2 Jun 2009

Keadilan yang Berperikemanusiaan


Baru saja membaca sebuah update artikel dari blog hermansaksono.com, tentang seorang ibu yang masih menyusui bayi berusia setahun tiga bulan, serta mengasuh si sulung yang berusia 3 tahun, dipenjara dengan tuduhan pelecehan nama baik. Si ibu, Prita Mulyasari menulis keluh kesahnya di beberapa milis dan forum, salah satunya melalui surat pembaca di detik.com, tentang kekecewaannya terhadap pelayanan Rumah Sakit Omni International.

Seperti juga surat-surat pembaca di media massa, sebagian besar isinya pasti keluhan kalau tidak klarifikasi terhadap suatu hal. Demikian juga isi surat Ibu ini. Tapi reaksi TS Omni Int. sungguh mengejutkan. Mereka dengan sigap membuat iklan bantahan di kompas, lalu Bu Prita dituntut secara perdata dan pidana, dan sejak tanggal 13 Mei 2009 dipenjarakan.

Agak mirip naskah sinetron. Mendengarnya cukup menyebalkan, menyedihkan, tapi ini nyata. Bahwa keadilan ditegakkan itu memang perlu, tapi anehnya kenapa keadilan tidak melihat sisi kemanusiaan yang lain? Bukankah keadilan itu demi perikemanusiaan? Ingat Pancasila sila ke dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab! Tanpa bermaksud sok tahu tentang aturan hukum, saya kira semua UU di muka bumi nusantara ini tidak boleh melanggar aturan di atasnya, Pancasila dan UUD 45. Begitu, bukan?

Dari dunia yang lain, ada kasus yang mirip, menimpa seorang mantan sprinter Olimpiade AS, Marion Jones yang dituduh menggunakan dopping, serta melakukan kebohongan publik. Ia harus masuk penjara, padahal ia masih punya bayi berusia 7 bulan, dan si sulung yang berusia 4 tahun. Mereka punya lembaga pendukung ibu menyusui, meskipun pengadilan kemudian tidak menggunakan pertimbangan ini.
According to the U.S. Breastfeeding Committee:
[M]others in federal prison have the right to breastfeed their babies during regular visitation periods. Also, breastfeeding can be considered as a factor in federal sentencing proceedings.
Mbok ya dipertimbangkan, bahwa ibu menyusui, terutama si anak memiliki hak yang juga tidak bisa dilanggar, yaitu hak untuk mendapat kualitas kesehatan optimal baik dari pemerintah maupun dari orang tuanya. Ini bagian dari konvensi hak anak internasional, dan Indonesia sudah merativikasinya. Resume dari Artikel 9 Hak Anak menyebutkan,

Anak mempunyai hak untuk hidup bersama orang tuanya kecuali jika dianggap bertentangan dengan kepentingan terbaik anak. Anak juga mempunyai hak untuk menjaga kontak atau hubungan dengan kedua orang tua jika terpisah dari salah satu orang tua atau keduanya.

Kasus ini kan bukan kasus pembunuhan. Ibu itu bukan pula penjahat negara. Keberadaannya tidak perlu dikhawatirkan akan dapat mengganggu stabilitas nasional. Apa tidak bisa ditangguhkan tuh penahanan?

Kita butuh keadilan yang juga berperikemanusiaan. Menghayati dan menjalankan nilai-nilai kemanusiaan secara benar. Bukan sekedar slogan. Jadi, silakan lanjutkan proses hukumnya, tapi tolong bebaskan Bu Prita dari penahanan itu. Demi kemanusiaan.

UPDATE: 27/6/2009
Akhirnya hakim memutus Prita bebas, meski menyisakan trauma. Lihat saja di sini:
Prita Bebas tapi Trauma Masih Menghantui (1)
Prita Bebas tapi Trauma Masih Menghantui (2)

UPDATE: 31/7/2009
Kasus Prita kembali disidangkan: Vivanews.com

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar