12 Jul 2005

Menemukan Kembali Makna Kelangenan (Trah Citro Dimedjan)

Ada dua pandangan ekstrem mengenai hubungan antara keluarga dengan masyarakat. Pertama, menegaskan bahwa keluarga harus diatur dan diwujudkan demi kepentingan masyarakat. Kedua, adalah sebaliknya, yaitu masyarakat harus diatur dan diwujudkan demi kepentingan keluarga.” (A. Purwa Hadiwardoyo, Majalah BASIS, Edisi-52, 2003).

Kedua pandangan ekstrim ini kiranya tak pernah benar-benar diwujudkan. Ketika keluarga senantiasa dikorbankan demi kepentingan masyarakat, keluarga itu akan kehilangan arti dan jati dirinya, lalu mati karena tak sanggup mempertahankan eksistensinya. 


Tetapi sebaliknya, ketika kepentingan masyarakat dikorbankan demi kepentingan keluarga, maka masyarakat kehilangan entitasnya sebagai unit besar yang mengurusi hubungan antar keluarga.

Apa maknanya bagi keluarga besar Citro Dimedjo? Hubungan kekerabatan yang selama ini terikat oleh satu darah, darah Mbah Citro Dimedjo, belakangan ini memunculkan banyak kekhawatiran di kalangan generasi tua. Generasi cucu Citro Dimedjo, yang terdiri dari 6 rumpun yang masih memiliki ikatan sejarah, lalu berhasrat membangun kembali trah Citro Dimedjan, ngelumpukne balung misah.

Cita-cita sederhana yang sarat kenangan masa lalu ini sayangnya kehilangan jejaknya pada generasi buyut. Ikatan sejarah di antara buyut Citro Dimedjo, yang tak terbangun secara organik, perlahan-lahan menjauhkan jarak di antara mereka, dan ditengarai semakin kehilangan ikatan.

Tak perlu mencari-cari salahnya. Memudarnya ikatan di kalangan Buyut Citro Dimedjo memang bisa dimaklumi keadaannya. Sejarah tidak mempertemukan generasi ini, yang semakin bercabang dan bertambah banyak jumlahnya. Dari masing-masing 6 rumpun di tingkat cucu, puluhan bahkan ratusan kepala telah lahir, dan terus menambah perbendaharaan trah Citro Dimedjo.

Jumlah Cucu trah Citro Dimedjo saat ini adalah 28 orang, dari 32 orang dikurangi 4 orang yang telah meningggal dunia. Jumlah Buyut saat ini berjumlah kurang lebih 82 orang, di antara sejumlah itu mereka yang sudah dewasa dan dianggap bisa meneruskan kelanjutan organisasi trah Citro Dimedjo kurang lebih 70 orang. Mereka inilah yang diharapkan menjadi jejaring yang secara aktif membangun komunikasi.

Makna Keluarga bagi Citro Dimedjan

Kehidupan bermasyarakat tinggal menyisakan dua ruang, kehidupan keluarga dan kehidupan di tempat kerja atau sekolah. Banyak kecenderungan saat ini, tempat kerja atau sekolah, menjadi ‘keluarga’ yang lebih dekat bagi individu. Seorang anak merasa lebih dekat dengan teman-teman sekolahnya, daripada dengan ayah bundanya. Seorang Ayah atau Bunda yang bekerja, merasa tempat bekerjanya adalah ‘keluarga’ baru yang menghindarkan dirinya dari ketegangan dalam keluarga.

Maka atasan di kantor mampu memberikan rasa aman lebih besar pada seseorang atau pada suatu keluarga, daripada keluarga sedarahnya sendiri. Ikatan keluarga berdasarkan darah atau keturunan tak lagi begitu penting, karena keluarga itu tak lagi saling berkontribusi dalam kehidupan sehari-hari. Ayah, Bunda, Kakek, Nenek, Paman, Bibi, Saudara Sepupu, tak lagi penting maknanya selama tidak menjadi bagian penting dari keseharian kita. Jangan heran jika pertemuan-pertemuan keluarga hanya mendapat cibiran karena tak menghasilkan apa-apa.

Bahwa keluarga harus diutamakan demi kepentingan masyarakat, menjadi terbalik jika melihat kenyataan di atas. Ruang keluarga malah menjadi beban hidup, yang menjerumuskan setiap orang untuk tidak tinggal di lingkungan keluarganya. Keberadaan seseorang atau suatu keluarga dalam tatanan keluarga besar, menjadi semakin sayup dan tak terdengar.
Ketika trah Citro Dimedjo semakin berpencar dan hanya memiliki sedikit waktu untuk berinteraksi (paling tidak setahun sekali ketika Idul Fitri), maka tak heran jika ikatan ini akan semakin memudar. Di antara keluarga sudah jarang membangun interaksi, karenanya hubungan atas dasar kepentingan sudah kehilangan maknanya.

Meski masih ada ‘sisa-sisa’ hubungan yang tertinggal dalam memori para generasi tua, tidak demikian dengan generasi yang lebih muda. Sejarah keluarga tidak mencatat hubungan antar generasi baru ini, sehingga tak ada cerita yang bisa dibeberkan. Setiap generasi muda hanya bisa mencoba mengais-ais reruntuhan sejarah yang bisa menunjukkan keberadaan dirinya dalam keluarga besar Citro Dimedjo. Kecuali ikatan darah yang sudah jelas bentuknya, tak ada lagi ikatan sejarah yang bisa mempertemukan generasi muda dalam suatu percakapan ringan di sela-sela pertemuan keluarga.

Masing-masing kemudian menjadi kikuk, dan serba salah. Tak ada topik yang dirasa cukup menjadi alasan untuk mendorong seseorang membuka percakapan dengan lainnya. Budaya basa-basi yang tidak lagi dimiliki sebagian generasi muda Citro Dimedjo, memenjarakan masing-masing dalam kerangkeng kebisuan. Belum lagi ditambah dengan krisis kepercayaan diri yang kompleks. Situasi ‘aneh’ ini terus berlangsung selama beberapa masa pertemuan keluarga Citro Dimedjo, tanpa memunculkan solusi yang berarti.

Manfaat Organisasi Trah Citro Dimedjo

Dari sekian banyak buyut Citro Dimedjo, belum banyak yang melihat organisasi ini bisa mendatangkan sesuatu yang bermanfaat. Kecuali beberapa nilai normatif yang digariskan dalam agama, atau etika bermasyarakat. Belum ada tawaran lain sebagai daya tarik perekat organisasi ini.

Kepentingan, inilah seharusnya yang dibangun untuk merapatkan kembali barisan trah Citro Dimedjo. Kepentingan seperti apa yang mampu menyatukan kembali keluarga-keluarga yang saling berpencar ini? Inilah yang harus ditemukan terlebih dahulu secara bersama-sama.

Sebuah keluarga seharusnya bisa memberikan rasa dekat, rasa aman, yang membuat semua anggota keluarganya merasa tenteram. Selain masalah ekonomi, setiap keluarga juga membutuhkan telinga yang mau mendengarkan setiap keluh-kesah. Begitu pula setiap keluarga perlu partner untuk mendiskusikan permasalahan hidupnya.

Menemukan kembali keluarga yang bisa menjadi tempat berteduh adalah sebuah kebutuhan, karena dalam perantauan setiap masalah pasti menempatkan seseorang atau suatu keluarga dalam suasana terasing. Keterasingan akan melahirkan frustasi dan pemikiran-pemikiran pendek. Akhirnya permasalahan tidak pernah bisa selesai dengan tuntas, tetapi malah melahirkan masalah baru.
Jika profesi konsultan keluarga saat ini marak menjadi sebuah lahan pekerjaan yang mahal harganya, maka dengan adanya keluarga yang memberi rasa tenteram, profesi semacam ini tak perlu ada. Permasalahan keluarga haruslah tetap privat, menjadi milik keluarga itu, dan bukan konsumsi publik.

Tetapi tingkat privasi setiap masalah tentu berbeda-beda. Ada masalah yang bisa dibuka pada forum di tingkat Citro Dimedjan, dan tentu saja ada masalah yang hanya bisa dibuka di tingkat keluarga itu sendiri. Setiap anggota keluarga Citro Dimedjo harus bisa menghormati privasi ini. Hanya atas persetujuan si empunya masalah, forum Citro Dimedjo membahas penyelesaian masalah itu.

Di sinilah organisasi trah Citro Dimedjo diharapkan bisa berperan. Menjadi sebuah forum besar yang menaungi forum-forum kecil berisi keluarga-keluarga trah Citro Dimedjo. Masing-masing forum akan menemukan bentuknya sendiri, sesuai kebutuhannya. Setiap jenjang forum bisa ditentukan menurut rumpun keluarganya. Sedangkan permasalahan dapat dilihat dari jenjang forumnya, dan berhak menyelesaikan permasalahan tersebut secara otonom. Hanya permasalahan lintas forum yang akan diselesaikan pada forum yang lebih tinggi. Karenanya keluarga besar trah Citro Dimedjo seharusnya bisa menawarkan sebuah tempat untuk ‘pulang’, setelah tegang hidup di alam bebas yang serba menaikkan tensi. Citro Dimedjan bisa berperan seperti induk ayam, yang selalu menawarkan sayap hangatnya setiap kali sang anak membutuhkan kedamaian dan kehangatan.
Cita-cita ini mungkin masih terdengar utopis. Tetapi dengan berbagai perkembangan teknologi, hal ini seharusnya bukan sesuatu yang muskil. Kendala geografis bukanlah penghalang berarti. Yang dibutuhkan hanyalah saling keterbukaan dan pengertian, yang nantinya bisa membangun kepercayaan di antara setiap keluarga. Keluarga yang bisa dipercaya, adalah sebuah modal sosial yang luar biasa bagi sebuah tatanan masyarakat.

Cita-cita ini harus diawali dengan rasa saling percaya. Segala permasalahan masa lalu harus diselesaikan terlebih dahulu. Rekonsiliasi, sebuah upaya untuk saling mengakui kesalahan dan kemudian saling memaafkan, sebenarnya menemukan momennya dalam pertemuan keluarga yang diinisiasi setiap Hari Raya Idul Fitri. Sebuah momen yang paling tepat untuk memulai komitmen baru, dalam keluarga besar Citro Dimedjo.

Tentu saja komitmen baru yang dinyatakan ini penuh dengan konsekuensi. Menghilangkan dendam, dengki, iri, dan segala buruk sangka di antara saudara adalah syarat mutlaknya. Konflik masa lalu sudah waktunya dilupakan, karena konflik adalah suatu hal yang lumrah, dimana setiap manusia hidup akan melahirkan sejuta konflik. Maka bukanlah suatu hal yang sulit untuk mengatasi konflik, karena setiap orang seharusnya memiliki pengalaman itu.
Dibutuhkan sikap saling tahu diri. Yang lebih dewasa tidak menggurui yang muda, sebaliknya yang muda tidak meremehkan yang lebih tua. Dari sisi status sosial-pun jangan ada diskriminasi. Yang kaya tidak meremehkan yang papa, sebaliknya yang papa jangan merasa diri termiskin di dunia. Dalam bahasa klasik, saling asah, asih, dan asuh, bukannya saling mencari musuh.

Setiap anggota keluarga Citro Dimedjo yang saling berpencar ini tidak boleh merasa ditelantarkan. Semuanya harus bisa saling memperhatikan (taking care each other), sesuai dengan kapasitas masing-masing. Tetapi jangan sampai kewajiban untuk ngemong sanak saudaranya menjadi suatu beban tersendiri.

Di sisi lain, organisasi trah Citro Dimedjo jangan sampai menawarkan ketergantungan, melainkan memberdayakan setiap keluarga untuk mampu menghadapi permasalahannya sendiri. Melalui jejaring di antara keluarga, tak mustahil setiap anggota keluarga bisa belajar dari keluarga lainnya dalam menghadapi kehidupan. Citro Dimedjo bisa menjadi tempat belajar bersama, asalkan semuanya mampu menempatkan diri sederajat. Tidak ada yang paling pintar, tidak ada yang paling kaya, tidak ada yang paling miskin, tidak ada yang paling alim, tidak ada yang berhak menghakimi lainnya. Masing-masing memiliki pengalaman yang berbeda, karenanya merupakan ‘sumber pengetahuan’ yang bisa saling memperkaya, bukan saling memperbandingkan.

Mari Tulis Kembali Sejarah Citro Dimedjo

Dalam fitrah manusia sebagai makhluk sosial, kembali ke akarnya adalah sebuah tuntutan hati kecil yang tak bisa dielakkan. Meski sayup terdengar, remang di kegelapan, keinginan untuk kembali dalam sebuah suasana keluarga yang tenteram dan damai adalah sebuah kebutuhan. Senyum di wajah-wajah sanak saudara, adalah berkah dalam hidup di perantauan.

Keluarga ini bisa menjadi tempat ‘kembali’ jiwa-jiwa yang selama ini beterbangan entah kemana. Dalam falsafah Jawa yang mengenal istilah kelangenan, bertemu, berkumpul, dan bersenda gurau itu menjadi ciri yang sudah mendarah daging dalam tubuh manusia Jawa. Sadar atau tidak, kelangenan sudah menjadi roh kekeluargaan orang Jawa. Kelangenan atau bisa juga diterjemahkan sebagai suatu usaha menyambung tali silaturahmi, adalah konsep utama yang melandasi kekeluargaan dalam trah Citro Dimedjo.

Hanya tinggal kerja keras dalam menemukan kembali makna kelangenan itu dalam trah Citro Dimedjo. Konsep dasar ini bisa diarahkan untuk mencapai cita-cita trah Citro Dimedjo, yang bisa direnungkan oleh setiap anggota keluarga. Cita-cita ini harus menjadi catatan sejarah setiap generasi, sehingga masing-masing generasi harus mampu menuliskan sejarahnya sendiri.

Bukan waktunya lagi sekedar mendengarkan dongeng-dongeng tentang sejarah orang lain pada waktu lalu, tanpa menuliskan sejarahnya sendiri. Setiap generasi wajib mencatatkan sejarahnya dalam rangka menyambung kekerabatan dalam trah Citro Dimedjo. Artinya, setiap generasi ‘wajib’ melakukan sesuatu yang berguna bagi kelangsungan trah Citro Dimedjo.

Dongeng masa lalu bisa menjadi inspirasi bagi generasi kini dan yang akan datang dalam mencatatkan sejarahnya sendiri. Karenanya dongeng tentang masa lalu tidak boleh hilang, harus bisa didokumentasikan dalam sebuah catatan. Setiap generasi akan menuliskan dongengnya sendiri, dan akan terus menginspirasi generasi lainnya untuk mencapai cita-cita yang diimpikan trah Citro Dimedjo.

Adalah pekerjaan rumah kita semua untuk mewujudkan kembali cita-cita ini. Jangan mau kalah dengan hubungan kekeluargaan a la Mafioso Italia. 

Wassalam.
Posting Komentar