta pendukung, saya punya keyakinan, suatu gagasan yang disetujui oleh banyak orang adalah aspirasi yang baik. Bahkan jika Anda yang punya gagasan pendirian negara kilafah sekalipun, silakan buat Biro-nya sendiri. Yakinkan pemilih lain untuk mendukung gagasan-gagasan ini, dan bisa merekrut sebanyak mungkin pengikut akan lebih baik, karena itulah posisi tawar Anda terhadap caleg yang di-audisi. Ruang seperti Politikana.com bisa Anda buat untuk mengkampanyekan gagasan Biro Anda, dan syukur kalau bisa dapat pendukung. Kalau gagasannya dibantai, ya jangan pundung.

Intinya adalah, aspirasi yang menurut Anda bisa mensejahterakan kita semua silakan dikumpulkan pendukungnya, dan kita cari wakil kita yang memang masuk akal dan kredibel memperjuangkannya di tingkat legislatif. Mengingat platform partai sekarang sudah tidak relevan, karena kalau ada maunya partai-partai itu akan bilang platformnya sama. Kalau sudah bicara kekuasaan, mereka sudah tidak peduli lagi soal platform. Bisa menemukan caleg dalam satu partai tentu akan berguna, karena mekanisme dalam DPR tetap akan dipengaruhi oleh keputusan Fraksi.

Jadikan partai cuma sekedar kendaraan legal menuju kursi wakil rakyat, karena UU mensyaratkan begitu. Dengan cara yang sama sebenarnya, bisa kita gunakan untuk menggalang suara untuk para calon anggota DPD. Koordinasi di tingkat dapil akan sangat menentukan, dan kampanye kita, warga sipil terhadap sebuah aspirasi, bisa dilakukan tanpa lembaga, tanpa sekretariat, apalagi rumah aspirasi. Partai tanpa suara yang digalang oleh calegnya, tidak berarti apa-apa. Ia hanyalah legalisasi atas nama UU, yang kenyatannya terjadi dalam Pemilu 2009 yang lalu. Partai sibuk merekrut caleg yang asal tenar, yang penting kemungkinannya besar melenggang masuk ke gedung pantat. Meski begitu, gagasan ini bisa juga untuk mengaudisi partainya saja, supaya kita bisa ikut mengawasi siapa caleg yang akan diajukan nanti. Tapi, persoalan platform di partai seringkali membuat saya frustasi.

Berkelompok dengan satu aspirasi yang konkrit lebih menarik buat saya daripada partai dengan platform bla bla bla yang jualannya terlalu banyak, tapi tidak kongkrit. Semua partai kan mengaku pro rakyat, tapi Rakyat yang mana? Rakyat dari Hongkong? Ujung-ujungnya selalu kita akan tetap nggerundel soal kelakuan wakil rakyat yang dari periode ke periode rasanya tidak juga membaik, bahkan katanya memburuk. Dengan gagasan koalisi satu aspirasi, kita tidak perlu mengubah UU, tapi mendesak Partai memilih caleg yang bermutu. Sudah saatnya pemilih menggunakan posisi tawarnya, bukan sekedar jadi konsumen yang ngiler ditawari jajanan sejuta rasa. Kita yang punya suara, kita bisa menentukan apa yang harusnya diselesaikan.

Ok, matahari sudah tinggi, saatnya bangun pagi. Mimpinya boleh disimpan, untuk dilanjutkan nanti setelah waktunya tidur lagi. *tarik selimut ah...*

*Diposting juga di Politikana.com

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar