24 Okt 2007

The Secret & Appreciative Inquiry

flickr.com

Pernah denger The Secret? Bagaimana kalau Law of Attraction? Bagaimana kalau Appreciative Inquiry? Kalau ESQ-nya Ary Ginanjar?

Nah. Kalau yang terakhir ini pasti sudah pernah denger. Bung Ary dengan ESQ Community-nya ini memang lagi HOT. Hampir semua jajaran pemerintah pernah minta dilatih sama ESQ. Katanya sudah terbukti dapat meningkatkan semangat kerja dan etos para karyawannya. Hmmm...

Lalu apa itu Appreciative Inquiry? Katanya, Appreciative Inquiry (AI) ini pendekatan action research yang 'baru'. Yang agak post-modern. Dr. Gervase Bushe pernah mempresentasikan sebuah makalah dengan judul "Appreciative Inquiry: A Post-Modern Approach to Action Research for Social Change". Nah...

Kenapa disebut Post-Modern? Mungkin karena pendekatan AI lebih banyak menggunakan sisi yang lain dari manusia, daripada sekedar logika dan rasionalitas. Pendekatan logika dan rasionalitas ternyata lebih banyak menjebak kita dalam pemikiran defisit. Pemikiran defisit berusaha memecahkan masalah dengan mengeksplorasi masalah itu. Menggali lebih dalam ke inti masalah, berharap menemukan inti masalah yang sering disebut sebagai akar masalah. Lalu kalau sudah ketemu intinya, berharap bisa mengembangkan jawaban/solusinya.

Kalau AI, mencoba memecahkan 'masalah' dengan melihat sisi baiknya. Yang digali adalah inti positif, bukan inti masalah. Yang ingin ditemukan adalah akar dari kehidupan, segala sesuatu yang meskipun kecil tapi berarti bagi keberlangsungan hidup hingga detik ini. Dengan menemukan inti positif ini, AI yakin kita bisa menyelesaikan masalah, bahkan mampu mencapai sesuatu melampaui masalah yang kita hadapi.

Setidaknya inilah pemahaman yang ada di kepala saya.

Lalu apa Law of Attraction?
Law of Attraction diperkenalkan oleh The Secret, melalui film dan buku-bukunya. Bahkan ada satu buku khusus yang bicara mengenai Law of Attraction. Katanya alam semesta ini selalu merespon apa yang Anda sampaikan kepadanya(Nya?). Bentuknya bisa berupa do'a, harapan-harapan, keinginan cita-cita, dsb. Bahkan angan-angan yang tidak pernah dikatakan, tetapi terpendam sangat kuat di dalam hati Anda, mampu menggerakkan alam semesta untuk menjawabnya. Bentuk jawabannya bisa datang dari mana saja, bahkan mungkin dari sumber yang kita tidak pernah duga sebelumnya.

Nyatakan harapan Anda kepada Alam Semesta, dan bersikaplah selaras dengan apa yang Anda harapkan. Semakin kuat sikap Anda mendukung harapan itu, semakin kuat manifestasinya pada Alam Semesta. Kira-kira begitulah.

Ok. Sekarang apa pula hubungan The Secret dan AI? Inilah pokok pikiran yang mau saya jabarkan. The Secret dengan Law of Attraction-nya, sebenarnya tampak aneh kalau kita sebut 'baru'. Bahkan saya harus bilang ini penemuan zaman purba. Ketika orang-orang belum paham dengan istilah Tuhan, mereka menggunakan alam sebagai sumber segala kekuatan. Kini, setelah berabad-abad Tuhan ditemukan lewat berbagai macam agama, tiba-tiba kita dikenalkan dengan hukum alam semesta.

Pemikiran-pemikiran logika dan rasionalitas tetap menyengat dalam konsep-konsep ini. Meski The Secret juga bicara tentang sesuatu yang hebat, kuat, tetapi penjelasannya hanyalah Alam Semesta. Lalu apa bedanya dengan nenek moyang kita yang dulu masih nyembah 'kardus'? Indian, Dayak, apa lagi? Sebutkan kebudayaan lama yang sebenarnya sudah mengenal konsep ini, hanya saja mereka tidak punya penelitian NASA dan belum bisa bikin film. Post-Modern kah konsep seperti ini?

Baiklah. Post-Modern? Hmmm... Tampaknya pendekatan Post-Modern dalam AI, juga perlu diteliti lebih lanjut. Sayangnya saya tidak bisa mengakses isi presentasi si Dr. Bushe itu. Jadi jangan bandingkan pemikiran saya ini dengan si Doktor itu, karena pasti tidak relevan.

Paradigma Baru Riset Aksi
Action Research, atau kaji tindak, meneliti sambil bertindak, tindakan itulah penelitian yang dilakukan. Jadi penelitian bukan seperti akademisi dari kampus, yang kerjanya bertanya dan mencatat. Riset Aksi lebih banyak bertanya dan bertindak. Kalau AI, dilakukan dengan serangkaian kegiatan bertanya. Melalui pertanyaan-pertanyaan ini orang-orang digugah untuk menemukan pencerahannya sendiri. Pertanyaan diarahkan sedemikian rupa, sehingga orang lain akan terprovokasi oleh fakta yang ditemukannya sendiri, dengan bantuan pertanyaan kita.

AI berpandangan, kalau anda menggali masalah, maka masalah yang akan Anda dapatkan. Tetapi kalau Anda menggali potensi, maka potensi yang akan Anda dapatkan. Disinilah konsep Law of Attraction tiba-tiba terasa dekat. Anda mau minta apa? Bencana? Alam semesta akan memberi Anda bencana. Anda mau harta? Alam Semesta juga akan menyediakannya. Semudah itukah?

Tapi apakah orang-orang miskin di India, atau di Afrika, itu karena mereka menginginkannya? Apakah Tsunami di Aceh juga karena orang Aceh menginginkannya? Bencana-bencana, atau kemiskinan itu mungkin adalah manifestasi dari hati kecil mereka yang selalu terisi oleh penderitaan, kesedihan, keterpurukan, dan dendam kesumat. Besarnya tsunami di Aceh, mungkin adalah bara dendam rakyat Aceh yang ditindas sedemikian rupa. Miskinnya Afrika, mungkin juga manifestasi pemandangan gersang yang ditampakkan oleh kulit luar 'kekayaan' Afrika yang terpendam.

Memperkenalkan pendekatan AI, yang juga disertai perubahan cara pandang kita terhadap masalah, adalah perubahan besar yang tidak tanggung-tanggung. Tapi tidak ada yang mustahil. Memahami bahwa apa yang Anda pikirkan, sadar ataupun tidak, mempengaruhi jalan hidup Anda, adalah keniscayaan. Bagi kita yang sudah percaya dengan satu agama, itulah Law of Attraction Anda. Semua doa yang diperkenalkan dalam agama, saya kira adalah doa-doa menuju kebaikan. Doa-doa menuju kehancuran, saya kira tidak ada. Tinggal bagaimana Anda menjalaninya, dengan sepenuh hati, atau masih setengah penuh.

Kita perlu bicara lebih banyak tentang AI, nanti di postingan selanjutnya.

-----------------------
say it, you'll have it.

Posting Komentar