19 Agt 2008

Sang Radikal, yang Ingin Mengubah Dunia

Tan Malaka, portrait as published in his autob...Image via Wikipedia
Judul di atas jelas mengutip tulisan Goenawan Mohamad dari Tempo Interaktif. Ya, tulisan itu tentang sang radikal, Tan Malaka. Ditulis dengan gaya yang 'sangat Goenawan', itulah khas catatan pinggir-nya.

Topiknya yang membuat saya sedikit terperangah. Tan Malaka. Siapa dia? Saya yang lahir di tahun 1970-an, di era Orde Baru sedang menuju masa keemasannya, sungguh tak mengenal siapa Tan Malaka. Yang saya ingat adalah, Tan Malaka adalah seorang tokoh dengan foto buram tampak dari samping, dan ia adalah pemberontak.

Tampangnya, kata teman saya, 'sangat komunis'. Persis seperti apa yang ada di kepalanya. Dan karena komunisme yang diusungnya itulah, ia ditelantarkan sejarah. Berikut kutipan dari tulisan Goenawan dari Tempointeraktif.com:

Terkurung di bawah wacana ”persatuan nasional”, agenda radikal tersisih dan sunyi. Terutama dari sebuah Partai yang mewakili sebuah minoritas—yakni proletariat di sebuah negeri yang tak punya mayoritas kaum buruh. Tan Malaka sendiri mencoba mengelakkan ketersisihan itu dengan tak hendak mengikuti garis Moskow, ketika pada 1922 ia menganjurkan perlunya Partai Komunis menerima kaum ”Pan-Islamis”—yang bagi kaum komunis adalah bagian dari ”borjuasi”—guna mengalahkan imperialisme.

Tapi ia juga akhirnya sendirian. Sang radikal, yang ingin mengubah dunia tanpa jeda tanpa kompromi, bergerak antara tampak dan tidak. Ia muncul menghilang bagaikan titisan dewa. Sejak Agustus 1945, Tan Malaka adalah makhluk legenda.

Memperingati 17 Agustus, mengingatkan saya pada banyak pahlawan bangsa ini. Sayangnya, tokoh seperti Tan Malaka tampaknya kurang masuk hitungan, mungkin karena ia adalah seorang komunis. Dulu, kalau kita berani mendiskusikan isi bukunya, Madilog, atau bahkan ketauan menyimpan kopi buku itu, mungkin kita sudah masuk penjara. Sekarang, Goenawan menuliskannya di Tempointeraktif. Dalam sebuah website, Anda bahkan dapat menemukan bukunya!

Kenapa Tan Malaka? Kalau Anda baca di Wikipedia, Tan Malaka ini sejatinya sudah diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963. Ini yang belum pernah saya baca sebelumnya, di buku sejarah sewaktu sekolah dulu. Atau mungkin saya yang malas membaca? Tan Malaka, pahlawan?

Ya. Lahir tahun 1897, wafat tahun 21 Februari 1949. Katanya (misteri kematian Tan Malaka masih belum jernih benar). Berpandangan jauh ke depan tentang Republik Indonesia. Kukuh mengkritik pemerintahan Kolonial Belanda, bahkan kepada Soekarno pasca revolusi kemerdekaan. Seorang komunis, tetapi sering bertentangan dengan pemimpin PKI. Mengajak Sjahrir, si 'pragmatis', Tan Malaka memang ingin menggusur Soekarno. Baginya Soekarno adalah borjuis kecil, yang harus digantikan oleh seorang proletariat, seperti dirinya.

Catatan pinggir Goenawan ini kembali mengingatkan saya pada kata Revolusi. Bahwa 17 Agustus adalah sebuah peristiwa revolusi. Bukan sekedar balap karung atau lomba makan kerupuk, atau iklan-iklan partai menuju pemilu. Revolusi, bung!

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke 63. Merdeka! *Itu 2 hari yang lalu...*

-----------------------
say it, you'll have it.
Enhanced by Zemanta
Posting Komentar