20 Mei 2008

Hantu yang Bernama Kenaikan Harga BBM

UPDATE: Tahun 2012, kembali ada wacana kenaikan harga BBM.

BBM lagi. Lagi-lagi BBM. Naik lagi, nggak pernah turun. Gimana mau turun, stok terus berkurang, sementara pemakaian melonjak drastis. Dari data CIA Factbook tahun 2007, yang dimuat di nationmaster.com, konsumsi minyak dunia adalah 82,234,918 barel/hari. Amerika menduduki peringkat nomor 1, dengan 20,730,000 barel/hari. Indonesia? Menduduki peringkat ke-17, dengan 1,168,000 barel/hari.

OK. Dengan tingkat konsumsi sebesar itu, hampir 1,2 juta barel perhari, ngomong-ngomong produksi minyak kita seberapa banyak sih? Mari kita periksa tabel produksi minyak dunia dari British Petroleum (BP):

Hmm... Hitungan kasar saja, pada tahun 2006 kita sudah 'untung' 40 ribu barel perhari. Nah lho... Kenapa di tahun 2007 jadi 'tekor' lagi yah? Konsumsi bahan bakar luarbiasa melonjak, kurang lebih 100 ribu barel perhari! Gimana gak tekor?

Seandainya peningkatan konsumsi ini diartikan sebagai daya beli meningkat, atau industri mulai menggeliat, artinya bagus. Tapi kalau kenaikan ini justru disumbang oleh kendaraan bermotor yang semakin banyak berlalu lalang di jalanan, maka inilah sisi konsumsi yang perlu dikurangi. Coba tengok berita-berita berikut:


PENJUALAN kendaraan motor terus mengalami kenaikan, yang signifikan dalam tiga bulan terakhir. Peningkatan terbesar terjadi di segmen kendaraan roda empat, yang pada triwulan I (Januari - Maret) 2008 mencapai angka 60,5%. Pebisnis otomotif roda empat menilai, kondisi ini disebabkan masyarakat berspekulasi membeli mobil sebelum terjadi kenaikan harga akibat melonjaknya harga minyak bumi.

Penjualan sepeda motor selama kuartal pertama 2008 meningkat 37% menjadi 1,44 juta unit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tingginya permintaan sepeda motor ini, terkait dengan rendahnya tingkat suku bunga perbankan yang diterapkan sejak tahun lalu. Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga acuan BI sebesar 475 basis poin menjadi 8,0% sejak Mei 2006. Indonesia saat ini menjadi pasar sepeda motor terbesar ketiga dunia setelah Cina dan India. (ovi)***
* Pikiran Rakyat Online.

Atau coba perhatikan berita dari www.wartaekonomi.co.id. Nah, entah berapa persen pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor kita telah menyumbang tekornya APBN untuk mensubsidi BBM. Di satu sisi, kebijakan pemerintah yang menurunkan suku bunga kredit, mendorong penjualan kendaraan bermotor meningkat. Tapi di sisi lain, ada dampak konsumsi BBM yang melambung karenanya.

Kalau begini cara pemerintah mengurusi negara ini, maka entah sampai kapan kita masih punya tempat berlindung. Tidak heran kalau harga BBM akan terus menjadi hantu yang menakutkan.
Data-data ini tentu saja jauh dari akurat, tapi dengan melihat secara kasar saja, sudah tampak kebijakan pemerintah yang agak aneh telah berkontribusi terhadap kekacauan asumsi APBN.

Kalau kenaikan harga BBM ini selalu menghantui kita, layaknya hantu jembatan ancol yang seksi itu, rasanya bukan hal yang aneh lagi. Bahwa kenaikan harga minyak dunia itu di luar kendali kita, tentu saja. Tapi ya mosok tidak mengantisipasi hal kayak gitu. Kita kan punya intelejen. Bisa bikin analisa. Punya menteri luar negeri. Punya duta besar yang dibayari 'liburan' panjang di luar negeri. Apa gunanya?

Saya bukan ahli statistik, dan bukan pula ekonom. Saya cuma bapak-bapak yang mendambakan kredit rumah yang terjangkau, bisa beli baju buat anak-anak dan istri, serta bisa makan makanan bergizi tapi murah. Gitu aja kok repot ya?

-----------------------
say it, you'll have it.

Lihat juga:
Menaikkan BBM Tanpa Menaikkan Harga
Bank Dunia Menolak Danai Monorel
Posting Komentar