14 Feb 2008

Amerikapun Butuh Ratu Adil

Anda tentu pernah mendengar tentang Ratu Adil? Kanjeng Ratu Adil, si Khalifah Akhir Jaman, demikian si Ratu Adil ini diberi 'gelar'. Di tanah Jawa, Ratu Adil sudah menjadi legenda tersendiri. Berikut penjelasan singkat yang saya kutip dari sebuah situs:

- [Masa Ratu Adil] - bagian dari Kali Sengara
Di saat inilah Tanah Jawa sejahtera, hilang segala penyakit dunia, karena datangnya raja yang gaib (misterius), yaitu keturunan utama (sebagai) Ratu Tedak Amisan (karena asalnya sangat hina dan miskin menurut pandangan masyarakat umum). Berdirinya tanpa syarat sedikitpun, bijaksanalah Sang Ratu. Kratonnya Sunyaruri (sepi tanpa sesuatu sarana tidak ada sesuatu halangan). Waktunya masih dirahasiakan. Tuhan membuat kebalikan keadaan. Beliau menjadi raja bagaikan pendeta, adil, menjauhi harta, disebut Sultan Herucakra.

Datangnya Sang Ratu ini tanpa asal (yang jelas), tidak mengadu bala manusia (peperangan yang menumpahkan darah), keagungannya berdzikir namun musuhnya takut. Yang memusuhi pun dapat dikalahkan, sebab Sang Ratu menghendaki kesejahteraan rakyat dan keselamatan dunia seluruhnya.

Sang Ratu Adil, ditunggu-tunggu oleh rakyat yang sedang tak berdaya, miskin, tertindas. Di antara beberapa kandidat presiden kita *pada waktu kampanye* pernah menyebut-nyebut Ratu Adil ini sebagai bahan kampanyenya. Sudah tentu semua ingin Ratu Adil ini datang, tapi jangan sampai di akhir jaman. Kalau bisa sekarang!

Lain di Jawa, lain pula di Amerika. Anda tentu tahu Superman? Tokoh fiksi yang diciptakan 2 orang keturunan Yahudi di Amerika ini, ternyata pernah menjadi sebuah figur yang menurut saya mirip-mirip dengan Ratu Adil-nya orang Jawa. Coba tengok sejarah, ketika itu (tahun 1930-an), Amerika sedang dilanda The Great Depression. Suatu masa yang pada waktu itu hampir semua rakyat Amerika bahkan tidak yakin akan mampu bertahan hidup.

Dalam sebuah web yang saya temukan tentang sejarah Superman, ada sebuah kutipan yang menarik, "a hero for troubled times and a reflection of his era". Menarik bukan? Superman memang tidak benar-benar datang ke bumi dan menyelesaikan persoalan ekonomi Amerika dan keganasan Hitler pada waktu itu. Tetapi, sosoknya ternyata memberi harapan bagi jutaan warga Amerika yang sedang putus asa.

Superman proved to be something of an overnight success. The "champion of the oppressed" became a comfort, particularly to children during the hard economic times and the gathering storm clouds of World War II. Reality was becoming ever grimmer and so Superman became their light at the end of a very long, dark tunnel.

Ajaib khan? Amerika ternyata 'membutuhkan' Superman untuk mengurangi duka laranya. Tentu saja tidak dengan sekedar membaca komik, lalu perekonomian bangkit. Tapi inspirasi yang dibawa oleh karakter si manusia baja dari Planet Krypton ini ternyata mampu menggerakkan orang-orang yang tadinya cuma berkeluh kesah.

Ini yang lebih penting. Berkeluh kesah saja tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbun masalah. Tapi bergerak untuk mengubahnya, adalah sebuah harapan. Superman bisa menjadi 'bensin' bagi mogoknya 'mesin' perekonomian Amerika. Kenapa kita tidak bisa? Apa kita kekurangan tokoh yang bersahaja seperti Clark Kent, tetapi dibaliknya menyimpan kekuatan super yang luar biasa pada diri Superman?

Memang, menggantungkan nasib pada tokoh bukan jawaban untuk keluar dari situasi sulit ini. Tapi yang ingin saya bicarakan adalah, kita butuh pemimpin yang mampu menginspirasi rakyatnya untuk bangkit. Memiliki visi yang jelas mengenai masa depan, tak gentar dicaci maki pengamat dari televisi. Bukan pemimpin yang sekedar sibuk mengejar break event point atas investasi yang ia buat pada masa kampanye. Atau pemimpin yang sibuk 'melayani' kroni-kroninya dengan berbagai proyek dan jabatan politik atas nama balas jasa. Kita tidak butuh pemimpin yang menganggap jabatan PEMIMPIN sebagai sebuah PIALA BERGILIR yang perlu direbut kembali.

Kampanye presiden memang masih tahun depan. Tapi naga-naganya, banyak calon kandidat yang slonong boy, tidak tahu diri, dan bahkan terlalu pede untuk maju menjadi calon. Padahal ia tak punya kemampuan memimpin. Tak bisa menginspirasi orang untuk bekerja. Kalau menginspirasi orang untuk bikin kerusuhan sih, banyak yang bisa. Itu yang kita sebut PROVOKATOR KERUSUHAN. Yang kita butuhkan adalah PROVOKATOR PERUBAHAN! Saatnya mulai dari sekarang mencari figur-figur yang lebih banyak bekerja bersimbah keringat, daripada yang sok sibuk mempromosikan diri lewat tayangan iklan di televisi.

-----------------------
say it, you'll have it.
Posting Komentar