4 Mar 2005

Menaikkan BBM Tanpa Menaikkan Harga

Hmm... Seperti yang sudah pernah diributkan sebelumnya.. BBM menuai pro dankontra. Hanya satu saja yang saya TIDAK PERNAH atau BELUM PERNAH dengar dari semua pembicaraan mengenai BBM, bagaimana caranya supaya BBM naik tapi tidakmenaikkan harga barang pokok?

Barang pokok, yang seharusnya menjadi public goods, konsumsi publik secara luas, TIDAK SEHARUSNYA diserahkan pengelolaannya kepada private sector. Selain itu, public goods memang seharusnya dimurahkan, atau paling tidak jangan mengeruk keuntungan seenak udel dari situ.

Jadi, kalau mau bicara BBM, bedakan dulu mana yang public goods dan mana yang bukan. Lalu, mana turunannya, yang akan dipengaruhi oleh kenaikan BBM ini. Dalam pikiran saya, dua hal yang 'teraniaya' dengan kenaikan BBM ini. Satu, transportasi. Dua, mesin produksi. Dua hal ini yang kemudian menjadi faktor perkalian yang menaikkan harga-harga barang pokok, karena komponen harga ditentukan oleh dua hal ini.

Kenapa BBM naik, tapi sekedar menggesernya ke orang miskin? Analoginya sama dengan memberi orang kelaparan dengan sepiring nasi. Hari ini kita beri, hari ini mereka bisa makan. Besok gimana? Bulan depan? Tahun depan? sepuluh tahun lagi?

Wawasan pembangunan yang berkelanjutan masih belum terlihat dari kebijakan menaikkan BBM yang kemudian digeser ke subsidi orang miskin. Harga kita naikkan, terus kita kasih mereka duit untuk membelinya. Analogi macam apa ini? Kenapa tidak membuat kebijakan yang bisa menekan harga barang pokok dengan menekan harga BBM untuk transportasi dan mesin-mesin produksi?

Menaikkan harga BBM, di satu sisi memang penting, agar kita bisa mendapatkan untung dari penjualan minyak mentah kita ke pasar dunia. Analoginya sederhana, kalau kita berjualan beras, ngapain kita konsumsi secara murah/gratis? Kapanbisa untung? Faktor lain adalah masalah lingkungan. Berhemat bahan bakar itu bukan slogan. Kita sudah belajar tentang ekosistem, kita tahu bahayanya mengeksplorasi minyak terus-terusan. Dan kita masih tinggal di bumi yang sama, kalau bumi kita hancur, kita mau tinggal dimana?

Kenapa tidak memikirkan pebuatan transportasi massal yang murah, yang bisa mengangkut barang-barang produksi itu dengan harga murah? Dengan jalan ini, paling tidak harga-harga barang pokok tidak akan terlalu terpengaruh. Sediakan transportasi yang layak untuk rakyat, sehingga setiap orang tidak perlu mengkredit motor, atau mobil. Sehingga kita tidak boros bahan bakar. Dengan volume konsumsi BBM yang sama, transportasi massal bisa mengangkut lebih banyak orang, dan barang.

Jalan ini menurut saya lebih banyak manfaatnya. Jalanan tidak macet, polusi tidak merajalela, kita bisa mendapat margin yang lebih besar dari penjualan minyak mentah kita ke pasar dunia. Saat inipun, sebenarnya Pertamina mendapat margin yang positif dari penjualan minyak ke pasar dunia, hanya saja KORUPSI masih menjadi persoalan. Ini juga agenda yang seharusnya selesai dulu, baru BBM dinaikkan.

Mengenai teori konspirasi dibalik kenaikan BBM ini, memang selalu menjadi topik menarik. Sialnya, sulit dibuktikan secara kasat mata, karena semuanya bermain di ruang-ruang misterius buat masyarakat awam macam saya. Tapi kalau saya kembali ke pemahaman mengenai public goods itu, pemerintah harus bisa menjamin bahwa public goods bisa diakses oleh semua orang di negeri ini, TANPA KECUALI. Kalau barang mewah, terserah. Mau dijual oleh kapitalis sekalipun silakan, asal mereka bayar pajak.

Kita sulit terhindar dari paradigma pasar global, karena kita sudah meneken perjanjian pasar bebas itu di jaman Suharto. Kalau mau disalahkan, salahkanSuharto karena sok tahu ikut-ikutan pasar bebas.

Yang mau saya katakan adalah, global justice. Keadilan untuk semua. Bukan globalisasi kapitalis.
Posting Komentar