1 Jul 2009

Dunia Maya, Hutan Belantara

amazon.com
Setelah kasus Bu Prita, beberapa kasus soal pencemaran nama baik jadi mulai merebak. Tapi yang paling menarik menurut saya adalah kasus yang berhubungan dengan dunia maya. Mulai dari email pribadi, milis, jejaring sosial, blog, dan sejenisnya.
Yang terakhir saya temukan di internet adalah tentang 'sesuatu' yang kemudian menjadi HOAX tentang salah satu produk minuman terkemuka di Indonesia ini. Sesuatu yang tadinya adalah eksperimen kreatif di ruang semi tertutup, jadi bumerang karena bocor tanpa membawa konteks aslinya. Saya tidak akan bicara salah benar. Itu hanya contoh kasus saja.

Yang ingin saya bicarakan sebenarnya tentang literasi. Literate, yang dalam bahasa aslinya berarti having or showing education or knowledge, typically in a specified area, seringkali kita terjemahkan menjadi literasi, yang kadang menjadi sempit dalam akronim ca-lis-tung. Dalam hal ini, literasi yang berkaitan adalah Literasi Media, atau kalau mau spesifik lagi adalah Literasi Internet (baca: Dunia Maya).

Dari sebuah web favorit saya tentang literasi media, medialit.org, ada kalimat seperti ini:
"It's not enough to know how to press buttons on technological equipment: thinking is even more important."
Berpikir itu jauh lebih penting, betul khan? Ketika kita berhadapan dengan teknologi dunia maya, yang kerjanya cuma klak-klik sana-sini, seringkali memang 'berpikir' menjadi aktivitas yang terlewatkan. Nemu sesuatu, adrenalin bereaksi, tekan Ctrl+C, Ctrl+V, lalu klik sini, klik sana, dan weesss... Dalam sekejap Anda bisa mengirim informasi ke jutaan manusia lain di dunia. Sensor bisa sangat minimal, sehingga kalau yang membacanya pun tanpa 'berpikir dengan sehat', maka entah apa jadinya.

Di hutan belantara, Anda bisa berjumpa dengan macam-macam binatang dan tumbuhan. Ada yang berbahaya, ada pula yang tidak. Semuanya tergantung seberapa paham kita dengan hutan yang kita masuki. Makanya, seorang jagawana bukanlah orang sembarangan. Ia seharusnya tahu betul seluk beluk hutan yang dijaganya. Dan kita, turis asing yang tidak tahu apa-apa ini perlu menyewa mereka untuk menjadi guide. Kalau tidak, maka berdo'alah supaya bisa keluar dari hutan itu hidup-hidup.

Internet, atau dunia maya tak ubahnya seperti hutan belantara itu. Kita bukanlah penduduk aslinya. Hanya sebagian orang di dunia ini yang memang menjadi 'penduduk asli' dunia itu. Mereka yang tahu betul seluk beluknya. Dan kita, atau saya saja lah, adalah 'pendatang' yang sempat beberapa kali tersesat juga. Saya lupa membaca peta atau peringatan yang dipasang, terkadang memang malas, karena ditulis dengan bahasa yang bukan bahasa emak saya.

Kembali ke topik. Literasi media, dunia maya, oleh UNESCO sudah disebut sebagai tantangan baru yang perlu dihadapi. "We must prepare young people for living in a world of powerful images, words and sounds." - UNESCO, 1982. Dalam web medialit.org, Anda juga bisa temukan visi mereka:
The Center for Media Literacy (CML) is dedicated to a new vision of literacy for the 21st Century: the ability to communicate competently in all media forms as well as to access, understand, analyze, evaluate and participate with powerful images, words and sounds that make up our contemporary mass media culture. Indeed, we believe these skills of media literacy are essential for both children and adults as individuals and as citizens of a democratic society.
Jelas, literasi media sangat diperlukan agar kasus-kasus 'konyol' tidak perlu terjadi. Ibarat motor yang tertabrak kereta karena nekad menerobos palang. Kekonyolan yang bisa membawa petaka, tapi sialnya suka terjadi di dunia nyata.

Oh ya, saya baru aja berkunjung ke web nya si produsen yang bikin penyanggahan atas isu HOAX yang 'menyerang' mereka. Ini salah satu kutipannya:
"Situs ensiklopedi terkemuka dan terpercaya di dunia maya tersebut menjelaskan bahwa Hydroxylic acid atau disebut juga Dihydrogen Monoxide adalah nama ilmiah AIR (water = H20). Jadi, kita tidak perlu bereaksi berlebihan, karena semua makanan dan terutama minuman pasti mengandung air."
Yang mereka maksud situs ensiklopedi terkemuka dan terpercaya adalah Wikipedia.org. Saya cuma mau bilang, bahkan, situs 'besar' seperti wikipedia.org, belum tentu dapat dipertanggungjawabkan isinya secara ilmiah. Bukankah wikipedia adalah kumpulan tulisan dari orang yang kita tidak pernah tahu persis kredibilitasnya? Wiki mungkin bisa jadi rujukan dalam hal pengetahuan populer.

Kalau bicara ilmiah, akademis, maka biasanya jurnal penelitian ilmiah dari universitas atau lembaga penelitian yang sah-lah yang lebih patut dirujuk. Misalnya, coba bandingkan dengan link berikut ini, tentang hydroxylic acid. Anda juga bisa tengok sebuah tulisan di kompasiana.com yang mengomentari kasus ini, tapi jadi 'mendakwa' si penulis sebagai pembohong. Padahal, tak ada niat kesana, hanya persoalan teknis yang tidak dipahami sehingga lasut arahnya, jadi sebuah kebohongan publik.

UPDATE:
Ternyata bukan cuma orang kita saja kok yang masih 'buta' atau tidak menyadari ganasnya rimba belantara dunia maya. Bahkan seorang istri diplomat Inggris, yang bakalan jadi calon petinggi di M16 (agen rahasia Inggris yang terkenal lewat James Bond). Cek beritanya di New York Times online, On Facebook, a Spy Revealed (Pale Legs, Too).

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar