7 Okt 2009

Bhinneka Tunggal Ika yang Renta

Mengkhawatirkan multikultur di Indesonia ini, yang bisa berujung pada disintegrasi bangsa, mendorong kita harus berpikir kembali tentang sistem pendidikan multikultur. Kita sudah punya Bhinneka Tungal Ika, "Berbeda tapi satu", slogan yang terpampang di kaki burung garuda itu. Slogan itu kini tampak tua dan renta, tak mampu lagi menyatukan kita.

Teringat saya pada istilah shared learning. Memangnya apa sih shared learning? Apa hubungannya dengan situasi kebhinekaan kita?

Shared learning berkaitan dengan kultur. Paling tidak itulah impresi saya, terutama setelah membaca sebuah temuan tentang Konsep Pendidikan Formal dengan Muatan Budaya Multikultural, sebuah opini oleh Prof. Dr. Sutjipto, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, dan dimuat dalam Jurnal Pendidikan Penabur, No.04/ Th.IV/ Juli 2005.

Berikut adalah kutipan dari tulisan tersebut;
Kultur sendiri memang sulit didefinisikan, namun tidak dapat disangkal bahwa ia berfungsi sebagai katalisator pembentukan kepribadian manusia itu, dan sekaligus menjadi tujuan kehidupan suatu masyarakat. Barangkali apa yang dijelaskan oleh Schein (1992) dapat menolong memahami pengertian kultur tersebut. Menurut Schein, ada beberapa hal yang berhubungan dengan konsep kultur, yaitu:
  1. regularitas perilaku manusia jika ia berinteraksi dengan yang lain, yang meliputi bahasa yang dipergunakan, kebiasaan dan tradisi, ritual yang dilakukan;
  2. norma kelompok, yaitu standar dan nilai yang berkembang dalam suatu kelompok;
  3. nilai yang ingin dicapai oleh suatu kelompok dan diketahui umum;
  4. filosofi atau keyakinan yang dianut oleh suatu komunitas;
  5. aturan main, yang harus diikuti oleh anggota komunitas itu;
  6. iklim, yaitu apa yang dirasakan bersama tentang lingkungan dimana seseorang berada;
  7. ketrampilan yang melekat yang diwariskan kepada generasi muda;
  8. kebiasaan berpikir, model mental dan/atau paradigma linguistik, yang merupakan kerangka kognitif yang dirasakan sebagai acuan dalammembangun persepsi, berpikir dan bahasa yang dipakai kelompok;
  9. shared meaning, yaitu munculnya pengertian yang diciptakan oleh kelompok pada saat mereka berinteraksi satu sama lain, dan
  10. akar metafora (root metaphors) atau integrasi simbol, yaitu ide, perasaan, dan citra kelompok yang dikembangkan sebagai ciri kelompok itu yang dapat atau tidak diapresiasi secara sadar, namun melekat dalam berbagai karya seperti bangunan, layout kantor dan artifak lainnya.
Ada pernyataan Schein yang perlu dikutip, sehubungan dengan kultur terutama dalam kaitannya dengan suatu proses belajar. Ia mengatakan sebagai berikut:
The most useful way to think about culture is to view it as the accumulated shared learning of a given group, covering behavioral, emotional, and cognitive elements of the group members’ total psychological functioning. For shared learning to occur, there must be a history of shared experience, which in turn implies some stability of membership in the group. Given such stability and shared history, the human need for parsimony, consistency, and meaning will cause the various shared elements to form into patterns that eventually can be called culture (p.10).
Di sini shared learning disebutkan hanya akan terjadi jika memang pernah terjadi pertukaran pengalaman yang mempengaruhi status para anggota kelompok tersebut. Implisit saya menangkap, keberadaan kelompok itu terjadi secara organik, dan sudah berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Mungkin saja terjadi tanpa, atau dengan intervensi pihak lain.

Shared learning, yang terjadi dalam sebuah kelompok/komunitas, hasilnya adalah shared meaning. Ini akan terinternalisasi menjadi filosofi, atau norma dalam konteks sosial. Shared learning, dalam kelompok yang dengan serius berinteraksi, menemukan makna-makna baru kehidupan melalui interaksi tersebut. Tidak ada narasumber, kecuali pengalaman mereka sendiri. Semua menjadi narasumber dalam kelompok.

Sekarang bayangkan di antara masyarakat kita yang multikultur ini, bisa terlibat dalam dialog yang setara, dalam konteks shared learning. Sistem pendidikan yang mengadopsi pendekatan seperti ini, menurut saya adalah sebuah terjemahan bebas dari Bhinneka Tunggal Ika itu. Terlibat, bergaul, berbagi pandangan, hingga menyepakati aturan bersama, demi hidup bersama. Multikultur yang menjadi latarbelakang orang-orang, membentuk satu kesepahaman baru, satu kultur baru.

Anda ingat film Fight Club? Ada banyak klub yang saya kenal melalui film-film Hollywood. Salah satunya adalah klub pecandu alkohol. Dalam klub ini Anda bisa berkeluh kesah di antara para mantan pecandu, atau yang masih jadi pecandu dan berharap bisa berhenti. Mereka mencari support group. Nah, dalam film Fight Club, gagasannya adalah menebar anarki dan kekerasan sebagai salah satu terapi. Terapi terhadap penyakit apa? Nah, ini dia. Penyakit-penyakit sosial, yang menjangkit tanpa bisa dideteksi dengan stetoskop dokter.
You're not your job. You're not how much money you have in the bank. You're not the car you drive. You're not the contents of your wallet. You're not your fucking khakis. You're the all-singing, all-dancing crap of the world.
Melalui kekerasan, baik melampiaskan kekerasan atau menerimanya sebagai sebuah keniscayaan, Fight Club bersama-sama memaknai kembali kehidupan. Dan ternyata banyak yang berhasil menemukan makna itu melalui jalan rintisan Tyler Durden, si dedengkot Fight Club. Durden sendiri, sempat kecanduan menghadiri berbagai klub, hanya demi menemukan citra dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia mendirikan Fight Club.

Mana shared learning-nya? Mana pula belajar kelompoknya? 

Belajar bersama-sama dalam kelompok, dalam suasana saling dukung, dan saling memberi-menerima, merupakan kunci yang seharusnya menjadi landasan utama shared learning. Fight Club adalah sebuah contoh ekstrim.

Di sana penuh kekerasan. Tapi lihatlah bagaimana seorang pemimpin seperti Durden terkadang juga harus terkapar dihajar orang lain, hanya demi sebuah metode belajar yang diyakininya. Ini bukan tentang kalah-menang, ini tentang memaknai sebuah proses, mengambil hikmahnya, dan menggeneralisirnya menjadi aturan main, kebiasaan berpikir, bahkan filosofi baru. Mungkin juga ideologi atau bahkan 'agama' baru.

Dalam diskusi, melalui pengalaman masing-masing orang, terjadilah interaksi. Interaksi ini bisa membangun makna-makna baru, yang pada akhirnya melahirkan cara pandang dan cara berpikir baru.

Tanpa interaksi antarkultur, dialog antar budaya, antar agama, antar orang yang saling berbeda, tak akan terjadi saling belajar, yang pada akhirnya tak melahirkan kesepahaman aturan untuk hidup bersama. Yang ada adalah berkelahi untuk saling menyingkirkan yang berbeda, dan bernafsu menindas pihak lainnya.

Kapan kita bisa 'beradu' pikiran seperti ini di ruang sekolahan, atau di saat ronda malam di poskamling?

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar