10 Agt 2009

Re-Branding Indonesia melalui #IndonesiaUnite




Sebentar lagi 17 Agustus, hari dimana kita akan memperingati kemerdekaan kita yang terjadi di tahun 1945. Apa yang spesial tahun ini, adalah munculnya fenomena #indonesiaunite. Gerakan yang diawali dari para pengguna sosial media, Twitter dalam merespon peristiwa pemboman oleh teroris, kini tidak lagi sekedar gerakan online, tapi juga sudah sampai ke tingkat offline.

Kalau 17 Agustus 1945, diawali dengan dijatuhkannya bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, yang menyebabkan lumpuhnya kekuatan militer mereka, maka 17 Agustus 2009, bisa kita sebut diwarnai dengan bom oleh teroris yang menewaskan 9 orang dan puluhan lainnya luka-luka. Tentu hal yang kurang layak diperbandingkan, tapi ini hanya sekedar mengingat kembali apa yang terjadi dalam sejarah, dan menempatkannya pada konteks hari ini.

Menggagas kembali citra Indonesia, tentu bukan gagasan baru. Sudah banyak yang bergagas seperti ini. Dalam sebuah artikel di kickandy.com, ada yang berjudul persis seperti judul artikel ini. Di facebook juga bisa ditemukan sebuah group yang menginisiasi gagasan re-branding Indonesia. Kalau saja gagasan yang sama ini bisa diwujudkan bersama-sama (pula), mungkin kita bisa melewati 17 Agustus tahun ini dengan semangat baru.

Ada banyak cara untuk melakukan branding, tapi saya tertarik dengan konsep Appreciative Inquiry (AI). Dari sebuah buku yang diterbitkan Jakarta Consulting Group, ada ringkasan mengenai AI yang menurut saya cukup lugas:

"...sebuah pendekatan dalam pengembangan organisasi (masyarakat) yang menawarkan kepada kita seluruh proses dan potensi untuk secara positif mengeksplorasi, secara kolektif membayangkan (berimajinasi), secara kolaboratif merancang, dan secara bersama-sama berkomitmen untuk melangkah ke masa depan..."

Proses re-branding bisa dimulai dengan mengeksplorasi, apa yang selama ini membuat kita masih bangga dengan Indonesia. Apa yang dilakukan #indonesiaunite di Twitter merupakan suatu bentuk eksplorasi yang menarik. Ternyata, hal-hal kecil yang selama ini kita abaikan, adalah hal-hal yang bisa membuat kita tetap merasa bangga menjadi orang Indonesia. Kalau Anda baca-baca kembali isi tweets yang ada di search tools-nya Twitter tentang #indonesiaunite, maka Anda akan terkekeh-kekeh membaca banyak hal unik yang membuat orang bisa bangga pada Indonesia-nya.

Tak perlu persoalkan apakah kalimat itu memang tulus atau tidak, yang perlu dicermati adalah kemampuan kita mengingat kembali apa yang membuat kita merasa masih orang Indonesia. Hal-hal yang dianggap remeh temeh, sebenarnya adalah ungkapan yang jujur, yang datang dari dalam hati dan pikiran kita. Kejujuran itu yang kita perlukan. Apapun yang ada disana, adalah dokumentasi nyata tentang aspirasi sebagian orang Indonesia tentang negeri yang dicintainya ini. Aspirasi ini berdasarkan pengalaman nyata, artinya itulah fakta-fakta yang membuat sebagian orang Indonesia masih mencintai negerinya.

Fakta-fakta ini adalah Live Giving Factors. Faktor-faktor ini akan menjawab pertanyaan "Hal apa saja yang memungkinkan kondisi yang selama ini berjalan dengan sangat baik bisa terjadi?" Dalam bahasa yang lain, hal-hal yang ternyata membuat (sebagian) orang Indonesia masih bangga dengan negerinya. Faktor ini memang perlu dirumuskan, agar menjadi pondasi, atau batu penjuru (Corner Stone). Ibarat membangun rumah 'baru', kita perlu pondasi yang kuat, yang berasal dari apa yang selama ini sudah kita miliki.

Tahap satu selesai. Tahap berikutnya adalah mengimajinasikan "Indonesia seperti apa yang kita harapkan di masa depan?". Disini orang-orang diharapkan membangun visi, cita-cita, atau mimpi tentang Indonesia di masa depan. Berlandaskan pengalaman dan fakta tentang apa yang membuat kita masih bangga menjadi orang Indonesia, maka imajinasi itu dibangun bersama. Lagi-lagi, Twitter bisa menjadi tempat yang menarik untuk dicoba. Coba jawab pertanyaan berikut "Apa yang ingin kita lihat/rasakan (disini) nanti di masa depan?"

Tidak seperti visi yang selama ini tampil normatif dan 'menyebalkan', visi dalam AI harus dibuat se-provokatif mungkin, bermakna positif, dan sangat kongkrit. Kalimatnya disusun sedemikian rupa agar bisa dibayangkan secara visual dalam pikiran kita. Lebih kongkrit lagi, kalimat itu seperti sebuah mental picture, yang dapat digambarkan secara nyata di atas kertas.

Kita pernah punya visi yang sangat tajam ketika UUD 45 ditulis pertama kalinya. Coba perhatikan kutipan dari Pembukaan UUD 45 berikut:

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada saat itu, visi ini sungguh-sungguh provokatif, dan secara nyata menrupakan gagasan untuk keluar dari situasi penjajahan, tidak hanya di tanah air, tapi juga di dunia. Bukankah ini sangat indah? Kalau hingga saat ini belum bisa tercapai dengan sempurna, itu karena masalah waktu dan komitmen saja. Tahun ini bisa menjadi tahun yang baik untuk memperbarui komitmen kita sebagai bangsa Indonesia. Web #indonesiaunite.com telah menayangkan pernyataan bersama di wiki.indonesiaunite, contoh menarik dari pembaruan komitmen kita.

Dengan visi yang kongkrit, maka kita bisa bergerak ke tingkat yang lebih membumi, yaitu rencana kerja/kegiatan. Apa yang bisa kita lakukan mulai detik ini, untuk mewujudkan visi kita?

Tergantung seberapa provokatif dan seberapa terprovokasi-nya kita dengan visi itu, maka pergerakan akan terjadi di tingkat lapangan. Tentu perlu kordinasi, kerjasama, dan semangat bersama untuk mencapai visi bersama. Satu saja ada yang oportunis dan egois, akan membuat blunder. Tapi kita tahu manusia tak ada yang sempurna, sehingga meskipun ada yang seperti itu, maka kita tidak perlu pula menghabiskan energi untuk meladeninya.

Pemerintah adalah penyelenggara negara ini. Mereka punya mandat untuk mengkordinasikan apa yang harus dilakukan untuk mencapai visi bangsa, bukan visi partai, visi individu, apalagi visi penumpuk modal.
Kita memang sangat berharap pada mereka, tapi kalau mereka belum siuman juga, tak apalah. Lakukan apa yang bisa dilakukan, sekarang juga!

Merdeka!

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar