5 Agt 2009

Who the Hell is Mbah Surip?


Kemarin, tanggal 4 Agustus 2009, Mbah Surip meninggal dunia. Serentak para pengguna Twitter di Indonesia saling mengirim kabar tentang hal ini. Ada yang curhat, ada yang cuma meng-update berita, dan seterusnya. Alhasil, kabar meninggalnya Mbah Surip menjadi topik panas (Trending Topics-TT) di Twitter, dan tembus di peringkat pertama, bahkan mengalahkan topik Cory Aquino.

Buat pengguna Twitter di dunia, Cory Aquino tentu bukan nama yang terlalu asing. Tapi Mbah Surip? Siapa pula Mbah Surip di komunitas dunia? Ada yang bahkan mengira Mbah Marijan, The Krakatau Guy. Hehehe.. masih salah juga. Bukan Krakatau kali, Merapi, mbak. Ada banyak juga usaha dari pengguna Twitter Indonesia yang berusaha menjelaskan, siapa beliau ini.


Baik. Inilah mungkin potret wajah media masa kini. Cepat. Partisipatif. Kendali sumber informasi sekarang beralih, tidak hanya ada di tangan media mainstream (baca: media tradisional), tapi kini ada di tangan konsumen. Inilah fatwa media generasi baru. Seringkali juga diistilahkan dengan social media.

Bagi yang tidak kenal Mbah Surip, tentu nongolnya topik "Mbah Surip" di peringkat pertama TT akan membingungkan. Tapi itu tidak terlalu penting. Orang-orang menyatakan reaksinya, secara spontan dalam tweet mereka dengan menggunakan 2 kata itu. Alhasil, topik itu menjadi topik panas di tweetersphere dalam beberapa saat. Itulah potret sesungguhnya dari 'aspirasi' publik terhadap sebuah isu. Hal ini terjadi juga dalam kasus lain, misalnya dalam topik Cory Aquino, atau topik President. Dalam hal ini, saya melihat naluri bergosip manusia-lah yang memegang peranan.

Dalam Tweetersphere dikenal istilah hashtag, penggunaan tanda # di depan kata yang menjadi topik tweets. Biasanya, hashtag memang digunakan secara sengaja untuk mengkategorikan topik tertentu agar mudah dilacak perkembangannya. Pada kasus #iranelection misalnya, topik ini sudah nangkring di TT berminggu-minggu, sehingga ia tercatat sebagai peringkat pertama dalam Popular topics this week. Isinya seputar kontroversi pemilu di Iran, bisa pro dan kontra, tapi setiap orang dengan informasi yang dimilikinya saling memutakhirkan dalam topik tersebut.

Menakjubkan, bagaimana Twitter menjadi media alternatif karena media mainstream tak mampu berbuat banyak. Bahkan kasus di Venezuela, media-media mainstream di-intervensi oleh pemerintahan Hugo Chavez, sehingga berbondong-bondonglah pengguna Twitter saling memutakhirkan informasi tentang perkembangan permediaan di Venezuela melalui hashtag #freemediave.

Dalam konteks kebebasan informasi di alam demokratis, Twitter bisa menjadi senjata ampuh. Selain karakternya yang ringkas, informasi bisa langsung sampai ke tangan pengguna, karena sebagian besar Tweeple menggunakan fasilitas Handphone atau Smartphone untuk berinteraksi dalam Twitter. Tapi juga bisa jadi bumerang, kalau sampai kepeleset pada pelanggaran terhadap UU-ITE yang berlaku di Indonesia. Atau dalam kasus lain, orang-orang yang 'berbicara' di Twitter adalah representasi tempat mereka bekerja atau organisasi mereka, sehingga sangat mungkin berdampak langsung, maupun tidak langsung. Mungkin itu alasannya tentara Amerika mulai membatasi penggunaan jejaring sosial bagi anggota mereka.

Dunia kini bukan saja sedang menjadi datar, tetapi sudah berada dalam genggaman. Jadi, siapakah seorang Mbah Surip di mata dunia? Kini mereka sudah tahu jawabannya, berkat Twitter.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar