18 Agt 2009

Morpheus: Welcome to Real World


The Matrix. Itu sebuah judul film. The Matrix, adalah dunia virtual yang dihidupkan dalam pikiran (mimpi) manusia. Fisik manusianya sendiri, tersimpan rapi dalam instalasi Power Plant, yang digunakan untuk menghidupi mesin. Karena mesin butuh energi. Dan manusia menyimpan energi listrik di tubuhnya. Saat itu, tak ada lagi sumber energi, karena matahari tertutup oleh awan buatan manusia sendiri. Jadi, secara fisik manusia tidak lagi beraktivitas. Agar tetap hidup, maka pikirannya yang diberi ruang untuk terus 'merasa hidup'.

The Matrix, hanyalah sebuah film. Hasil imajinasi dua orang bersaudara, Larry dan Andy Wachowski. Karena hanya khayalan, maka ia boleh dinikmati dengan cara yang paling tidak serius sekalipun. Seperti kalau kita menonton Harry Potter. Imajinatif, plot yang bagus, dan spesial efek canggih.

Indonesia. Bukan judul film. Sebuah negara kepulauan di Asia Tenggara. Merdeka tahun 1945, terakhir dijajah oleh Jepang, setelah sebelumnya 3,5 abad dijajah Belanda. 64 tahun setelahnya, barusaja merayakan hari kemerdekaan, masih berusaha menjadi sebuah negara.

Melihat gejalanya, orang-orang Indonesia sekarang tidak jauh berbeda dengan The Matrix. Mereka lebih suka hidup dalam dongeng, drama, dan sinetron. Orang lebih suka punya HP keren daripada koleksi buku. Kayaknya merdeka, tapi bikin kebijakan sendiri aja gak bisa. Lebih banyak kompromi dengan 'penjajahnya'.

Pendidikan harus dimandirikan dan diberi standar nasional, supaya kompetitif. Itu kan kata IMF dan kawan-kawan neoliberal-nya. Milton Friedman dewanya. Semua aset negara diprivatisasi. Itu juga fatwa Friedman.

IMF lewat, nggak perlu khawatir. Penjajahan tidak perlu tampak pengendalinya. Kirim orang-orang pintar dengan beasiswa ke luar negeri, maka mereka akan pulang dengan cara berpikir sekolahannya. Sebut saja siapa, Habibie? Budiono? Dorojatun? Kita bisa mengenali beberapa nama lewat Berkeley Mafia. Ini cuma contoh kecil, mungkin terlalu imajinatif.

Seperti juga The Matrix, orang-orang Indonesia kini hidup dengan mimpi yang dijual orang lain. Fisiknya ada, tapi lebih berguna untuk bekerja demi sistem yang dirancang untuk memakmurkan orang lain. Lebih nyaman begitu. Sistem itu sedemikian mengadiksi, sampai-sampai kita sakaw kalau tidak mengikutinya.

Seberapa virtualkah hidup kita sekarang? Coba kita periksa. Apakah kita sering mengalami Deja Vu? Dalam The Matrix, Deja Vu adalah peristiwa dimana si pembuat program membuat sedikit perubahan terhadap The Matrix. Sedikit mengubah setting, dan situasi, supaya tetap menguntungkan.

Misalnya, dari tahun ke tahun, setiap kali mau lebaran, pasti isu transportasi jadi masalah. Ya macet lah. Ya kecelakaan lah. SETIAP TAHUN. Ada perubahan yang signifikan? Yang saya alami waktu naik kereta ekonomi Bandung-Jogja di tahun 1992, hingga sekarang masalahnya masih sama. Stasiunnya saja yang beda. Deja Vu.

Iwan Fals melantunkan "Wakil rakyat, seharusnya merakyat..." Itu tahun 80-an. Sekarang? Deja Vu. Dalam sebuah obrolan ringan bersama alm. Kang Harry Roesli, kita sempat terkesima dengan banyaknya karya seniman yang sangat hebat, karena masih selaras dengan kondisi sosial sekarang. Futuristik, demikian kesimpulan sementaranya. Tapi lalu dengan mudah dipatahkan oleh celetukan Kang Harry, "Eta mah lain futuristik! Endonesia-na weeh anu teu robah!!" Deja Vu.

Morpheus: I imagine that right now, you're feeling a bit like Alice. Hmm? Tumbling down the rabbit hole?

I hope not.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar