19 Agt 2006

The great advertising switch-off

Ini adalah sebuah seri tulisan yang dimuat di www.choice.com.au, sebuah lembaga asosiasi konsumen di Australia. Tengok saja paragraf pembukanya:
Advertisers keep looking for new ways to promote products and services - polluting each pristine area until all is mere 'white noise'. Charles Britton argues that consumers have learnt not to listen. So, will the advertising industry now come to the table to redraw the boundaries of what, and where, is acceptable?

Tulisan pertama menyajikan tentang What's 'alternative' advertising?. Lalu disambung dengan An age of consent, Going ambient, lalu ditutup dengan Dilemma of the commons. Tulisan-tulisan ini akan memperkuat dugaan Soros, dalam essay-nya yang berjudul "The Capitalist Threat". Berikut cuplikan dari essay Soros:
IN The Philosophy of History, Hegel discerned a disturbing historical pattern -- the crack and fall of civilizations owing to a morbid intensification of their own first principles. Although I have made a fortune in the financial markets, I now fear that the untrammeled intensification of laissez-faire capitalism and the spread of market values into all areas of life is endangering our open and democratic society. The main enemy of the open society, I believe, is no longer the communist but the capitalist threat.
Apa pula itu laissez-faire capitalism? Dalam buku Soros yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Open Society: Reforming Global Capitalism, Dawam Raharjo memberi pengantar yang sedikit memberi penjelasan mengenai laissez-faire capitalism:
...kapitalisme yang didasarkan pada pandangan fundamentalisme pasar, yang didukung oleh prinsip laissez-faire, yang didasarkan pada filsafat individualisme dan teori Darwinisme Sosial; yang intinya adalah teori "The Survival of the Fittest"...

Yang kuatlah yang akan menang, dan yang menang yang akan menguasai semuanya. Itulah inti dari konsep kapitalisme saat ini. Kita semua tahu, bahwa advertising menjadi tulang punggung kapitalisme, persis seperti yang diungkapkan Soros. Cara-cara kapitalisme, yang sudah mendekati gaya fasisme, menjadi ancaman bagi kelangsungan masyarakat terbuka.

Mengutip Freire, sang filsuf pendidikan, penindasan yang paling sempurna adalah ketika si penindas maupun si tertindas tidak pernah menyadari bahwa mereka sedang berada dalam sebuah situasi penindasan. Semuanya tampak baik-baik saja. Semua tampak bahagia. Padahal, tidak. Hanya orang merdeka yang mampu merefleksi fakta yang terjadi pada dirinya, dan kemudian menyadari penindasan seperti apa yang berlaku pada dirinya, dan menyadari bahwa sistem penindasan ini sebenarnya menindas semuanya, termasuk sang penindas itu sendiri.

Pada akhirnya, advertising tampaknya cukup sempurna untuk menindas logika kita.

Posting Komentar