12 Jun 2008

Kemelut Ahmadiyah dan Branding

JAKARTA, INDONESIA - APRIL 5: Members of Islam Defender Front (FPI) hold a demo  before the trial of Playboy Indonesia magazine's Editor in Chief Erwin Arnada on charges of publishing indecent material, at South Jakarta District Court, April 5, 2007 in Jakarta, Indonesia. Indonesian judges acquited Arnada of the charges with judge Efran Basyuning saying the pictures Image by Getty Images via DaylifePerseteruan seputar Ahmadiyah di Indonesia, akhirnya berakhir dengan diterbitkannya SKB 3 Menteri, yang intinya memberi peringatan kepada Ahmadiyah agar tidak secara sengaja dan massal, menggalang dukungan terhadap mereka, dan tidak meneruskan penafsiran yang dibuatnya atas agama Islam. Paling tidak, hingga saat ini kekerasan tampaknya bisa dihentikan, terutama setelah peristiwa di Monas yang melibatkan FPI dan AKKBP.

Lalu ada kaitan apa dengan Branding? Ini adalah gagasan setengah gila, yang mengaitkan Islam sebagai agama, dengan term Branding. Ibaratkan Islam sebagai sebuah brand yang sudah mapan, dan jelas karakteristiknya. Meski banyak penafsiran yang dilakukan terhadapnya, tetapi pada prinsipnya Islam sudah punya pakem tersendiri. Apalagi sebagai sebuah agama, tidak hanya dilandasi oleh logika, tetapi juga oleh keimanan.

Branding, saat ini sudah berkembang tidak lagi sekedar cara menjual yang membicarakan keunggulan dan segudang feature produk, tetapi juga mulai mengaitkan dirinya dengan kelompok masyarakat tertentu. Produk anu adalah representasi masyarakat yang anu. Begitu branding menempatkan dirinya sekarang di masyarakat. Tengok saja definisi branding, yang ditulis oleh Marty Neumeier:

Brand is a person's gut feeling about a product, service, or organization...

Agama memang bukan produk, layanan jasa, atau organisasi. Agama seharusnya adalah sebuah ajaran tentang kebaikan, yang menuntun manusia menuju jalan hidup yang lebih baik. Tetapi ketika agama direduksi menjadi lembaga-lembaga, organisasi masyarakat yang merasa mewakili ajaran Tuhan ini, maka urusannya bisa jadi lain.

Bentrokan pun tak terhindarkan. Dan bentrokan ini melibatkan orang-orang yang beragama tadi. Tapi kalau kita lihat lagi, bentrokan ini sebenarnya juga melibatkan organisasinya. Ahmadiyah, saya lebih suka melihatnya sebagai sebuah organisasi, dimana mereka menganggap seorang Imam menjadi pemimpin sucinya. Ahmadiyah sebagai sebuah organisasi, memiliki doktrinnya tersendiri, yang ternyata berbeda dengan doktrin dalam Islam yang kita kenal.

Perbedaan ini, pada akhirnya seperti sebuah pertempuran antar merk/brand, yang memperbutkan hak cipta. Maka bagi yang merasa memiliki Brand Islam ini, keberadaan Ahmadiyah dianggap melecehkan brand Islam yang sudah mapan. Dan karena Islam adalah sebuah agama yang dilandasi keimanan, maka pelecehan terhadap keimanan adalah sebuah pelecehan yang serius.

Kenapa menjadi organisasi? Penafsiran yang berbeda, dan kemudian dianggap yang paling benar, perlu dilestarikan oleh orang-orang yang mempercayainya. Bahwa Ahmadiyah memiliki kepercayaan tersendiri, itu buat mereka yang percaya, adalah sebuah kebenaran. Dan kebenaran adalah sesuatu yang harus disebarluaskan. Bagaimana lagi caranya, kalau tidak diorganisisr melalui sebuah organisasi/lembaga. Entah lembaga itu bersifat formal, maupun informal.

Perseteruan NU-Muhammadiyah seputar penetapan Hari Raya Idul Fitri, adalah juga perseteruan antar organisasi, organisasi yang masing-masing memiliki visi dan misi yang berbeda. Maka meski perseteruan itu tidak mewujud, tetapi kita akui ada, dan indahnya adalah tidak perlu ada kekerasan untuk menyelesaikannya.

Kembali ke persoalan branding. Masing-masing organisasi yang memiliki visi dan misi itu, sebenarnya secara tidak sadar telah mempraktekkan teori branding dengan sangat baik. Visi dan Misi yang mewujud dalam kehidupan mereka sehari-hari, merupakan brand yang sangat jelas karakter-nya. Orang Muhammadiyah itu begini. Orang NU itu begitu. Orang Ahmadiyah itu beginu. FPI itu seperti ini. Saya kira tidak sulit mencari perbedaannya.

Visi dan Misi yang mewujud inilah, yang saya sebut sebagai sebuah branding. Starbucks, dengan sengaja melatih para pelayannya untuk mampu berkelakuan seperti "Starbucks". Sebagai sebuah merk, Starbucks tidak saja menawarkan kualitas kopi, tetapi juga sebuah "kepribadian" yang kompleks. Kepribadian ini dirumuskan oleh organisasi, tapi lalu diwujudkan oleh 'kelakuan' staf dan para pelayannya. Yang tidak lulus uji-kepribadian, tidak akan bisa bekerja di Starbucks.

Maka seandainya ada sebuah warung kopi, yang mendeklarasikan dirinya sama seperti Starbucks, tetapi melayani konsumennya dengan cara yang berbeda, akan menimbulkan sengketa secara hukum. Warung kopi ini akan dituntut, karena tidak secara sah membeli franchise Starbucks, malah menebeng ketenaran Starbucks.

Jika kita merespon beberapa kalimat yang diucapkan oleh para anti Ahmadiyah, mereka menyarankan agar Ahmadiyah menggunakan nama agama lain, selain Islam. Ahmadiyah tidak akan digugat, jika saja mereka mau menggunakan nama Agama Ahmadiyah, dan mendeklarasikan dirinya berbeda dengan Islam. Misalnya penegasan PBNU berikut ini:

“Pemerintah hendaknya menyatakan bahwa Ahmadiyah berada di luar Islam dan tidak boleh mengahmadiyahkan orang Islam atas dasar kebebasan,” kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Rabu [07/05] .

Urusan nama, ini tidak sekedar nama. Islam adalah sebuah agama yang lengkap dengan segala yang diwajibkan dan yang dilarang. Islam pun mewajibkan agar ajarannya mewujud dalam perilaku sehari-hari, perilaku yang Islami. Tidak hanya Islam, semua agama akan bicara hal yang sama. Ajaran itu harus mewujud dalam perilaku sehari-hari, bukan sekedar hafal di mulut.

Nah, disini tampak persinggungan yang jelas. Starbucks, saat ini sudah seperti 'agama' bagi para karyawannya. Visi dan Misi itu tidak hanya sekedar diucapkan di mulut, atau dipampang di dinding kantor, tapi harus mewujud dalam kehidupan mereka. Inilah karyawan teladan di mata Starbucks. Sangat penting untuk berkelakuan seperti Starbucks, jika Anda adalah karyawan di sana. Karena kalau tidak, tentu Anda akan dipecat.

Starbucks disini, hanyalah sebuah contoh. Tetapi branding secara umum, saat ini sudah memasuki wilayah ini. Kecanggihan metodologi dan pendekatan yang digunakan, semakin meningkatkan penetrasinya di benak khalayak. Para pemilik brand ini seolah para pendakwah, yang berusaha menyebarkan ajarannya, agar barang-barang yang dijualnya laku terbeli.

Saya hanya merasa khawatir. Semoga saja tidak ada pendakwah agama tertentu, yang berpikiran seperti para pemilik brand ini. Atau kalau mau spesifik, semoga tidak ada pihak tertentu yang sedang memancing di air keruh dalam pertikaian seputar ajaran agama ini.

Baca juga:
  1. Ahmadiyya di Wiki
  2. High Performance Brands
  3. Membongkar kesesatan dan kedustaan Ahmadiyah
  4. Ulil JIL tentang Fatwa MUI terhadap Ahmadiyah

-----------------------
say it, you'll have it.
Zemanta Pixie
Posting Komentar