3 Jul 2008

Puisi lama tapi baru

Iseng buka-buka file, nemu tulisan lama. Sebenarnya gak lama-lama banget, baru tahun 2004. Tapi isinya kok rasanya masih saja terasa baru. Sangat terinspirasi oleh syair Rendra, karena di bait pertama itu lebih mirip kutipan. Dengan tidak bermaksud mencontek karya Rendra, silakan simak sendiri:
Kami adalah angkatan sundal
yang diperanakkan oleh angkatan kurangajar
Kami tidak membaca kebenaran
yang ada hanya kepentingan

Falsafah kami asal senang
karena bapak kami sudah sediakan
Tidur di malam hari, ada ibu yang meninabobokkan

Ketika kami membeli barang
Nilai gengsinya yang kami dahulukan
Soal harga bisa dikesampingkan
Soal guna bisa diperdebatkan

Kalau kami dituding berandalan
Tentu saja kami tidak senang
Karena bapak-bapak kami yang suka kelayaban
Dari rumah bordil pinggir jalan
sampai hotel mewah berbintang

Mereka bahkan lebih berangasan
Kalau marah, pistol diacung-acungkan
Angkatan bersenjata disiagakan
Gerombolan preman disejajarkan satpam

Kalau kami disebut tak tahu aturan
Itu karena standar mereka yang dijadikan acuan
Aturan yang mereka lahirkan
dari rahim-rahim kebiadaban
dan dibelai bedongan kekuasaan

Kekuasaan bapak kami
adalah tirai besi yang tak kasat mata
Tersembunyi di balik seruni
wangi semerbak melati
Tapi berdahan belati

Pernah suatu kali kami coba lompati
Tak ada yang selamat dari mati
Maka kami kini hanya berdiri di sisi
Menutup kuping dengan kedua jari
dan berdiri hanya dengan satu kaki

Bandung, Oktober 2004.
-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar