1 Des 2008

Latah Beriklan




Pada postingan yang lalu, saya pernah menulis tentang bagaimana iklan digunakan sebagai alat untuk menepis rasa bersalah. Judul postnya "Menepis Rasa Bersalah dengan Iklan". Berikut salah satu kutipannya:
Dengan pendekatan yang mutakhir ini, maka semakin hebat pula iklan memermak citra suatu produk atau jasa, atau bahkan citra seseorang. Makanya judul artikel ini adalah bagaimana iklan bisa menjadi sarana menepis rasa bersalah, atau mungkin sebuah penebusan dosa. Kita tinggal panggil agensi terkenal, utarakan maksud kita, lalu biarkan para pekerja iklan yang mengotak-atik pesan sehingga segala bintik hitam di wajah itu bisa sirna. Pekerjaannya jadi mirip salon spesialis kulit wajah.
Nah. Belakangan ini, ada fenomena menarik. Kejaksaan bikin iklan, yang isinya menjelaskan betapa mereka sudah bekerja keras untuk memberantas korupsi. Lalu ada iklan Tarif Naik Haji yang semakin mahal, lalu juga iklan PNPM yang banyak sekali serinya. Untuk apa sebenarnya iklan-iklan tersebut?

Baiklah. Untuk menyegarkan ingatan kita, ini ada sedikit kutipan:
Advertising is defined in Webster's dictionary "as the the action of calling something to the attention of the public especially by paid announcements, to call public attention by emphasizing desirable qualities so as to arouse a desire to buy or patronize: promote." Advertising is a mass-mediated communication. For communication to be classified as advertising it must be: (1) paid for, (2) delivered to an audience via mass media, and (3) be attempting to persuade.
Tapi ada lagi yang disebut PSA, Public Service Announcement. Kita disini menyebutnya sebagai iklan layanan masyarakat. APa pula itu? Dari sebuah blog, saya kutip tulisannya tentang PSA ini. Berikut kutipannya:
Iklan Layanan Masyarakat berupa ajakan, pernyataan atau himbauan kepada masyarakat untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan demi kepentingan umum atau merubah perilaku yang “tidak baik” supaya menjadi lebih baik, misalnya masalah kebersihan lingkungan, mendorong penghargaan terhadap perbedaan pendapat, keluarga berencana, dan sebagainya . 
Seperti yang diungkapkan Rhenal Kasali dalam bukunya Manajemen Periklanan, Iklan layanan masyarakat juga menyajikan pesan sosial yang bertujuan untuk membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap sejumlah masalah yang harus mereka hadapi, yakni kondisi yang dapat mengancam keserasian dan kehidupan mereka secara umum Pesan tersebut dengan kata lain bermaksud memberikan gambaran tentang peristiwa dan kejadian yang akan berakibat pada suatu keadaan tertentu, positif/negatif. Pada awal perkembangannya iklan layanan masyarakat tidak terlalu terikat pada penataan yang ketat, perencanaan pesan yang rumit, pemilihan media yang sesuai, sampai pada penentuan target audiens maupun pemilihan tempat dan waktu yang benar-benar tepat .
Supaya lebih mudah, kita coba simpulkan saja bahwa pada akhirnya semua iklan yang disebut dalam teori-teori di atas berujung pada suatu perubahan di khalayak. Dari setuju menjadi tidak setuju. Dari tidak suka menjadi suka. Bahkan ada yang berani menempatkan iklan sebagai usaha untuk mengubah perilaku, dari negatif menjadi positif. Misalnya dalam isu buang sampah, atau merokok di tempat umum.

Balik lagi ke soalan di atas. Kalau kejaksaan juga bikin iklan, apa yang diharapkan dari masyarakat? Percaya bahwa Kejaksaan sudah bekerja keras? Melalui iklan? Bukankah ini buang-buang energi? Kalau memang mau kerja keras, ya kerja lah. Nggak usah banyak omong dan berbuih-buih di iklan. Kerjakan saja, dan pasti akan ada hasilnya. KPK, 'mungkin' saah satu contoh yang baik. Tidak banyak cingcong, kampanye lewat lomba bikin poster pun cuma iseng-iseng aja, tapi kerja di lapangan lebih membuahkan hasil.

Beda lagi dengan kasus iklan haji itu. Pada suatu malam, saya sempat menghitung, dalam rentang waktu kurang lebih 2 menit jeda acara, iklan itu bisa muncul 1:1 dengan iklan yang lain. Setiap kali iklan lain, trus disambung lagi iklan haji. Terus saja berulang-ulang. Maunya apa sih?

Kita semua tahu bahwa harga memang naik. Kita semua tahu bahwa krisis dimana-mana membuat ongkos penerbangan memang mahal. Yang dimintakan konsumen, atau para jemaah itu adalah, kalau memang mahal harganya, mbok ya pelayanannya diperbaiki. Terus terusan memborbardir orang dengan pesan 'mahal itu tantangan', 'semakin jauh semakin beramal', apa itu bukan pembodohan namanya?

Saya kira siapapun yang siap dengan naik haji tidak perlu mengeluh soal harga. Kalau memang diniatkan, siaplah dengan konsekuensinya. Tidak perlu dibodohi dengan pesan omong kosong macam itu. Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat dan menayangkan iklan macam itu? Bukankah lebih baik dialokasikan untuk peningkatan pelayanan saja?

Latah beriklan di media massa (baca: televisi) kini semakin menjadi-jadi. Semoga masyarakat jadi semakin pinter, bisa membedakan mana yang latah-latahan saja, dan tidak perlu dipedulikan. Apalagi Pemilu semakin dekat. Iklan politik akan semakin membanjiri media kita, bahkan jalanan kita. Waspadalah... waspadalah... :D

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar