12 Feb 2010

Dibalik Gagasan Kekerasan dalam Agama

Nino Satria via stock.xchng
Banyak teori dan dugaan yang bermunculan, terutama sejak merebaknya aksi terorisme 11 September 2001. Semua upaya ini untuk memahami kenapa terorisme bisa terjadi, kenapa agama yang seharusnya menjadi jalan menuju kedamaian, malah membawa malapetaka dan bencana?

Belakangan isu terorisme kembali merebak, setelah sempat adem setelah tertembak matinya Noordin M. Top, bahkan sampai "dua kali" oleh media massa kita. Teringat buku Kala Agama Jadi Bencana, yang ditulis Charles Kimball. Buku ini sempat jadi masalah ketika diluncurkan, memunculkan banyak kecaman, bahkan ancaman kekerasan.

Tulisan ini saya ambil sebagian besar dari buku itu. Beberapa bahkan saya tulis ulang, terutama dari ulasan Dr. Sindhunata (Romo Shindu) sebaga penulis pengantar buku ini. Sebagian lain saya cuplik dari buku Nusantara: Sejarah Indonesia, karya Bernard Vlekke. Juga sebagai upaya memahami, kenapa kekerasan agama ini seperti tidak akan pernah berakhir, bahkan cenderung dieksploitasi secara politis dan ekonomis oleh pihak-pihak tertentu.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa agama itu sendiri adalah masalah, dengan argumen bahwa pandangan dunia keagamaan bersifat anakronistik. Pandangan khas mengenai suatu agama sebagai satu-satunya jalan kebenaran, dan yang lainnya salah. Karenanya agama dipandang tidak relevan, karena berpotensi memecah belah dan merusak. Bukankah klaim kebenaran yang saling bertentangan secara tak terelakkan mengarah pada konflik?
Mungkin, kasus terbesar akan muncul dari dua agama besar di dunia, Kristen dan Islam. Kedua agama ini merupakan yang terbesar di dunia, diperkirakan hampir 1,8 milyar pemeluk Kristen, dan 1,3 milyar pemeluk Islam di dunia. Kisah-kisah yang berbau kekerasan dalam perkembangan kedua agama ini, mungkin yang paling banyak mewarnai sejarah kekerasan dalam garis waktu keagamaan.

Bukan berarti agama-agama lain absen dari garis waktu itu, tetapi dorongan misi yang kuat pada kedua agama di atas mempunyai kedudukan penting dalam mendorong eksklusivisme sempit. Ironis, bahwa terkadang sikap dan perilaku yang ditumbuhkan secara diametris berlawanan dengan inti ajaran yang didakwahkannya.

Memahami dinamika ini, dibutuhkan analitis kritis atas masalah inti yang terdapat pada setiap agama. Meskipun banyak anggapan tabu untuk memperdebatkan agama di muka publik, tetapi kegagalan membangun dialog ini berkontribusi cukup signifikan dalam terjadinya konflik yang melahirkan bencana.

Ada 5 tanda yang ditulis Kimball yang bisa membuat agama busuk dan korup. Pertama, bila suatu ajaran mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran mutlak dan satu-satunya. Agama itu tidak lagi peduli bahwa Tuhan sebenarnya "hanyalah" sebutan manusia tentang Ke-Segala-Maha-an yang tak sanggup diekspresikan manusia dengan kemiskinan bahasanya. Ini adalah bentuk korupsi manusia terhadap kekayaan Tuhan.

Tanda kedua, adalah ketaatan buta kepada pemimpin keagamaan mereka. Menurut Kimball, agama apabila autentik, tidak pernah menafikan intelektualitas dan kebebasan manusia. Apabila ajaran agama tertentu bertentangan dengan akal sehat, membatasi kebebasan intelek, meniadakan integritas individual pengikutnya dengan cara menuntut ketaatan buta terhadap pemimpin karismatik mereka, maka patut diwaspadai. Kimball merujuk pada kasus Peoples Temple-nya Jim Jones di Guyana, Aum Shinrikyo di bawah Asahara Shoko di Jepang, dan gerakan David Koresh di Texas.

Ketiga, yang bisa menunjukkan agama jadi korup adalah bahwa agama mulai gandrung merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikan jaman tersebut ke dalam zaman sekarang. Visi religius tentang kesempurnaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang buruk, tetapi Kimball memperingatkan jika visi itu mulai direalisasikan, dan para pemeluknya percaya bahwa Tuhan sendiri yang menginginkannya, itu adalah tanda agama mulai korup dan jahat. Kimball merujuk pada rejim Taliban di Afganistan, ide negara Yahudi Rabi Mei Kahane, dan kelompok koalisi Kristen Amerika Pat Robertson.

Ide negara teokratis itu masih berlangsung dan menjadi hantu yang menakutkan di zaman modern ini. Kimball merujuk pada kegagalan Raja Daud dan Sulaiman, di titik nadir pemerintahannya. Kebangkrutan itu diakhiri dengan hancurnya total Yerusalem, dan pembuangan orang Yahudi ke Babilonia tahun 587 SM. Situasi kritis yang ditimbulkannya, menjadi konteks kemunculan para nabi. Mereka mengecam kebobrokan agama, negara, dan masyarakat. Tradisi profetis kritis mereka kiranya lebih cocok diperjuangkan dalam iklam pluralistis di zaman ini.

Tanda keempat adalah bila agama membenarkan dan membiarkan terjadinya "tujuan yang membenarkan cara". Pikiran pokoknya™ ini akan menyalahgunakan komponen dari agama itu sendiri. Agama tak mungkin ada tanpa komponen yang hakiki, seperti ruang dan waktu yang sakral, komunitas dan institusi keagamaan. Komponen tersebut sejatinya adalah sarana, namun dapat dijadikan tujuan, dan untuk mencapainya digunakanlah segala cara.

Agama dengan mudah menjadi korup ketika sarana tersebut dijadikan tujuan. Untuk menghindarinya, Kimball menyarankan untuk belajara dari Mahatma Gandhi. Gandhi memiliki tujuan yang jelas, sesuai dengan ajaran agamanya. Namun dalam merealisasikan tujuannya itu, ia tidak pernah memarjinalkan kelompok tertentu. Ia malah mengajak kelompok lain untuk membantu kelompoknya mencapai tujuannya. Namun ia tak pernah mengubah tujuan menjadi sarana, dan memutlakkan sarana hanya sebagai pencapaian tujuan.

Memang tak mudah bersikap seperti Gandhi. Malahan sering terjadi sebaliknya, untuk mempertahankan kebenaran dan mengejar tujuannya, muncullah ide perang. Bila perang mulai dipekikkan, inilah tanda kelima menurut Kimball bahwa agama mulai menjadi korup. Sejarah tentang perang suci dan aksi teror bisa menunjukkan itu.

Kimball sendiri menunjukkan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Bukankah Islam berasal dari akar kata Arab s-l-m, yang pengertiannya berkaitan dengan "tunduk kepada Tuhan" dan "damai".  Turunannya adalah salam, Islam, dan muslim. Salam, dalam bahasa Ibrani shalom, berarti perdamaian. Dalam Islam berulangkali dijelaskan betapa pentingnya jihad melawan diri sendiri, melawan egoisme, dan dosa yang selalu menghuni hati manusia, lebih penting daripada melawan orang luar.

Dalam konteks Indonesia, Islam kontemporer tidak terlepas dari latar belakang kesejarahan itu. Bangkitnya semangat keagamaan  belakangan ini tidak muncul begitu saja, melainkan bagian dari perkembangan penguatan karakter Islam terutama setelah Perang Jawa dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro. Pada masa inilah terjadi gelombang pasang kaum "putihan" yang tak ada presedennya dalam sejarah Indonesia.

Istilah "putihan", merujuk pada kelompok santri. Istilah ini digunakan Clifford Geertz untuk membedakannya dari Islam "priyayi" dan "abangan".  Istilah putihan ini lebih populer dan pas sebagai lawan kata abangan, karena merujuk pada sejarah bahwa mereka adalah kaum yang memandang pemeluk Islam abangan adalah mereka yang menjalankan Islam secara tidak sempurna. Hanya merekalah, kaum putihan, yang menjalankan Islam dengan benar.

Raja-raja Jawa Islam pada waktu itu, lebih dekat kepada tradisi Majapahit daripada tradisi Islam dari semenanjung Arabia. Ini juga yang menjadi dasar munculnya istilah abangan, karena mereka memeluk Islam pada dasarnya atas motif politis dan ekonomis. Daripada memilih bersekutu dengan Portugis, mereka lebih memilih Johor dan Demak, yang berarti memilih Kristen atau Islam. Situasi ini yang menyebabkan sinkretisme Islam di Indonesia lebih dominan, dan disebutlah sebagai kaum abangan itu. Di satu sisi, ini memberi wacana perdamaian, toleransi, dan persahabatan terhadap ajaran Islam oleh para raja dan masyarakat Jawa waktu itu.

Adalah Snouck Hurgronje, yang menulis bahwa sekelompok haji dan pelajar yang baru pulang dari Mekkah, tidak sekedar membawa kurma dan air zamzam, tetapi juga pemahaman terhadap Islam yang kaku dan intoleran. Perlawanan terhadap kebijakan kolonial, membawa mereka pada semangat "anti kafir londo" dan menjadi orang Jawa yang mudah marah serta rela mati demi agamanya. Bahkan setelah "kafir londo" itu pergi, sasaran berikutnya adalah pemerintah Muslim keturunan Jawa yang kurang "taat" agamanya.

Tampaknya, pandangan Kimball terhadap tanda-tanda terkorupsinya agama oleh manusia, muncul dari gagasan pemurnian ajaran ini. Bahwa kaum putihan memandang negara ini telah menjadi abangan, dan tidak layak disebut Islam. Mereka tidak bisa melihat, bahwa pemimpin sekarang, dalam ukuran Islam Jawa abad ke-18 sudah sangat saleh. Perkembangan jaman akan selalu jadi serba salah, karena perspektif ideal buat mereka adalah  masa lalu, lengkap dengan atributnya.

Akankah ini yang akan terus melahirkan kekerasan? Semoga tidak. Jauh lebih penting mewaspadai kelompok yang memanfaatkan kehadiran mereka, demi kepentingan politik dan keuntungan materi semata. Biar bagaimananpun, perbedaan pandangan kaum "putihan" dan "abangan" adalah alami, dan sesuatu yang pantas dihargai. Dan seperti kata Kimball di atas, Kegagalan kolektif kita dalam membuka ruang dialog terbuka, hanya akan memberi celah bagi "orang ketiga", dan mengambil keuntungan atasnya. Wallahualam.

Peace...!

* Tulisan ini bisa ditemukan pula di Politikana.com

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar