1 Jun 2006

Ternyata Tuhan Memang Mulai Bosan

rfirmans.com
Belum genap 3 tahun. Tanah penimbun mayat korban Tsunami Aceh pun belum kering benar. Giliran Jogjakarta diguncang gempa. Sabtu, 27 Mei 2006, pukul 5.56, gempa tektonik 5,9 skala richter meluluhlantakkan Jogjakarta dan sekitarnya.

Belajar dari pengalaman, seharusnya kali ini korban tidak lagi massal. Peringatan dini terhadap bahaya bencana seharusnya sudah bekerja dengan baik, sehingga memberi kesempatan bagi warga untuk waspada. Kenyataannya, tidak.

Lebih dari 5.000 nyawa melayang. Belum termasuk yang luka-luka, dan kehilangan tempat tinggalnya. Jogjakarta praktis lumpuh. Dan Pemerintah, seperti biasanya, hanya bisa membela diri dan berpidato menyatakan belasungkawa. Sebagian tentu sibuk mengurusi nomor rekening yang mulai dibanjiri uang bantuan.

SAAT Tsunami di Aceh beberapa tahun lalu, gegap gempita semua pihak membicarakan sistem peringatan dini. Tak kurang media massa membahas alternatif yang bisa digunakan. Tapi lagi-lagi, aparat yang bebal ini sulit belajar dari pengalaman. Entah butuh berapa banyak lagi nyawa melayang agar sistem peringatan dini bisa terpasang.

Kementrian Ristek, yang bertanggung jawab terhadap pengembangan sistem peringatan dini bencana alam, tak membantu banyak. Entah apa yang terjadi di sana. Kurang pintarkah orang-orangnya? Kurang danakah proyek pengembangannya? Tidak sanggupkah mereka membuat proposal untuk proyek itu? Atau tidak cukup menguntungkan (mereka) kah mengerjakan pekerjaan semacam itu?

Hanya pertanyaan yang ada di benak awam macam saya. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dilakukan pemerintah dalam mengembangkan sistem peringatan dini bencana di negeri ini. Kita juga tidak pernah diberi tahu, apa yang sedang dilakukan pemerintah saat ini dalam rangka merealisasikan tindakan antisipatif terhadap bahaya bencana alam di negeri ini.

Padahal media massa sudah memberi kabar, kita hidup di atas pertemuan tiga lempengan besar. Artinya jelas, kita hidup di atas biang bencana. Sistem peringatan dini bukan saja bisa menyelamatkan banyak nyawa, tapi juga mencegah kerugian material lainnya. Tidak ada alasan untuk menunda pekerjaan seperti itu. Tapi tak nyata juga reaksi aparat kita.

Ternyata tidak saja antisipasinya yang kacau, tapi juga menangani situasi bencana masih saja dodol. Lima hari terhitung sejak terjadinya bencana, masih ada warga korban yang tidak mendapat bantuan. Padahal situasi di Jogja sungguh jauh berbeda dengan situasi di Aceh. Infrastruktur masih relatif tersedia. Kita masih bisa melihat jalan terbentang berlapiskan aspal. Kita masih bisa saling mengirim pesan pendek melalui telepon genggam. Lalu apa masalahnya?

SUNGGUH diluar pemikiran akal sehat. Dulu, sewaktu kasus Aceh, saya cukup bosan dengan komentar yang terus menerus mengkambinghitamkan Tuhan. Bahwa apa yang terjadi di muka bumi ini tidak lepas dari kuasa-Nya, itu saya setuju. Tapi terus menerus membuat pembenaran seperti ini tanpa berbuat apa-apa juga akan membuat Tuhan bosan. Berharap saja Tuhan belum benar-benar bosan.

Kini, polemik mengenai kelambanan aparat dalam menangani bencana masih muncul. Semua berdalih macam-macam, tapi apapun dalih yang dikemukakan, faktanya jutaan korban sedang menyabung nyawa, hidup di alam terbuka tanpa perlindungan.

Dugaan saya ketika menulis untuk Tsunami Aceh ternyata tidak meleset. Bangsa ini terlalu bebal, tidak pernah belajar dari kesalahan. Hampir sia-sia ratusan ribu nyawa melayang di serambi Mekkah, karena Jogja tidak mendapat hikmah setitik pun.

JANGAN, jangan bosan dulu Tuhan...
Posting Komentar