25 Feb 2008

Bencana Alam, atau Bencana Orang?



crisp.nus.edu.sg

Lumpur membludak, rakyat Sidoarjo menggugat. Inilah kira-kira situasi awal yang terjadi ketika berita sumur Lapindo Brantas Inc. yang meluapkan ribuan ton lumpur merebak. Semburan lumpur yang bermula pada bulan Mei 2006 ini, hingga sekarang belum jelas solusinya. Tanggul sudah dibangun disana-sini. Tapi tetap saja tak kurang dari 10 pabrik serta 90 hektar sawah serta pemukiman penduduk tak bisa digunakan lagi. Selain itu jalan tol Surabaya-Porong, dan jalur kereta api juga ikut terganggu.

Lalu muncul kabar, musibah ini akan dicanangkan menjadi bencana nasional. Meski pro dan kontra seputar penetapan ini masih berlangsung, tapi kuatnya desakan DPR ke pemerintah seolah-olah semakin meneguhkan betapa tuli dan bebalnya wakil rakyat itu. Pemerintah sendiri masih ragu-ragu. Tampaknya biaya penanggulangan yang diperkirakan sebesar 30 trilyun itu membuat pemerintah harus berpikir seribu kali.

Alasan penetapan sebagai bencana nasional, kelihatannya memang masuk akal. Dengan ditetapkannya danau lumpur itu sebagai bencana nasional, maka DPR dapat dengan leluasa memberi dukungan kepada pemerintah untuk menganggarkan sejumlah uang untuk penanganannya. Tapi, kok jadi pemerintah yang bertanggung jawab? Apakah karena kasus ini sudah melibatkan banyak sekali warga negara Indonesia? Lalu si biang kerok penghasil lumpur ini dikemanakan?

Sebelum bicara mengenai bencana nasional atau bukan, saya lebih tertarik mencermati apa yang mau kita sebut sebagai bencana alam, dan mana yang sebenarnya bencana orang. Bencana alam, saya melihatnya sebagai bencana yang datangnya dari alam. Intervensi manusia dalam hal penyebab terjadinya peristiwa itu, nihil. Contoh paling sederhana adalah gempa bumi. Kita bahkan tidak bisa melacak, kapan gempa bisa terjadi. Atau gunung meletus, angin topan, dll. Pokoknya bencana yang datang karena memang peristiwa alamiah.

Bencana Orang? Bencana yang datang karena kelalaian manusia. Sebut saja yang gampang, Banjir. Banjir menurut saya bukanlah bencana alam. Jelas-jelas banjir terjadi karena ketidakseimbangan ekosistem, yang sudah rusak oleh jamahan tangan manusia. Kalau hutan-hutan di gunung Anda tebang, pekarangan Anda plester beton, maka air hujan mau lari kemana? Ia akan lari ke rumah Anda.

Danau lumpur Lapindo? Jelas itu adalah fenomena alam yang disebabkan oleh kelalaian manusia. Kasus ini memang betul, dapat dikategorikan sebagai bencana, peristiwa yang menyebabkan kerugian materil maupun non-materil. Kapolda Jatim Irjen Pol Herman Suryadi Sumawiredja saat rapat Komisi VII DPR dengan Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo di Jakarta, Kamis (8/3) dini hari mengatakan, bukti tersebut didapat dari sebagian besar saksi ahli yang telah dimintai keterangannya. Meskipun begitu, faktanya semburan itu berjarak 200 meter dari sumur pengeboran milik Lapindo, kata Yuniwati Teryana, Vice President Lapindo Brantas Inc. Lha, kalau dalam radius 200 meter ada potensi bahaya seperti itu, mosok ahli-ahli geologinya nggak 'ngeh? Emang lulusan mana ahli geologinya?

Banyak sumber informasi yang bicara mengenai lautan lumpur Lapindo ini *sekarang sudah tidak tampak lagi sebagai danau*. Salah satu yang menarik adalah blog ini, http://hotmudflow.wordpress.com. Disini banyak artikel ataupun laporan yang cukup detil mengenai bencana lumpur lapindo di blog ini. Ada lagi http://gebraklapindo.wordpress.com, blog yang merupakan koalisi berbagai elemen masyarakat di Indonesia untuk melakukan segala daya upaya demi mendukung perjuangan warga sidoarjo korban lumpur lapindo. Tak kurang dari 34 lembaga tergabung disana.

Dari luar negeri, ada satu web yang menunjukkan hasil foto satelit tentang luasan lumpur lapindo. Dari situ Anda bis amelihat dampak fatal lumpur Lapindo di wilayah Porong dan sekitarnya.

Jadi, jangan jadikan lautan lumpur ini sebagai bencana alam. Selain itu adalah sebuah pembodohan, juga membiasakan perilaku buruk kita untuk selalu 'lari' dari masalah. Ia tak harus dihindari, tapi harus dihadapi. Lapindo Brantas Inc. tidak hanya berkewajiban mengganti kerugian materil yang ditimbulkannya, tapi juga memberi harapan baru kepada warga Porong dan sekitarnya yang sekarang kehilangan 'akal' untuk melanjutkan hidup mereka. Lapindo bertanggung jawab penuh atas keberlanjutan nasib mereka, terlepas ini bencana alam atau bencana orang.



-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar