10 Nov 2008

Siapa yang Kita Sebut Pahlawan?


wikipedia.org

Beberapa saat setelah polemik mengenai memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Alm. Soeharto, saya dan beberapa teman sempat berdiskusi kecil. Bagi saya sederhana, bahwa yang kita sebut pahlawan itu yang punya catatan pengorbanan bagi bangsa dan negara. Baik material, maupun non-material.

Sederhana saja pikiran itu muncul. Seringkali saya nonton film perang-nya Amerika. Kalau Anda juga pernah nonton, maka Anda tentu pernah mendengar prajurit, baik itu kopral maupun jenderal, kalau kena tembak, pasti dapet Purple Heart. Medali yang melambangkan kepahlawanan tentara Amerika di medan laga. Artinya, Amerika menghargai pengorbanan tentaranya, meski ia adalah seorang kopral.

Seorang kopral tentu jasanya tidak sebanyak jenderal. Dan tentu saja dengan mendapat Purple Heart, ia tidak lantas menjadi pahlawan nasional Amerika. Tapi esensi penghargaannya yang menurut saya cukup masuk akal. Nah, kalau mau jadi pahlawan nasional, tentu saja pengorbanannya tidak sekedar itu. Menurut Ignas Kleden, harus ada "pengorbanan khusus."

Salah satu sebabnya ialah karena pahlawan bukanlah terutama seseorang yang memberikan jasa khusus, tetapi seseorang yang melakukan suatu pengorbanan khusus. Dalam banyak kasus apa yang dikorbankan adalah milik terakhir yang tak tergantikan, yaitu hidup dan nyawa yang bersangkutan sendiri. Dari segi itu kita dapat memahami bahwa Jose Rizal dipuja sebagai pahlawan Filipina bukan karena kepandaian dan jasa-jasanya sebagai seorang dokter, bukan juga lantaran kemahirannya menguasai beberapa bahasa Barat dengan baik, atau karena bakat seninya yang luar biasa. Dia menjadi pahlawan karena bersedia mati demi keyakinannya bahwa perjuangan rakyat Filipina untuk merdeka adalah sah dan benar, dan penjajahan Spanyol merupakan praktek yang harus diakhiri.

Senada dengan apa yang diungkapkan Ignas Kleden, Eep Saefulloh Fatah juga mengungkapkan bagaimana kita perlu memperjelas definisi 'Pahlawan', atau juga mulai mempertanyakan ulang apa gunanya kita mempahlawankan seseorang untuk negeri ini.

Pahlawan selama ini telah didefinisikan secara keliru. Kekeliruan ini mesti dihentikan.

Kita mesti mulai menarasikan sejarah sebagai hasil kerja bersama semua orang tanpa kecuali dengan keterbatasan kapasitas dan peranannya masing-masing. Sejarah mesti memberi ruang bagi tiap orang untuk menjadi penentu.

Dalam perspektif lama, pemberian gelar pahlawan tak bisa lepas dari jerat pertimbangan politik yang kerap kali tak proporsional. Pemberian gelar pahlawan kerap kali dilakukan berdasarkan adagium lama: Sejarah disusun oleh mereka yang menang.

Kembali ke topik posting sebelumnya mengenai Ratu Adil, mungkin yang seperti inilah yang kita perlukan. Pahlawan itu diajarkan dalam pelajaran sejarah karena etos kepahlawanannya perlu kita tiru, karena itulah yang memberi kita inspirasi untuk berbuat yang sama, atau bahkan lebih baik. Pahlawan, selain memiliki jasa khusus, pengorbanan khusus, juga nilai-nilai yang diajarkannya bisa menginspirasi orang banyak. Bung Tomo, sang penyihir rakyat Surabaya, menurut saya salah satu yang luput dari gelar kepahlawanan.

Terlepas dari persoalan kriteria pahlawan, pemberian gelar-gelaran sebenarnyapun tidak terlalu penting. Pemberian gelar pada akhirnya hanya menjadi seremonial belaka. Buku-buku pelajaran sekolah kita belum bisa mengangkat tema-tema kepahlawanan sedemikian rupa sehingga menginspirasi siswanya. Kalah pamor dengan komik Superman, yang melekat di hati pembacanya. Bagi pecandu komik ini, Superman adalah pahlawan.

Bagi saya yang pernah membaca kisah Pattimura, saya bahkan hampir lupa apa yang dulu diajarkan di bangku sekolahan. Yang masih saya ingat hanyalah Diponegoro, tahun 1825-1830. Itupun bukan tahun kelahiran Diponegoro, melainkan tahun-tahun perjuangannya. Sekedar nama, dan angka. Inilah yang diajarkan di sekolah, dan yang diujiankan pada saat Ebtanas. Begitupun nama-nama pahlawan yang lain, yang dipampang pada sebuah poster bersahaja, menampilkan wajah sang pahlawan, dan sederet angka tentang tahun kelahiran serta kematiannya, atau masa perjuangannya. Kering. Sama sekali tidak menginspirasi.


-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar