5 Mei 2009

Konsumerisme, konsumtivisme, apalah...


Konsumerisme, atau konsumtivisme, entah mana yang mau dipakai istilahnya. Intinya kita mau membicarakan tentang budaya belanja, menghabiskan sejumlah uang untuk barang-barang yang bukan kebutuhan primer. Kebutuhan primer, yang dimaksud adalah sandang, pangan, papan, kalau kita masih setuju dengan konsep itu.

Sekarang ini, kebutuhan berkomunikasi sudah menjadi bagian dari kebutuhan primer. Entah benar atau tidak, tapi kenyataannya begitu. Tengok saja pasar penjualan handphone. Rruar biasaa. Pengunjung bahkan bisa ngantri sebelum toko penjual handphone dibuka, apalagi kalau pada saat tanggal habis gajian. Apalagi kalau ada produk baru yang digembar-gemborkan di media massa, atau pun di jejaring sosial. 

Orang-orang miskin yang tak sanggup beli, mampu menjelaskan produk-produk kelas tinggi yang jelas bukan untuk ukuran kantong mereka. Pengetahuan mereka yang canggih tentang mimpi mereka itu, sungguh menakjubkan. Dari kompas.com, penulis buku Saya Berbelanja, maka Saya Ada, Haryanto Soedjatmiko, menyatakan hidup manusia tidak bisa lepas dari belanja. Belanja telah menjadi tolok ukur jati diri seseorang, sebab terkait dengan banyak aspek, antara lain rasa gengsi dan status. Konsumerisme telah mengubah konsumsi yang seperlunya menjadi konsumsi yang mengada-ada.

Lebih mudah memang memimpikan sebuah produk, karena kita dengan mudah bisa menghafalkan spek-nya. Layar lebar, ada kamera sekian megapiksel, pake radio, pake 3.5G, pake TV, kalau perlu pake coffe maker sama termos, supaya gampang bikin kopi kalau mau begadang.

Lalu kenapa sulit memimpikan cita-cita?

Indonesia, spek yang kita impikan: Mudah cari kerja, gampang jadi kaya, gak ada korupsi, gak ada maling, gak ada politikus busuk, gak ada orang miskin, sekolah gratis, rumah sakit gratis, dst. Silakan tambah sendiri kalau Anda punya gagasan.
 
Gampang disebutkan, tapi gak pernah terbayang jadinya seperti apa. Deskripsikan "Gampang cari kerja"!. Kayaknya lebih sulit daripada mendeskripsikan kamera 10 megapiksel di handphone. Itulah mungkin, kenapa konsumtivisme lebih mudah distimulasi daripada sebuah cita-cita nasionalisme misalnya. Sesuatu yang lebih abstrak lebih sulit untuk diyakinkan kepada khalayak.
 
Kegagalan negara ini membangun cita-cita mulianya, mungkin karena tak pernah bisa membuat cita-cita itu menjadi sedemikian konkrit, yang kalau mungkin bisa digambarkan di atas kertas. Dibuatkan iklannya tanpa harus menjadi naif dan normatif. Kita juga miskin pemimpin yang berani menawarkan gagasan yang lebih konkrit, selain yang normatif seperti "Bersama kita bisa" atau "Lebih cepat lebih baik". Bayangkan kalau produk-produk handphone misalnya, dijual dengan cara yang normatif seperti itu.
 
Bukannya membuat menjadi konkrit, banyak partai politik yang justru malah semakin absurd dalam mengkampanyekan gagasannya. Saya harus akui, ada satu partai baru bermodal besar yang cukup berani dengan gagasan-gagasan kontroversial, lebih konkrit, meski tidak lupa tetap menyisipkan gagasan-gagasan normatif. Dan efeknya, Anda tahu sendiri. Partai baru itu bisa mendapat kurang lebih 4 persen suara. Itu baru permulaan. 

Cita-cita yang konkrit. Spek-nya apa ya?

Ngomong-ngomong soal Handphone, seorang teman baru saja misuh-misuh, merasa tertipu, karena handphone yang baru dibelinya ternyata tidak sanggup menyediakan fitur standar yang bahkan lebih ia butuhkan daripada kamera 2,5 megapiksel, atau casing yang kerlap kerlip...


-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar