20 Sep 2009

Cicaknya Ditelan Buaya, Keselek Nggak Ya..?

http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=download&id=904740


Sedang terjadi heboh di desa Indesonia. Karena berbagai sebab, beberapa centeng pak kades di desa saling menyerang dan unjuk kedigdayaan. Entah darimana biang keroknya. Karena penasaran, maka saya coba cari tau dari beberapa warung di jalan yang jadi sumber informasi warga.

Indesonia ini kepalanya adalah Pak Bayu. Seperti juga kepala desa pada umumnya, Pak Bayu punya beberapa centeng untuk urusan penegakan aturan desa. Berbeda dengan centeng biasa, masing-masing centeng ini punya wewenang untuk menggaruk siapa saja yang melawan aturan desa, atau mengemplang kekayaan/aset desa.

Centeng pertama, Bung Poli, adalah lulusan akademi Hansip. Centeng kedua, Ki Jaka, dia ini centeng moderat. Tugasnya mengajukan tuntutan hukum kepada siapa saja yang melanggar aturan desa. Centeng yang ketiga, ini paling baru direkrut, tapi katanya sakti mandraguna. Namanya Ki Paka. Dia direkrut secara konstitusional, karena diamanahkan melalui permaklumatan. Tugasnya 'sederhana', cuma mengejar para pengemplang kas desa, soalnya sudah jadi rahasia umum kalau desa ini sebenarnya kaya raya, tapi kelakuan warga dan aparatnya seringkali mengkadali sumberdaya desa. Dan denger-denger nih, selama ini baik Bung Poli maupun Ki Jaka tidak berdaya dengan kecanggihan modus operandi mereka.

Cinta Segitiga Berdarah Berujung Tuduhan Suap
Kasus ini pertama kali terasa 'panasnya' ketika anak sulung Ki Paka, Anta menjadi tersangka dalam kasus tewasnya seorang saudagar. Si Anta menjadi tersangka sebagai otak dari pembunuhan itu, menjadi mastermind-nya begitu. Meskipun demikian, masih menyisakan banyak tanda-tanya, apakah ini benar terjadi, atau hanya akal-akalan untuk menjebak saja. Dari bukti-bukti awal, kisah pembunuhan ini berkaitan erat dengan nama seorang warga cantik yang bekerja menjadi pelayan kedai. Warga langsung shock mendengar beritanya.

Penyelidikan lebih lanjutpun dilakukan oleh Bung Poli, dan tiba-tiba meletup berita tentang penyalahgunaan wewenang Ki Paka, berkaitan dengan kasus korupsi lainnya. Anta telah bertemu Angja, salah seorang tersangka dalam kasus korupsi SKRT di Singaparna. Anta lalu membuat kesaksian, bahwa dalam pertemuan itu,  Angja membeberkan anggota keluarga Ki Paka yang lain telah menerima sesuatu dari Angja. Angja sendiri kemudian melaporkan pemerasan oleh oknum Ki Paka berisinial AM & ES yang dialaminya. Muncul kehebohan berikutnya. Anggota keluarga Ki Paka, yang seharusnya menyeret para pengemplang kas desa, malah ikut 'main-main'? Warga tambah shock.

Salah satu bukti yang dikemukakan dalam kasus Angja-KPK ini adalah surat pencabutan pencekalan Angja, yang ada di pihak kepolisian. Sedianya Angja ini dilarang berkeliaran di luar desa, karena tersangkut perkara. Tapi sampai sekarang Angja masih belum tertangkap, alias masih buron. Surat pencabutan pencekalan ini katanya dibuat oleh salah satu putra Ki Paka, tapi kemudian dibantah dengan tegas oleh putra-putra Ki Paka. Dalam sebuah pertemuan terbuka, putra-putra Ki Paka menyampaikan bukti bahwa surat itu adalah palsu adanya. Pihak-pihak lain juga menyatakan Anta diragukan integritasnya. Ketika akan diangkat anak oleh Ki Paka, sebenarnya sudah ada suara-suara yang tidak suka, tapi para Mituwo tetap meloloskan namanya. Selama menjadi putra sulung Ki Paka, ia diduga telah melakukan 17 pelanggaran kode etik.
 
Kasus Bang Sianturi & Cicak vs Buaya, The Legend Begins...
Beberapa waktu yang lalu, Bang Sianturi, seorang pengusaha distribusi beras, tidak sanggup membuktikan kecukupan modal usahanya, sehingga ia ditegur oleh Ketua RT, Pak Bei. Berkali-kali ditegur, masih membandel. Akhirnya terjadilah krisis, dan dengan terpaksa melalui Pak Lupus, Pak Bei menggelontorkan sejumlah dana. Terjadi beberapa kali penggelontoran dana, hingga akhirnya total mencapai sekira 6,7 Trilyun. Melihat angkanya, warga ikutan shock. Itu duit siapa? Duit kami yang bayar pajak, atau apa?

Para pemegang saham ikut panik, karena saham mereka di Bang Sianturi hangus. Sedangkan nasabah-nasabah Bang Sianturi masih bisa diselamatkan oleh gelontoran dana Pak Lupus. Kabarnya, nasabah dengan deposito hingga 2M yang bisa diselamatkan. Sementara nasabah dengan uang di atas itu, harus mengikhlaskan nasib buruknya.Yang lebih sial lagi adalah para nasabah yang ikut menanam investasi ke rekanan Bang Sianturi, si Antaga. Karena sifat Antaga ini danareksa, bukan tabungan/deposito, maka BUKAN tanggung jawab Pak Lupus untuk menalanginya. Meskipun para nasabah mengaku membeli danareksa itu melalui Bang Sianturi, tapi keduanya tidaklah sama. Warga shock lagi, terutama yang kehilangan duitnya karena Antaga ternyata ngemplang.

Karena kasus ini melibatkan banyak uang, Pak Anas, salah satu nasabah yang tabungannya sangat besar, langsung panik. Ia mau mengambil uangnya dari Bang Sianturi. Sementara beberapa nasabah lain sudah duluan menarik uangnya, mungkin memanfaatkan gelontoran dana dari Pak Lupus kemarin. Kabarnya Bung Poli-pun mengirim surat kepada Bang Sianturi, supaya uang Pak Anas yang disetorkan sebagai modal waktu itu, bisa diambil kembali. Belakangan Bung Poli mengaku, bahwa surat itu dibuat atas permintaan Bang Sianturi. Katanya surat itu perlu dibuat, karena Bang Sianturi mendengar gosip bahwa Pak Anas tersangkut dengan kasus korupsi dan sedang diurusin Ki Paka. Keluarlah surat yang kontroversial itu.

Banyak yang bilang, setengah menuduh, kalau Bung Poli menerima persenan dengan membuat surat itu. Entah darimana sumber beritanya. Tapi yang bikin kuping Bang Poli panas, ada gosip bahwa si penyebar isu persenan itu adalah sesama centeng juga, si Ki Paka! Bung Poli bahkan mengklaim ia telah dizolimi seorang tukang nguping, tapi menolak telah menuduh Ki Paka. Nah, disinilah opera sabun itu dimulai.

Bung Poli merasa tidak terima kalau ia dicurigai sedemikian rupa oleh 'yuniornya.' Saking keselnya, Bung Poli menyebut Ki Paka Cicak, yang berani-beraninya melawan doski, si Buaya. Ia secara tidak langsung menuduh Ki Paka, secara Ki Paka lah yang memiliki wewenang cukup besar untuk urusan mengupingi orang-orang yang dicurigai. "Cicak kok melawan buaya. Apakah buaya marah? Enggak, cuma menyesal. Cicaknya masih bodoh saja. Kita itu yang memintarkan, tapi kok sekian tahun nggak pinter-pinter. Dikasih kekuasaan kok malah mencari sesuatu yang nggak akan dapat apa-apa." Sementara, di warung-warung di pinggir jalan, orang-orang mulai ramai membicarakan Cicak lawan Buaya...

Cicak vs Buaya, The Legend Continues
Sebenarnya, beberapa bulan lalu, ketika kasus tuding-menuding baru mulai merebak, Pak Kades Bayu pernah mengumumkan kepada warga bahwa ia sudah mengumpulkan ketiga centeng, Bung Poli, Ki Paka, dan Ki Jaka. Seperti biasa, Pak Bayu yang suka normatif kalau ngomong, menyampaikan kepada warga bahwa hubungan para centengnya baik-baik saja. Warga tidak perlu cemas. Tapi gimana mau ga cemas, lha centeng-centeng Pak Bayu itu kan bukan orang sembarangan. Mereka sedikit banyak bisa mempengaruhi ketentraman dan kesejahtaraan warga desa.

Bertolak belakang dengan pernyataan Pak Bayu, Bung Poli mulai unjuk gigi. Serangan balik dilancarkan, dan kali ini langsung ke arah Ki Paka. Ki Paka diinterogasi, dan akhirnya resmi dijadikan tersangka. Menurut jubir Bung Poli, tim Ki Paka telah menyalahgunakan kewenangannya dan tidak tertib administrasi. Mentang-mentang sakti mandraguna, menurut jubir itu, Ki Paka telah keduanya melanggar prosedur penerbitan dan pencabutan cegah-tangkal seseorang bepergian ke luar negeri. Selain itu, penerbitan surat itu tak didasarkan pada keputusan kolektif pimpinan. Orang yang dimaksud ternyata adalah para saudagar yang dicurigai Ki Paka terlibat dalam urusan pengemplangan kas desa. Wargapun langsung geger.

Aneh bin Ajaib. Pak Bayu diam saja. Padahal pada saat kampanye, Pak Bayu seringkali bilang bahwa urusan pengemplangan kas desa adalah salah satu prioritasnya jika terpilih kembali. Menurut Pak Bayu, dia tidak bisa mencampuri proses hukum yang sedang berlangsung antara Bung Poli dengan Ki Paka. Beliau cuma berpesan, agar keduanya santun dalam berdiskusi, dan menyampaikan pendapat.

Keanehan lainnya, maklumat yang sedang dibahas Mituwo untuk mengadili para pengemplang, tak dinyana malah berubah agendanya. Maklumat itu malah membuat ruang gerak Ki Paka akan semakin sempit, kalau tidak mau dibilang lumpuh. Lha Ki Paka itu kan jurus andalannya adalah Pukulan Tangan Seribu, tapi tangan Ki Paka akan dibatasi kalau mereka ikut dalam pertarungan. Gyiaahhh...

Anda pasti bisa menebak, yang mengusulkan pembatasan itu siapa, dia adalah Ki Jaka! Alasannya, ada maklumat terbaru yang menguatkan peran Ki Jaka, dan karenanya Ki Jaka merasa seharusnya punya andil lebih besar dalam mengatasi para pengempang itu... Alasan ini lalu dibantah beramai-ramai, terutama oleh teman-teman Ih Ce We.

Cicaknya Ditelan Buaya...
Kini, Ki Paka seolah-olah sedang dilucuti oleh Bung Poli, Ki Jaka, dan rancangan maklumat desa itu sekaligus. Ditambah lagi ketidaktegasan Pak Bayu dalam kasus ini, nasib Ki Paka semakin terkatung-katung. Dari 5 bersaudara, kini tinggal 2 bersaudara yang menjalankan organisasi Ki Paka. Tapi persoalan sebenarnya adalah kasus-kasus pengemplangan kas desa di masa depan. Sudah jadi amanat hati nurani warga desa, bahwa penyelesaian dan pencegahan kasus pengemplangan adalah harga mati reformasi. Kalau Ki Paka yang diharapkan, malah dilucuti, apa kata dunia?

Selama ini Ki Paka, meskipun baru direkrut,  mampu menyeret semakin banyak cantrik kelurahan yang ketauan ngemplang kas desa, dan memberi secercah harapan bagi warga desa. Banyak yang menganggap Ki Paka adalah pahlawan, mungkin bahkan dianggap sang ratu adil. Harapan itu membumbung sedemikian tingginya, lalu tiba-tiba serasa terhempas ke bumi karena perselisihan ini.
Apakah jangan-jangan, Pak Bayu dan kroninya punya kepentingan yang merasa terancam oleh kedigdayaan Ki Paka? Ah, sudahlah... tak baik rupanya berburuk sangka.

Karena tinggal 2 bersaudara yang mengurusi Ki Paka, Pak Bayu tampaknya tidak tega melihatnya. Pak Bayu lalu mau menerbitkan surat sakti, yang berlaku sementara untuk memberi landasan hukum atas penunjukan 3 orang personil sementara oleh Pak Bayu, yang akan membantu Ki Paka dalam bekerja. Katanya Begawan Emka sudah merestui surat sakti itu, dan tidak bertentangan secara hukum.

Tapi lalu banyak warga yang protes. Ki Paka tidak seharusnya diisi oleh orang-orang titipan. Ia harusnya indie, karena begitulah amanah permaklumatannya. Belakangan, Begawan Emka juga baru angkat bicara, mengenai kesalahkaprahan Bung Poli dalam menyidik Ki Paka. Kasus penyalahgunaan wewenang yang dituduhkan Bung Poli kepada Ki Paka, sama sekali bukan urusan hukum pidana, melainkan sifatnya administratif. Jadi, yang lebih cocok adalah mengadu ke si Pitung, itupun yang mengadu seharusnya adalah dua saudagar, yang diduga menikmati hasil pengemplangan, bukan oleh Bung Poli. Warga kali ini bukan shock, tapi mulai linglung.

Kalau memang salah alamat, lalu kenapa harus ada surat sakti Pak Bayu itu? Ya batalkan saja surat saksinya, lalu desak Bung Poli untuk membuktikan bahwa tuduhannya selama ini memang benar. Karena, kalau tidak benar, maka Bung Poli harus mengehentikan penyidikannya, dengan menerbitkan  SP3. Kayaknya, Begawan Emka sih yakin, bahwa Bung Poli salah alamat.

Warga bukannya orang-orang bodoh dan tidak peduli dengan situasi ini. Juga simbok di warung-warung yang selama ini menjadi sumber informasi bagi warga tentang perpolitikan di desa. Masalahnya, simbok punya agenda dan kepentingan. Kemana angin berhembus, simbok cuma ngikutin aja. Sing penting banyak yang nongkrong di warungnya, karena itu artinya dagangannya laris. Warga sendiri sudah mulai kehilangan kesabaran berkomunikasi dengan para aparat desa. Selain jawaban mereka yang selalu normatif, cara mereka berkomunikasi juga tidak selalu tulus, penuh kepura-puraan, misterius, dan cenderung banyak 'tai kebo'-nya (baca: bullshit).

Soal kedigdayaan Ki Paka, itu memang hal lain. Ki Paka memang tidak boleh jumawa, dan harus diimbangi dengan mekanisme kontrol yang transparan agar tidak kebablasan. Jangan sampai kedigdayaan yang disandangnya, digunakan untuk menyengsarakan orang karena sentimen pribadi, atau dijadikan alat oleh penguasa untuk membungkam warganya sendiri. Ki Paka memang harus diberi aturan, agar jurus Tangan Seribu-nya itu tidak nyampluk kemana-mana, apalagi tidak pada tempatnya. Bayangken, kalau sampeyan ngeden aja ditongkrongi sama mereka? Apa nggak gagal tuh acara pelepasan hajat?

Kalau soal banyak pihak tidak suka Ki Paka menjadi selebriti baru, sering juga jadi pembicaraan warga. Ini seringkali dikaitkan dengan motif penelanjangan Ki Paka, semacam diplonco atau dikasi pelajaran supaya tahu diri. Mosok centeng tiga, cuma satu yang eksis, dan lebih tenar dari kades-nya. Ini ada yang tidak beres, nanti orang lebih suka mendengar kata-kata si centeng daripada pidato pak kades.

Nek dipikir-pikir lagi, Cicak dan Buaya, mungkin konotasinya jadi lain kalau diubah jadi Korek Kuping lawan Sedotan WC. Dua-duanya punya tugas membersihkan, tapi meski kecil, Korek Kuping sangat berjasa dalam mengurangi distorsi suara yang masuk ke kuping. Sedangkan Sedotan WC, memang keliatannya besar, tapi faktanya ia cuma berani lawan kotoran di jamban, dan karenanya terasa kurang berkontribusi pada kesejahteraan warga desa. Lagipula, ini memang bukan tentang cicak lawan buaya, tapi jangan-jangan konstipasi menegakkan otoritarianisme berbalut demokratisasi santunisme.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar