22 Des 2007

Mubes Jepara, Appreciative Inquiry, & Saktinya UUD 45


Imagine a city where...

...young people are leading the way forward

...public schools are thriving community learning centers

...neighborhoods and institutions work together to share ideas
and resources


...and all citizens recognizes and applies their talents to create
a positive future for themselves and their community

Kira-kira inilah cita-cita mulia kota Chicago menggelar program Imagine Chicago. Imagine Chicago, sebuah lembaga non-profit yang membangun partisipasi warga Chicago untuk mengembangkan kotanya sendiri.

Imagine Chicago is a non-profit organization that helps people develop their imagination as city creators. It offers everyone, especially young people, the opportunity to invest themselves in the city's future.

Imagine Chicago works in partnership with individuals and local organizations; schools, museums, churches, businesses, and community groups. Together, they design and implement innovative civic projects that build meaningful connections across generations and cultures and have lasting institutional and community impact.

Imagine Chicago encourages individuals and organizations to focus constructively on their capacities and opportunities to make a difference as they:


understand what is
imagine what can be, and
create what will be.

Imagine Chicago menerapkan Appreciative Inquiry untuk bersama-sama membangun visi kotanya, dan bersama-sama pula mewujudkan cita-cita tersebut. Melalui berbagai program, Imagine Chicago yang sudah hampir sepuluh tahun lebih berjalan, berhasil mewujudkan dialog besar antar warga kota demi kotanya.

Proses intinya sendiri ada tiga, yaitu:

  • dialogue – across cultural, racial, economic and generational boundaries.
  • curriculum development – frameworks and organizers to understand, imagine and create projects that build community.
  • network formation – to link individuals and organizations committed to developing a positive future for Chicago’s children.
Beberapa di antara program yang sudah selesai adalah Urban Imagination Network. Program ini berhasil menjaring 7 sekolah umum, dan dan 6 museum untuk mengembangkan kegiatan membaca. Targetnya bukan saja anak-anak atau remaja, juga orang tua dan para tokoh-tokoh lokal.

Program lain yang tak kalah menarik adalah Reading and Writing A City Curriculum. Program ini berhasil mendorong anak-anak di sekolah, berbekal sejarah kotanya, membangun gagasan masa depan kotanya. Anak-anak belajar dari arsitektur kota yang sudah ada, bahkan sungai-sungai bisa menjadi bahan belajar.

Dari kasus-kasus tersebut, pelajaran yang bisa diambil adalah kriteria pembuatan pernyataan cita-cita yang baik. Berikut tujuh kriteria yang bisa digunakan:

  1. Provocative; Apakah terasa mencerahkan, menantang, dan menggugah?
  2. Grounded; Apakah gambaran yang ideal itu merupakan kenyataan yang niscaya bisa terjadi?
  3. Afirmative; Apakah hal itu dinyatakan secara tegas, dan meyakinkan?
  4. Participative; Apakah itu sebuah proses yang membuka ruang keterlibatan?
  5. Lifelong Learning; Apakah bisa merangsang pembelajaran masyarakat lintas generasi?
  6. Long-lasting; Apakah ada keseimbangan antara keberlanjutan, perubahan, dan kebaruan?
  7. Desired; Jika deklarasi itu terwujud sepenuhnya, apakah itu yang memang diinginkan?
Bagaimana dengan Jepara?
Gagasan tentang Mubes Jepara bermula dari apresiasi kelompok-kelompok masyarakat di Jepara terhadap transisi sosial politik dari otoritarian ke demokrasi. Dalam proses-proses politik, rakyat belum sepenuhnya terlibat dan dilibatkan.

Dalam konteks Indonesia, liberalisasi politik yang ditandai dengan kebebasan berekspresi dan berpolitik dinilai belum berpihak pada rakyat. Sebaliknya cenderung menciptakan oligarki pada semua level pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat luas.

Berdasarkan ini, Forum Warga mengundang 45 lembaga lokal untuk berkumpul dan mengumpulkan gagasannya. Muncullah gagasan untuk mengembangkan Deliberatif Forum, yang dimaksudkan sebagai kanalisasi aspirasi masyarakat Jepara yang berkembang. Terbentuklah pokja penyelenggara Mubes, yang terdiri dari aliansi 9 lembaga (NU, LAKPESDAM, LSKAR, PMII, FW, FKBJ, IPPHTI, LP. MA'ARIF, & PK2P).

Undangan sejumlah 1200-an disebar ke seluruh pelosok Jepara. Tidak hanya LSM, ada guru, pengrajin, tokoh agama, petani, buruh dan sebagainya. Musyawarah Besar Rakyat Jepara ini akhirnya terselenggara pada tanggal 3 Desember 2007 lalu, dihadiri oleh kurang lebih 500-an peserta. Musyawarah dibagi-bagi dalam 5 komisi, dan masing-masing komisi menghasilkan rekomendasi yang berupa usulan kebijakan dan anggaran.

Mubes Rakyat Jepara, seperti juga Imagine Chicago, akan sangat membantu dalam pencerdasan masyarakat dalam berdemokrasi. Menyelenggarakan sebuah event besar, yang melibatkan banyak orang, bukan pekerjaan mudah.

Ada banyak sekali kepentingan, dan tidak muskil kepentingan itu akan saling bersilangan. Panitia harus diberi acungan jempol atas usahanya 'mendamaikan' berbagai kepentingan itu, hingga mau duduk bersama dan menyampaikan aspirasinya.

Appreciative Inquiry dapat sangat membantu proses ini. Dengan AI Summit, yang mendialogkan sejumlah orang dalam sebuah forum yang menyenangkan dan deliberatif, dapat membangun energi positif dari banyak orang, dan menggelinding menjadi energi yang besar untuk pembangunan bersama. Dialog yang dibangun berdasarkan inti positif, akan menghasilkan sebuah perubahan yang positif pula.

Bagaimana dengan Indonesia?
Bangsa ini sudah terlalu lama mengeluh. Padahal cita-cita mulia yang tersurat dalam UUD 45, bukanlah pepesan kosong. Jika kita perhatikan, kalimat-kalimat dalam Pembukaan UUD 45, itu adalah visi kebangsaan yang sangat positif dan provokatif. Coba saja perhatikan kalimat-kalimat berikut:
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dari 7 kriteria sebuah provocative preposition, kalimat di atas mampu memenuhi semuanya. Paragraf di atas jelas Provocative; mencerahkan, memberi inspirasi bagi yang membacanya. Kemudian, isinya juga Grounded; gagasan yang niscaya pasti tercapai, bukan mimpi yang terlalu muluk-muluk. Lalu berikutnya, Affirmative; dinyatakan secara tegas.

Isi dari paragraf tersebut juga Participative; membuka ruang yang seluas-luasnya untuk keterlibatan semua pihak. Jika diresapi dengan benar, akan mendorong Lifelong Learning; merangsang pembelajaran lintas generasi. Ingat, sejarah itu penting (sejarah yang benar!).

Gagasan "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan" adalah sebuah gagasan yang Long Lasting; terdapat keseimbangan antara keberlanjutan, perubahan, dan kebaruan. Dan yang terakhir, gagasan ini pasti sangat diinginkan oleh seluruh rakyat Indonesia; Desired.

Dengan modal UUD 45 inilah kita merdeka. Dan pastinya, belajar dari sejarah, seharusnya kita bisa keluar dari misteri kemiskinan dan keterpurukan ini lebih cepat dari yang ada sekarang. Ketika negarawan dan politisi berpikir lebih nasionalis, daripada menjadi kapitalis. Dimana kepentingan orang banyak menjadi prioritas, bukannya batu loncatan.

-----------------------
say it, you'll have it.

Posting Komentar