18 Jul 2009

Ledakan (lagi) di Jakarta, dan Seterusnya

Eddie B. Handono - Studio Driya Media Bandung Postcard

JW Marriot dan Ritz Carlton baru saja diguncang oleh ledakan bom (lagi). Apapun motif peledakan itu, tidak akan mengurangi deraan pada rasa kemanusiaan kita. Siapapun akan mengutuk kekejian ala teroris itu. Semoga Tuhan mengampuni dosa pelaku peledakan itu, dan menunjukkan jalan yang lurus untuk mereka. Simpati dan turut berduka untuk para korban dan keluarganya, siapapun mereka, apapun yang mereka lakukan selama hidupnya. Semoga Tuhan menempatkan mereka di tempat yang layak di Sana.

Hanya berselang beberapa saat setelah ledakan itu terjadi, 'ledakan' yang sama terjadi di ranah yang lain. Informasi tentang ledakan itu pertama kali saya terima dari Twitter di Handphone saya. Awalnya adalah sebuah pertanyaan, mencari konfirmasi tentang adanya berita ledakan. Lalu beruntun posting-posting lainnya saling mengkonfirmasi dan melengkapi. Hingga akhirnya saya tahu, ledakan itu terjadi di 2 lokasi, jumlah korban meninggal sementara, dan bahkan beberapa foto amatir yang menunjukkan dampak ledakan di kedua tempat.

Menakjubkan bukan? Ledakan informasi juga sedang mendera kita. Sumber informasi tidak terlalu penting, selama kita mempercayainya, dan menganggap sumber informasi itu kredibel. Dia bisa saja orang biasa, bukan siapa-siapa. Dia adalah teman-teman virtual kita, yang kita percayai begitu saja. Padahal kita tidak pernah bertemu muka dengan mereka, menjabat tangan mereka dan mengucapkan salam perkenalan. Ritual seperti itu tidak penting lagi sekarang.

Twitter dan semacamnya yang masuk dalam spesies Social Media adalah alat. Alat-alat yang diciptakan berdasarkan insight atas kebutuhan manusia yang kini cukup mendasar, komunikasi. Dilatarbelakangi sejarah pengekangan kebebasan atas informasi, dorongan/motif yang sangat besar membuat manusia Indonesia untuk mendapatkan dan sekaligus menyebarluaskan informasi tiba-tiba menggelora. Semua orang haus akan informasi, semua orang terobsesi menjadi sumber informasi. Tak heran kalau jejaring media sosial di Indonesia sungguh mengagumkan perkembangannya, tapi kita masih akan berkerut kening kalau mengamati perilakunya.

Ini kemudian menyebabkan fenomena "lebih cepat, lebih baik". Ada semacam perasaan puas menjadi orang pertama yang menyebarkan informasi, tapi sayangnya ini tidak dilengkapi dengan literasi permediaan yang cukup. Maka tidak jarang terjadi, informasi yang bernilai sampah sekalipun menyebar kemana-mana dengan mudah. Kasus-kasus pun bermunculan, dan seringkali terjadi karena 'kekurang-melekan' mereka terhadap situasi permediaan yang melingkupinya.

Ledakan informasi ini tak urung juga membuat beberapa kalangan memaki, dan mengutuk setengah mati. Orang tua dan guru makin sering menemukan materi asusila di HP anak-anak mereka. Anak-anak di bawah umur seringkali lalu lalang di belantara social media yang jelas-jelas bukan ruang bermain untuk mereka. Tapi semua hanya bisa memaki dan memarahi, sangat sedikit usaha mencegah hal seperti itu terjadi.

Lagi, saya cuma mau bilang, Melek Media Segera! Mungkin ada yang menganggap perkembangan jejaring-jejaring sosial itu adalah lahan bisnis yang empuk. Tapi harus ada juga yang memandangnya sebagai sebuah tantangan masa depan. Media konvensional, terkadang memang sulit dipercaya, karena kita tahu ada subjektivitas yang dibungkus kode etik. Mereka boleh berkoar soal kode etik jurnalism, tapi kita juga tahu kapital di belakang mereka membutuhkan Return of Investment.

Tapi kita tidak bisa berpaling ke jejaring-jejaring sosial itu, dan mempercayainya secara membabi-buta. Kita malah lebih tidak tahu lagi, siapa mereka dan bagaimana informasi itu diperoleh. Silakan nikmati 'luapan informasinya', tapi jangan sampai terlena. Termasuk ketika membaca tulisan ini. Anda mungkin tidak mengenal saya dengan baik, sehingga Anda boleh tidak percaya, mendebatnya, atau melabelinya sabagai sampah. Tapi tunggu sampai Anda menemukan informasi yang sebenarnya, dan membandingkannya. Saya sudah sangat senang jika Anda pembaca tulisan ini menyangsikan kebenaran isinya, tapi lalu mencari lagi sumber lainnya sebagai pertimbangan.

UPDATE:
Untuk media konvensional, ledakan informasinya kini sudah pada taraf 'memabukkan'. Karenana muncul gerakan-gerakan seperti yang dimuat kompas berikut ini: Matikan Televisi jika Masih Sayang Anak

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar