17 Mei 2010

Mengenang Sebuah Buku



Tahun 2004, saya bersama beberapa orang teman diajak diskusi oleh alm. Harry Roesli mengenai bukunya. Entah mendapat ide darimana, saya sudah lupa pastinya, Kang Harry tiba-tiba ingin menulis buku. Seingat saya, gagasan menulis buku ini sudah lama ingin direalisasikannya, dan Kang Harry jelas bukan pemula dalam hal menulis, karena ia pun sempat menjadi kolumnis di Harian Kompas, hingga akhir hayatnya.

Tulisan beliau yang "nakal", dan tak pernah jauh dari kehidupan sehari-harinya, menjadi refleksi yang kuat terhadap pandangan awam dalam perpolitikan di Indonesia. Kita juga tidak bisa melupakan darah biru kepenulisan yang dimilikinya dari sang kakek, Marah Roesli, sang penulis Siti Nurbaya.

Kalau menilik "kelakuan" sehari-hari Kang Harry (alm.), dalam setiap pertemuan saya dengan beliau, sungguh jauh rasanya membayangkan estetika  kesusasteraan dalam Siti Nurbaya itu sebenarnya menitis dalam darahnya. Pertemuan saya dengan Kang Harry (alm.) lebih banyak dalam ranah pergerakan mahasiswa ketika itu, di era 1998. Sisanya, selingan obrolan sana-sini tentang keseharian di Bandung, dan sangat sedikit tentang musik.

Bahkan ketika Yayasan Bandung Peduli, yang salah satu pendirinya adalah Kang Harry (alm.), isi diskusi malah lebih banyak seputar kemiskinan di Bandung.

Lalu di tahun 2004 itulah, Kang Harry (alm.) mengutarakan maksudnya membuat buku. Dan ketika ia bercerita bagaimana bukunya itu nanti akan ditulis, saya sudah tak kuat menahan tawa, juga berpikir. Sebuah buku yang merupakan kontemplasi panjang perjalanan Kang Harry (alm.), sekaligus kontemplasi bagi para pembacanya. Kontroversi, tanpa karakteristik itu, tentu profil beliau tidaklah lengkap.

Ada tiga kontributor dalam buku itu, Putu Wijaya, Herry Dim, dan Aat Soeratin. Semua adalah sahabat dekat beliau. Karena bingung bagaimana menempatkan ketiga tulisan itu, akhirnya diputuskan untuk menempatkan tulisan Putu Wijaya berjudul "Puyung Maisi" sebagai prolog buku, tulisan Herry Dim yang berjudul "sssst..." menjadi epilog, dan tulisan Aat Soeratin berjudul "Harry Roesli dalam 1000 Kata" sebagai biografi penulis (Kang Harry (alm.)).

Saya didaulat untuk membuat rancangan kulit muka, sekaligus menata letak buku. Untuk kulit muka, beliau sudah memberi syarat, "Pokoknya harus ada tengkorak, warnanya hitam, dengan tulisan 1951-2004." Itulah yang saya ingat pada waktu mencoba membuat beberapa alternatif kulit muka. Dan akhirnya, gambar di atas adalah pilihan beliau sendiri.

Melalui saran seorang kawan Kang Harry (alm.) saya diajak untuk menemui sebuah penerbitan di Bandung, untuk mencoba memperkirakan berapa harga produksi buku, dengan spesifikasi yang diinginkan. Saya pun menyerahkan file digital dan dummy buku, untuk dihitung berapa biaya cetaknya.

Untuk rencana peluncuran buku, tiba-tiba saya teringat dengan seorang kolega, pemilik toko buku dan penerbit yang kebetulan sanga dekat dengan kehidupan seniman. Saya pun mengusulkan agar buku itu dicetak oleh mereka, dengan imbalan diskusi dan peluncuran buku eksklusif oleh mereka. Kang Harry (alm.) setuju, bahkan siap mendatangkan Putu Wijaya sebagai pembahas buku itu nantinya. MoU pun diajukan, dan pihak penerbitan pun setuju.

Tapi lalu keburu datang berita, bahwa buku itu sudah dicetak oleh penerbit di Bandung. Kang Harry (alm.) pun memanggil kami, dan menunjukkan buku yang sudah dicetak tersebut. MoU pun saya batalkan, dan di saat itulah beliau memberi kami setiap orang satu copy, disertai tanda tangan asli beliau. Sungguh pengalaman yang buat saya, pada saat itu, adalah pengalaman yang luar biasa. Seingat saya pada waktu itu hanya ada 4 copy buku yang bertandatangan beliau.

Beberapa saat berlalu, saya dan beberapa orang teman berkesempatan mengunjungi pantai di ujung barat pulau Jawa, Ujung Kulon. Tragisnya, pada saat di sanalah kami mendengar kabar, Kang Harry wafat, pada tanggal 11 Desember 2004. Kamipun buru-buru pulang ke Bandung.

Buku itu akhirnya diperbaiki, dicetak ulang, dan kemudian dilelang. Saya tidak sempat lagi mengikuti berita pelelangan itu, bahkan hingga kini tidak pernah berkesempatan melihat kemasan baru buku itu. Tak apalah. Buku berjudul "Kesaksian", yang isinya adalah halaman kosong dengan pembabakan waktu itu, semoga berguna bagi "pembacanya". Saya yang juga sangat mengagumi tulisan Putu Wijaya, takkan pernah lupa dengan salah satu paragraf dalam prolog buku itu, yang bunyinya begini:
Berapa banyak buku-buku yang besar sudah sampai di kepala yang kecil, karena salah interpretasi kemudian menjadi sumber bencana. Saya teringat kepada buku Das Kapital, barangkali, yang hampir pernah disebut oleh mahasiswa mana pun, tapi siapa tahu sudah dipergunakan dengan cara dan tujuan berbeda-beda. Saya juga teringat buku Uncle Toms Cabin dari Beecher Stowe yang konon menyulut perang saudara di Amerika.
Ya. Paragraf itu sungguh melukiskan apa yang terjadi pada saat itu di Indonesia, bahkan hingga kini. Tentang gerakan terorisme yang mencatut ayat-ayat sesuai kepentingan mereka sendiri, dan menelikungnya menjadi pembenaran atas aksi tak berperikemanusiaan terhadap orang-orang tak bersalah. Sungguh hebat rasanya menjadi "penyunting" amatiran untuk tulisan itu dalam buku Kang Harry (alm.).

Kang Harry, memang tidak terlalu ambil pusing dengan tetek bengek buku itu. Ia meminta semua teman-temannya dimasukkan dalam jajaran penyunting, kontributor, bahkan dalam urusan estetik buku itu. Buat beliau, kredit dalam buku itu adalam ucapan terimakasihnya terhadap orang-orang yang selalu setia di sekitarnya, membelanya, beradu gagasan, dan menemaninya berkeluh kesah tentang situasi saat itu. Dan, memang itulah Harry Roesli yang saya kenal.

Kekosongan buku itu, seolah memberi peringatan dini untuk kami, untuk meneruskan "menulis" sejarah kami sendiri, setelah beliau tidak ada. Pesan tersembunyi, yang sempat saya rasakan sebagai keanehan, karena menulis tahun 1951-2004 di cover buku itu, sama seperti sedang menulis di atas batu nisan. Kulit muka buku itu, ternyata benar-benar menjadi kenyataan, tahun 2004 menjadi tahun terakhir beliau di dunia fana ini.

*Tulisan ini, saya dedikasikan untuk keluarga besar Harry Roesli (alm.), yang tiba-tiba terlintas ketika membaca timeline akun twitter saya, bahwa hari ini adalah Hari Buku Nasional. Semoga ini bisa menjadi salah satu #kisahbuku yang mengingatkan kita semua tentang ketulusan, dan persahabatan.

Selamat Hari Buku Nasional!


-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar