2 Okt 2009

Lagi-lagi Bencana, Saatnya Belajar!!

koran tempo

Tak tahu lagi mau ngomong apa. Yang pasti, turut berduka cita atas semua korban bencana. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan.

Semoga tidak terdengar lagi kabar mengenai lambatnya penanganan korban, dan ricuhnya pemberian bantuan. Tak ada lagi data-data yang simpang siur, tak ada tuduhan saling tumpang tindih, siapa melangkahi siapa, tak ada lagi korban terlantar, tak ada lagi korupsi bantuan bencana.

Sudah saatnya integrasi materi penanggulanagan bencana dalam kurikulum pendidikan direalisasikan. Sudah saatnya masyarakat diberdayakan, jangan hanya dijadikan tontonan wisata bencana. Pengalaman Jogja membuktikan, memberdayakan masyarakat korban untuk merehabilitasi dirinya sendiri lebih efektif. Mekanisme ini tampaknya akan digunakan dalam penanganan bencana di Jawa Barat dan Sumatera, baru-baru ini.

Dari web IRE, Jogjakarta, bangunan bambu bisa menjadi alternatif bangunan tahan gempa. Di samping kekuatan bambu cukup tinggi (berdasarkan hasil penelitian, kekuatan tarik pada bagian kulit bambu untuk beberapa jenis bambu melampaui kuat tarik baja mutu sedang), ringan, sangat cepat pertumbuhannya (hanya perlu 3-5 tahun sudah siap ditebang), berbentuk pipa berruas sehingga cukup lentur untuk dimanfaatkan sebagai kolom, namun bambu juga mempunyai kelemahan berkaitan dengan keawetannya.

Pada prinsipnya rumah bambu tahan gempa harus dibuat dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Mengunakan bambu yang sudah tua, sudah diawetkan dan dalam keadaan kering,
  2. Rumah bambu didirikan di atas tanah yang rata,
  3. Pondasi dan sloof (sloof diangker ke pondasi di setiap jarak 50-100 cm) mengelilingi denah rumah,
  4. Ujung bawah kolom bambu masuk sampai pondasi, diangker dan bagian dalam ujung bawah kolom diisi dengan tulangan dan mortar),
  5. Elemen dinding yang berhubungan dengan sloof atau kolom harus diangker di beberapa tempat,
  6. Di ujung atas kolom diberi balok ring yang mengitari denah bangunan, elemen dinding juga harus di angker dengan balok ring tersebut,
  7. Bila ada bukaan dinding seperti angin-angin, jendela dan pintu, harus diberi perkuatan di sekeliling bukaan tersebut,
  8. Pada setiap pertemuan bagian dinding dengan bagian dinding lainnya, harus ada kolom dan dinding diangker kolom tersebut,
  9. Rangka atap (kuda-kuda) bisa dikonstruksi dengan tumpuan sederhana (sendi-rol), di mana setiap dudukan rangka atap harus diletakkan pada posisinya, dan perlu diangker dengan kolom,
  10. Ikatan angin pada atap harus dipasang di setiap antar kuda-kuda. Ikatan angin ini dipasang pada bidang kemiringan atap di bawah penutup atap, dan pada bidang vertikal diantara dua kuda-kuda.
Sementara, dari web arsitektur ITB, saya temukan gagasan mengenai rumah bambu ini untuk rekonstruksi bencana gempa dan tsunami Aceh yang lalu. Gagasan yang menarik, semoga sudah ada yang menindaklanjuti beberapa gagasan yang masuk akal ini.

ar.itb.ac.id

Entah ini sudah bencana yang ke berapa, kalau aparat kita tidak belajar juga, keterlaluan!

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar