25 Jan 2010

Revolusi itu Tidak Terlalu Buruk, Mi Amigo

wikipedia.org
Cerita ini saya dapat dalam 3 hari pertemuan saya dengan banyak sekali orang dari bermacam-macam latar belakang. Mereka semua memang datang untuk satu acara, Regional Meeting of Positive Deviance Forum. Tapi, karena Positive Deviance adalah salah satu pendekatan pemecahan masalah berbasis sumberdaya lokal (asset based problem solving approach), maka kasus yang dipresentasikan datang dari berbagai latar belakang. Ada kasus dari ranah medis, kesehatan dan gizi anak, perdagangan anak, bahkan dunia bisnis.

Baiklah, saya tidak sedang melaporkan kegiatan saya sehingga absen beberapa hari dari dunia maya. Tapi saya sedang mencoba berbagi dengan Anda, tentang apa yang menarik dari sudut pandang saya, dan mungkin menarik untuk Anda pembaca blog ini.

Cerita yang akan saya tulis ini saya dapat justru ketika makan pagi, satu meja dengan seorang professor dari University of Texas (pada waktu bertemu). Arvind Singhal, namanya. Ia seorang dosen komunikasi, bergelar panjang hingga saya lupa lagi apa saja gelar yang ia sandang. Tapi (tampaknya) ia pun tidak terlalu peduli dengan itu, ia terlalu rendah hati. Yang paling saya sukai adalah, ia sangat pandai bercerita. Ia seorang ahli dalam storytelling.

Pada saat makan pagi itu, ia bertanya kepada saya dan teman saya tentang apa yang kami lakukan, tentang pekerjaan kami. Secara sekilas kami bercerita, dan menyinggung konsep Paulo Freire. Dan dari situlah cerita ini bermula.

Arvind, langsung konek soal Paulo. Ia mengajukan sebuah cerita tentang Paulo Freire, di Nicaragua, beberapa tahun setelah Freire kembali ke Brasil karena tumbangnya kediktatoran militer yang mengusir Freire ke pengucilan selama beberapa tahun. Ya, cerita ini tentang Paulo Freire, ketika berkunjung kembali ke Nicaragua. Begini kira-kira ceritanya...

Ketika Freire dikucilkan dan lari ke Nicaragua, ia memiliki banyak murid dan pengikut. Di antara pengikutnya itu telah menjadi Menteri Pendidikan Nicaragua, begitu revolusi sosial menang, dan people power menguasai negara. Saking bahagianya, si menteri ingin sekali mengundang Freire untuk kembali menengok ke Nicaragua, dan turut merayakan kemenangan mereka. Maka ia pun menelepon Freire yang sudah kembali ke Brasil.
"Mi Amigo, Paulo... maukah Anda berkunjung ke Nicaragua baru kami? Akan sangat menyenangkan merayakan kemenangan revolusi ini bersamamu, kawan..." pintanya melalui telepon.

Paulo Freire menyaguhi undangan itu. Tapi ia menolak semua fasilitas yang disodorkan si menteri. Awalnya menteri itu menawarkan jemputan dari bandara, siap menyediakan hotel termewah di Nicaragua, dan akan menjamunya dengan makan malam terbaik di negeri itu.

"Saya punya banyak teman di Nicaragua. Saya bisa meminta mereka menjemput saya, dan bermalam di rumahnya. Lagipula saya kangen berbincang dengan teman-teman saya itu..." jawab Freire menolak tawaran si menteri.

Maka terbanglah Freire dari Brasil menuju Nicaragua, dan sesampainya di bandara, Freire dijemput seorang temannya. Dengan bersepeda motor, Freire meninggalkan bandara menuju rumah temannya itu. Malam itu ia bermalam di sana, dan menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang.

Paginya, Freire bersiap menuju kantor si menteri. Ia memilih untuk berjalan kaki, karena menurutnya kantor menteri itu tidak terlalu jauh dari tempatnya menginap. Pada saat akan menyebrang jalan di sebuah perempatan, ia berhenti karena lampu menyala merah untuk pejalan kaki. Ia melihat ke arah seorang pengemis perempuan, tua dan sendirian.

"Querida madre, apa pendapatmu tentang revolusi di Nicaragua ini? Bukankah rakyat kini sudah menang?" tanya Freire pada perempuan tua itu.

Ditanya begitu, perempuan yang tadinya duduk mengemis itu lalu berdiri, dan dengan mata melotot ia menjawab,

"REVOLUCION? Revolusi apa? Revolusi dengkulmu!!? Pergantian pemimpin negeri ini, tidak ada gunanya! TERRIBLE revolución!!"

"Uhm... Terrible revolución huh...? Bagaimana Anda bisa berkata begitu?" tanya Freire penasaran.

"Pemimpin baru kami itu bodoh semua! Estúpido, belegug! Dulu mereka berteriak atas nama rakyat, sekarang mereka sibuk sendiri, dan melupakan kami yang miskin ini...!!" jawab perempuan itu berapi-api.

Pada saat yang sama, lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, dan Freire melanjutkan perjalanannya. Ia pun pamit dan mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu melanjutkan berjalan kaki menuju kantor menteri temannya itu.

Sesampai di kantor si menteri, Freire disambut dengan upacara. Semua penghuni kantor berjejer dan menyalami Freire, hingga ia sampai di ruang kerja si menteri, yang besarnya tak kalah dengan lapangan tenis.

Di dalam, terlihat si menteri menyambutnya dengan tangan terbuka, memeluknya erat dan mempersilakannya duduk. Si menteri itu sendiri duduk di belakang meja besar nan mewah, dan merekapun duduk berseberangan.

"Mi amigo, apa pendapatmu dengan Nicaragua yang baru ini? Kau sudah lihat kan hasilnya sekarang?" sambut si menteri bungah, sambil tangannya menunjukkan ke sekeliling ruangan luas nan mewah itu.

"Uhm... rasanya pendapatku tidaklah terlalu penting, kawan. Lebih penting lagi apa pendapat rakyatmu..." jawa Freire kalem sambil tersenyum.

"Ah... apa pula yang sudah kau dapat dari rakyatku tentang revolusi kami ini?" tanya si menteri penasaran.

Maka diceritakanlah pertemuannya dengan perempuan tua di jalan itu, yang sontak membuat si menteri jadi tidak enak duduk seolah ambiennya kumat. Wajah bungahnya mendadak berubah menjadi merah padam.

"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Dimana perempuan itu, biar kami jemput dan akan kami usulkan kepada menteri sosial untuk mengurusnya!" ujar si menteri geram. "Terrible revolución?! Meeh..." gumamnya mangkel sambil meninju telapaknya sendiri.

Freire hanya tersenyum, lalu duduk bersandar di kursi dengan kedua tangan menyangga belakang kepala. Sambil menyilangkan kaki, Freire menjawab pertanyaan si menteri.

"Sebenarnya, tidak juga Pak Menteri... Revolusi ini sama sekali tidak buruk..." ujarnya pelan.

"Tidak?! Bah! Kau buat aku pusing, mi amigo! Apa maksudmu?" samber si menteri.

Masih dengan posisi santai, sambil menatap ke arah si menteri, Freire menjawab,

"Mi amigo el señor ministro, coba lihat dari sisi yang lain. Perempuan itu ada di tengah jalan, di ruang publik. Dan saya adalah orang asing untuknya, kami sama sekali tidak saling kenal sebelumnya. Tapi ia menjawab pertanyaan saya, dengan suara keras, sambil berdiri dan berapi-api, tanpa harus menengok kanan kiri untuk memastikan bahwa ia aman untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya..."

Cerita di atas tentu sudah saya bumbui macam-macam, sehingga sedikit berlebihan. Arvind menceritakannya kepada saya dalam Bahasa Inggris, lengkap dengan ekspresinya yang menawan. Saya coba ceritakan kembali untuk Anda, dengan bahasa yang saya mengerti.

Pada saat makan malam hari berikutnya, Arvind bertanya kepada saya, apakah cerita Freire itu menarik. Saya bilang, tentu saja. Lalu ia bertanya lagi, apakah cerita itu tetap menarik seandainya cerita itu hanyalah fiksi karangannya belaka?

Saya jawab, "I don't care."

Saya tidak peduli cerita itu fiksi atau nyata, karena yang pasti cerita itu menginspirasi saya untuk tetap percaya, bahwa demokrasi kita yang baru berumur sepuluh tahunan ini, faktanya memang memberi banyak harapan baru, terlepas dari karut marut yang terjadi belakangan ini.

Paling tidak saya bisa bilang, reformasi kita sama sekali tidak gagal, kawan...

* Terimakasih kepada Google Translate yang bisa memberi sedikit bumbu Spanish dalam cerita di atas.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar