14 Des 2011

The Tragedy of The Commons


Tragedi ini ditulis oleh Garrett Hardin (1915 - 2003) pada tahun 1960-an. Jadi bacaan wajib ornop-ornop, terutama yang bergerak di isu sumberdaya alam. Tapi, saya pengen menggunakan cerita Hardin ini untuk isu yang lain juga. Intinya persis seperti yang tampak pada ilustrasi komik yang tampil. Komik itu saya ambil langsung dari webnya Hardin Society.

Intinya, hitung-hitungan untung rugi untuk diri/kelompok sendiri lebih dipentingkan, dan tidak melihat dampak keseluruhan. Sumberdaya yang seharusnya bisa dikelola dan dimanfaatkan bersama, jadi takkan pernah cukup untuk mengatasi ambisi satu orang, atau satu kelompok kecil.

Negara ini juga. Bukan cuma sumberdaya alam, tapi sumberdaya manusia, serta sumberdaya keragamannya juga. Keragaman kita yang diramu dalam Bhinneka Tunggal Ika, itu bukan isapan jempol. Itu ungkapan yang serius. Harus diakui bahwa kita itu berbeda. Ada Islam, Kristen, Budha, Hindu. Ada Papua, Maluku, Ambon, Dawan, Flores, Bugis, Kaili, Dayak, dan seterusnya sampai ke ujung barat sana. Keberagaman itulah Indonesia, yang harus dijaga keseimbangannya.

Keragaman, atau Diversity, seperti keseimbangan ekologi di alam. Kalau terganggu ekosistem-nya, maka akan ada spesies yang mati, atau terpaksa harus hijrah ke tempat lain yang lebih layak/nyaman ditinggali. Meski populasi suatu spesies itu kecil dalam ekosistem, dan 'kelakuannya' dianggap aneh oleh spesies yang lain, tapi keberadaannya memang diperlukan.

Ini semua demi keseimbangan alam semesta. Mereka sudah tau takaran yang tepat, sehingga alam ini bisa berjalan dengan baik. Yang dominan tidak sok jago dan mengumbar kekuasaan, yang tidak dominan cukup tahu diri dan tidak rewel. Semua sudah diatur porsinya. Inilah potret 'keseimbangan' versi alam yang menarik.

Penyakitnya cuma satu, Serakah. Merasa kurang, dan kurang. Padahal, semuanya sudah cukup. Ketika masing-masing sudah punya kebebasan, ada yang pengen berkuasa atas kebebasan itu. Kekuasaan memang godaan. Berkuasa, serasa menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Dengan berkuasa seolah sama dengan mampu mensejahterakan. Persis seperti kesombongan Firaun kan? Atau mirip dengan cerita Lord of The Rings yang visualnya memukau itu.

Jadi, The Tragedy of The Commons, mungkin terjadi jika kita kurang bisa memahami porsi-porsi tadi secara benar dan proporsional. Contoh kecil sudah tampak di depan mata, dan akan bertambah seiring waktu berjalan. Tapi, sekali lagi ini bukan saja cerita tentang sumberdaya alam yang diperebutkan, sehingga kemudian malah semuanya tidak kebagian. Tapi juga tentang sumberdaya yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar