24 Mar 2006

Hegemoni Adidaya - Katak Keluar dari Tempurung

Hegemoni Adidaya
Wiranto


Alkisah, pada suatu masa di negeri antah berantah, seorang kakek berkisah kepada cucunya, dulu ada negeri bernama Indonesia yang karena kebodohan dalam mengelola kemerdekaan yang diwarisinya, negeri itu kini punah, tinggal kenangan. Kisah itu menjadi bayangan menakutkan jika melihat realitas Indonesia saat ini. Bisa jadi kisah itu bukan kisah fiksi dan suatu saat menjadi kenyataan.
....

Kisah ini rasanya sungguh klise dan naif untuk digunakan sebagai ilustrasi pembuka tulisan. Apalagi oleh manusia sekelas Bpk Wiranto ini. Tapi menakjubkan, KOMPAS memuatnya dan inilah tulisan yang menakjubkan itu. Bukan hal baru jika persoalan ini ditulis oleh seorang mahasiswa hijau yang masih bangga mengenakan jas almamater-nya. Tapi jadi menakjubkan karena Bpk Wiranto-lah yang menulisnya...
Mungkin karena alasan ini KOMPAS memuat tulisan ini...



Ibaratnya kini, armada-armada tempur digantikan lembaga-lembaga internasional yang amat berpengaruh (IMF, Bank Dunia, WTO, CGI, dan sebagainya). Divisi-divisi tempur diganti perusahaan raksasa transnasional (Freeport, ExxonMobil, Newmont, dan sebagainya). Amunisi dan peluru diganti mata uang dan surat-surat berharga yang dikendalikan dengan amat piawai. Kegiatan intelijen tak lagi terbatas mengetahui kegiatan lawan, tetapi dirancang untuk menciptakan kekacauan dan melumpuhkan sistem pertahanan suatu negara agar memiliki ketergantungan kepada negara adidaya.

Tembakan meriam dan peluru kendali digantikan oleh pengiriman bantuan yang mengikat, ideologi, dan budaya baru yang membingungkan generasi muda, serta menciptakan LSM-LSM dan birokrasi yang tunduk kepada kemauan negara adidaya.
....

Kebencian pada LSM memang sudah berurat akar pada diri beliau. Simak saja tulisan di atas. Kenapa beliau tidak membuka sekalian berapa banyak uang yang mengalir dari Freeport ke kantong TNI di luar pendapatan negara? Kenapa beliau tidak membuka misteri penembakan mahasiswa Trisakti? Kenapa beliau lebih suka membicarakan hal lain, dari pada hal-hal yang dialaminya sendiri sewaktu menjadi pejabat di negeri ini? Apa (hal baik) yang sudah Anda lakukan demi bangsa ini, Pak? Tolong sebutkan, asal jangan ceritakan tawaran murahan Anda pada Alm. Harry Roesli ketika masa kampanye... Kami sudah cukup mual mendengarnya...



Di tengah bayang-bayang hegemoni adidaya, ada dua pilihan. Pertama, menyerah dan menggadaikan masa depan bangsa kepada pihak asing tanpa dapat menentukan nasib sendiri. Menyedihkan. Namun, pilihan ini tak merepotkan, utamanya bagi para tokoh bangsa yang saat ini sedang dipercaya rakyat untuk melanggengkan kekuasaannya memimpin Indonesia.
.....

Kedua
, bangkit sebagai bangsa penuh harga diri dan martabat yang memiliki masa depan lebih baik untuk generasi berikutnya. Pilihan ini tidak mudah sebab mempersyaratkan keberanian, kebersamaan, semangat pantang menyerah, dan ”berani menderita” dari seluruh rakyatnya. Yang lebih penting lagi, dibutuhkan keberanian para pemimpinnya untuk keluar dari ”ketertindasan”, dengan risiko paling buruk sekalipun.
....
Maukah Anda menjadi bagian dari kemiskinan bangsa ini, sehari saja? Antri di KRL Jabotabek yang penuh sesak oleh pencopet, menumpang angkutan kota yang lebih lama nongkrongnya daripada mengantar penumpang? Menyekolahkan anak ke pendidikan tinggi yang harganya selangit? Berkerut merut di depan apotek karena obat yang harus ditebus di luar batas kemampuan? Mengurusi surat-surat pajak yang luar biasa panjang birokrasinya kalau tidak diselipi amplop? Dan masih banyak lagi "etika" menyimpang negeri ini yang mungkin Anda pun juga tahu tanpa perlu kami sebutkan lagi...

JENDERAL TNI (PURN) WIRANTO Dewan Eksekutif IDe Indonesia
(Institute for Democracy of Indonesia)


Hmm.. beliau ini kini sudah jadi aktivis demokrasi, setelah menangkapi aktivis lainnya semasa menjabat...
Jadi, haruskah kami percaya dengan tulisan Anda? Tulisan itu lebih mirip Katak yang baru melihat dunia, setelah lama terkurung dalam tempurung emas.. Atau mata kami yang selama ini buta, dan tidak dapat melihat kearifan Anda yang terpendam?
Posting Komentar