26 Apr 2010

Saya Masih Percaya Demokrasi

Eddi B. Handono
Demokrasi, bukan cuma persoalan jargon. Demokrasi adalah juga cara pandang, sesuatu yang kita percaya bisa "mengatur" masyarakat kita yang beragam ini. Demokrasi juga membantu manusia memperoleh kemanusiaannya, dengan cara-cara yang manusiawi dan demokratis pula. Tapi menuju demokrasi, bukan persoalan membalik telapak tangan.

12 tahun setelah reformasi, perubahan yang fundamental terjadi dalam demokrasi di negara kita. Dari demokrasi setengah hati dan penuh kepura-puraan, berubah menjadi demokrasi yang "malu bertanya sesat di jalan". Bandulnya bergeser jauh sekali, dari kiri ke kanan, dalam waktu yang sangat singkat. Tapi jangan lupa, perubahan yang cepat itu hanya terjadi di bagian atas bandul. Sementara itu apa yang terjadi di bagian bawah bandul?

Karena bandul masyarakat kita ini, terikat dengan tali yang lentur dan berjarak sangat jauh dari puncak tautannya, maka butuh waktu untuk menyamakan gerakan. Ketika bagian atas bandul sudah mulai mengayun, ternyata bagian bawah ini sedang mencoba ikut mengayun. Sementara bagian atas sudah mulai berubah posisi dari kiri ke kanan, bagian bawah yang agak tertinggal ini masih ada di tengah-tengah. Ternyata tidak cukup besar tenaga yang dimobilisasi dari tingkat atas itu untuk mengayun bandul di bagian bawah yang bebannya paling berat.

Sialnya lagi, bandul di bawah itu kini tersangkut di tengah-tengah, bahkan ada kecenderungan untuk kembali mengayun ke kiri. Pergerakan mengayun ke kanan, yang kehabisan momen di tengah-tengah, tidak juga mendapat suntikan momen baru. Yang di atas mungkin berpikir, sudah cukup apa yang dilakukan. Soal yang di bawah belum ikut berganti posisi ke sebelah kanan, itu urusan nanti saja.

Inilah bandul kehidupan demokrasi kita sekarang. Kalangan elit di "atas" merasa pergeseran itu "sudah cukup". Sementara masyarakat di bawah sana, dengan jumlah yang paling banyak, dengan pengetahuan yang paling sedikit, merasa tidak banyak yang berubah. Kekecewaan mulai muncul ketika nyangkut di tengah-tengah, dan belum bisa melihat perubahan itu terjadi. Sementara, eksesnya adalah anarki merajalela, karena demokrasi kemudian dipahami sebagai "adu kuat".

Banyak pihak menilai, demokrasi kita sudah kebablasan. Saya pikir, justru kita bahkan belum menyentuh esensi demokrasi. Kenapa harus berdemokrasi, bagaimana demokrasi memandang perbedaan, belum sepenuhnya dipahami oleh lapisan bawah. Bahkan tampaknya masih banyak yang tidak percaya bahwa demokrasi adalah jawaban atas kebhinekaan negeri ini.

Saya percaya pada demokrasi. Bahwa demokrasi mensyaratkan masyarakat yang mampu berbicara atas dirinya sendiri, apa yang menjadi kepentingannya untuk diakomodir oleh penyelenggara negara ini. Bahwa perbedaan itu ada, bisa dijawab dengan demokrasi jika kita benar-benar percaya bahwa mendialogkan perbedaan, akan membawa kita pada toleransi, dan saling menghargai. Setajam apapun perbedaan itu, demokrasi menjamin hak individu untuk menyuarakan pendapatnya.

Tapi itu semua butuh upaya yang serius dan konsisten. Pendidikan demokrasi, harus dibangun di lingkungan yang demokratis. Selama paradigma pendidikan tidak mempercayai demokrasi, bagaimana mungkin melahirkan orang-orang yang demokratis? Demokrasi bukan sekedar teori, ia harus dipraktekkan dalam lingkungan pendidikan. Anak didik tidak perlu menghafalkan definisinya, tetapi memahami esensinya. Dan yang paling penting, dapat mempraktekkan sikap demokratis dalam kehidupan sehari-harinya.

Bagaimana dengan pendapat yang menentang demokrasi? Ironisnya, demokrasi bisa dijatuhkan oleh para anti-demokrasi dengan jalan yang demokratis. Ini bisa terjadi ketika demokrasi hanya dipahami sebagai prosedur, jumlah suara yang bisa dimanipulasi, dan rendahnya pemahaman atas demokrasi itu sendiri. Maraknya politik uang, kampanye dengan janji-janji palsu tentang proposal modal usaha, dan janji-janji normatif, masih bisa terjadi karena masyarakat belum kritis.Para anti-demokrasi bisa memobilisasi banyak sekali suara, yang seolah-olah adalah aspirasi yang demokratis, lalu menggunakan fasilitas suara terbanyak untuk mengusir demokrasi.

Suara yang banyak itu, semu belaka. Banyak individu di dalamnya, yang termobilisasi tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi. Mereka hanya termakan jargon dan indoktrinasi. Mereka bisa kekuatan besar yang mampu menggoyangkan bandul agar bergeser kembali ke kiri, jauh sekali ke kiri bahkan melampaui suatu masa dimana demokrasi hanyalah berisi penataran belaka.

Demokrasi menuntut kemampuan individu untuk bersuara, suara yang sudah melalui penafsiran, analisa, evaluasi, dan internalisasi dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Ini masalah kualitas. Artinya, kalau ada yang tidak percaya dengan logika kemandirian rakyatnya, sama saja dengan menafikan logika demokrasi. Pemimpin yang demokratis, memiliki tanggung jawab moral untuk mewujudkan masyarakatnya yang mandiri, kalau ia masih percaya pada demokrasi.


-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar