19 Feb 2009

Sop Batu AJaib

Suatu hari, seorang Pengembara tiba di sebuah dusun yang tampak miskin. Penduduknya tampak lesu, wajah-wajah mereka tidak bergairah, dan anak-anak mereka pun tampak kurus kering. Rumah-rumahpun tampak tak terurus, reot, dan hanya berdinding bilik bambu lapuk.

Si Pengembara, selain kelaparan, rambut, wajah sampai pakaiannya serba lusuh. Dari rumah ke rumah ia mampir, mengharapkan seseorang mau memberinya makanan. Namun, semua penduduk setempat berkata bahwa mereka sendiri juga sangat miskin dan kelaparan, sehingga janganjan memberinya makan, untuk mereka sendiri saja tidak cukup.

Setelah lelah berkeliling desa, si Pengembara beristirahat di sebuah pasar. Ia duduk bersandar di sebuah bilik kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Ia memegangi perutnya yang terus keroncongan minta diisi. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah batu berwarna hitam mengkilat, yang tergeletak di pinggir jalanan pasar.

Dalam sekejap matanya berbinar terang. Lalu dengan semangat 45 ia beranjak mengambil batu itu, lalu dicarinya tempat yang strateis di tengah pasar. Entah apa yang ada di otaknya saat itu. Ia mencari sebuah gundukan tinggi, mengambil kentongan yang terdapat di Poskamling pasar, lalu memukul-mukulkan batu itu ke kentongan sambil berteriak meminta perhatian warga pasar.

Serentak orang-orang di Pasar tertarik pada suara itu. Lalu berduyun-duyun mereka mendatangi tempat si Pengembara berdiri tadi. Karena penasaranm seorang ibu memberanikan diri bertanya kepadanya,

"Apa maumu wahai Pengembara?"

"Dengarkan baik-baik. Saya punya sebuah batu ajaib!" teriaknya kepada seluruh pengunjung sambil mengacungkan batu hitam berukuran sekepalan tangan ke atas. Lalu ia melanjutkan,

"Batu ajaib ini bisa membuat Sop yang lezat, dan cukup untuk kita yang ada di sini!"
Wargapun mulai saling berpandangan. Sebagian merasa tidak percaya, sebagian lagi tampak ragu-ragu. Mereka mulai saling berbisik dan kasak-kusuk. Seorang bapak maju dan menanggapinya,

"Ah, mana mungkin? Bagaimana caranya?!"

"Hehehehe... Saya hanya perlu sebuah panci besar berisi air bersih!" jawab si Pengembara yakin.

Selama beberapa saat, para warga masih belum bereaksi. Mereka masih kasak-kusuk. Lalu seorang Ibu menawarkan kualinya untuk dipakai si Pengembara. Tampaknya si Ibu tertarik dengan ide si Pengembara itu.

Beberapa saat kemudian datanglah kuali besar yang diangkat oleh dua orang, sepertinya berat karena kuali itu cukup besar, cukup untuk memandikan anak berumur dua tahunan. Si Pengembara meminta mereka menempatkan kuali tersebut di tengah kerumunan, lalu meminta orang-orang untuk agak menjauh dari kuali itu.

Si Pengembara lalu melemparkan batu hitam mengkilat di tangannya ke dalam kuali. Terdengar suara kecipak air tertimpa batu yang dilempar si Pengembara. Si Pengembara lalu tampak serius di depan kuali sambil menyilangkan tangannya di dada. Orang-orang dusun itu menunggu dengan jantung berdebar. Semua mata tertuju pada kuali besar di tengah mereka. Mereka tampaknya menunggu keajaiban.

Setelah menunggu beberapa lama, orang-orang dusun itu mulai tidak sabar. Salah seorang bapak dengan gusar bertanya pada si Pengembara,

"Mana Sop yang kau janjikan itu?!" Aku tidak melihat apa-apa!"

Dengan tenang si Pengembara menjawab si bapak, sambil tidak mengalihkan pandangannya dari kuali besar di tengah mereka,

"Itulah masalahnya. Saya sedang menunggu adanya tungku yang cukup besar untuk mulai memasaknya..."

"Oooohh..." gumam orang-orang dusun itu.

"Kami akan ambilkan kayu dan batu untuk membuat tungkunya!" kata seorang bapak yang lain. Lalu tampak beberapa orang berduyun-duyun bergerak keluar dari kerumunan, sepertinya akan mencarikan kayu bakar untuk mulai memasak Sop ajaib itu.

Maka jadilah sebuah tungku besar dari batu yang disusun, cukup untuk meletakkan kuali besar yang berisi air dan batu ajaib itu. Beberapa orang dengan sigap menyalakan api, sementara si Pengembara tetap berdiri dengan tangan menyilang di depan dada. Orang-orang dusun yang lain dengan serius memperhatikan proses itu.

Api menyala di tungku itu, memanaskan kuali besar di atasnya. Asap mengepul di sekitar tungku, membuat beberapa orang yang berada di dekat tungku bergeser mencari tempat lain yang nyaman. Sop Batu itupun mulai mendidih, dan orang-orang dusun kembali mulai saling berbisik-bisik. Lalu si Pengembara mencicipi sop itu dan berkata keras-keras,

"Wuihhh, enaknya sop ini. Tapi tentu saja, Sop Batu dengan sedikit kubis mustahil dikalahkan rasanya."

Langsung ada seseorang mendekat, agak ragu-ragu, membawa sebuah kobis yang baru ia ambil dari kebunnya. Diberikannya pada si Pengembara, yang langsung ditambahkan ke dalam kuali.

"Bagus, wah bagus sekali..., dulu saya pernah buat Sop Batu dengan kobis dan sedikit bawang putih dan bawang merah. Sampai sekarang rasa sedapnya masih terbayang..." ujarnya sambil membayangkan betapa nkmatnya sop yang ia bicarakan tadi.

Tanpa menunggu lama, seseorang mendekat dan membawakan beberapa bawang merah dan bawang putih untuk sop itu. Si Pengembara meminta orang itu untuk mengupas dan membersihkannya, lalu dimasukkan ke dalam kuali yang sedang bergolak. Beberapa orang lalu ada yang mulai memperbaiki letak kayu bakar yang mulai habis. Salah seorang di antaranya mulai memberi perintah kepada yang lain untuk menyediakan kayu bakar tambahan.

Demikianlah. Kerumunan itu kini tampak sibuk semua. Ada yang menjaga api di tungku agar tidak mati, ada yang silih berganti datang untuk membawakan kayu bakar, ada pula yang menyediakan berbagai rempah-rempah dan sayur yang diminta oleh si Pengembara. Semua tampak antusias menunggu mukjizat dari batu yang dibawa Pengembara itu. Sementara si Pengembara, dari tadi hanya berdiri tenang sambil mengucapkan beberapa perintah yang dituruti oleh kerumunan itu. Tangannya tetap menyilang di depan dada.

Tak terasa, jadi juga sop yang enak sekali bagi semua orang yang ada di situ. Sayur-mayurnya sangat lengkap, begitu pula bumbu-bumbunya. Bau sedapnya tercium kemana-mana, hingga kerumunan itu pun semakin besar. Semua orang menatap ke arah si Pengembara, menunggu apa lagi yang harus mereka lakukan untuk segera menikmati Sop dari batu ajaib yang dijanjikan si Pengembara.

Si pengembara lalu meminta orang-orang untuk diam sebentar. Kerumunan itupun terdiam, menatap tak sabar ke arah si Pengembara. Si Pengembara tampak mulai bergerak. Tangannya perlahan menyingkap tutup kuali besar itu, lalu mencicipi lagi sop batu ajaib itu. Matanya tampak terpejam sejenak, kepalanya menengadah ke atas, lalu keluarlah suara dari mulutnya memecah kebisuan di tempat itu,

"Uhm.... Luar biasaaa... Ini Sop tersedap yang pernah saya rasakan! Mari sama-sama kita nikmati!"

Seketika itu juga semua orang berebut mendekat ke kuali untuk merasakan Sop Batu ajaib itu. Kuali itu cukup besar sehingga semua orang bisa kebagian. Wajah-wajah mereka tampak puas dengan sop batu buatan si Pengembara. Beberapa di antara mereka sambil berbincang-bincang, memuji keajaiban sop batu itu.

Si Pengembara akhirnya bisa mengisi perutnya yang sudah keroncongan dari tadi. Ia tampak sangat lega, karena tak ada satupun yang sadar bahwa batu ajaib itu sebenarnya hanyalah batu biasa. Ia hanya memanfaatkan batu itu sebagai penarik perhatian. Sop sekuali besar itu, sebenarnya adalah hasil gotong royong warga dusun miskin itu sendiri...

Cerita ini diadaptasi dari beberapa kegiatan pelatihan bersama masyarakat. Sering digunakan untuk menyadarkan masyarakat, bahwa kekuatan bisa dibangun dengan menyadari potensi diri. Berkeluh kesah saja tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan hanya akan menambah masalah.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar