25 Jan 2005

Takdir

Kalang kabut kerumunan itu menepi ketika tangan Bapak menyeruak. Tangan kokoh tapi tua berkerut itu masih cukup kuat membelah kerumunan, dan menarik salah satu di antaranya yang sedari tadi tak bergerak-gerak. Diam saja tak mau melakukan apa-apa. Bapak curiga, ia sudah enggan bekerja. Entah kelelahan, atau karena tidak cukup banyak lagi imbalan yang diterimanya.

Akupun menatapnya heran campur khawatir. Ada apakah ini. Tidak biasanya mereka berani membangkang perintah Bapak. Jangan-jangan di antara mereka sudah ada provokator yang memulai perlawanannya pada Bapak. Maklum, belakangan ini Bapak memang menuntut terlalu banyak, tapi tidak memberi tambahan pada mereka. Jatahnya tetap sama seperti biasa. Makan dan minum setiap enam jam.

Aku sudah berulang kali memperingatkan Bapak untuk tidak menuntut terlalu banyak. Biar bagaimanapun, ada batasan yang tidak bisa dilewati. Aku khawatir kalau sampai ada resistensi di kalangan mereka. Tapi Bapak berkeras. Bahkan Bapak hanya mentertawakanku ketika kami bicara. Aku katakan kepada Bapak bahwa tekanan yang berlebihan bisa menghasilkan depresi, dan jika sudah sampai pada titik frustasi, semuanya bisa tak terkendali.

Aku bahkan mengilustrasikannya seperti kasus Mei 1998 di Jakarta. Aku kemukakan semua yang aku tahu tentang penyebab meledaknya kerusuhan besar yang menelan banyak korban itu, harta dan benda. Aku beberkan argumen-argumen yang aku baca di buku-buku atau media massa. Tapi sekali lagi Ayah cuma tertawa, bahkan kali ini semakin tergelak.

Disebutnya aku lucu. Dianggapnya aku terlalu mengada-ada. Menurutnya, tak ada alasan untuk menyamakan kasus Mei 1998 dengan kasus Bapak ini. Lagipula, Bapak bukan Suharto, begitu katanya. Bapak bukanlah diktator yang bertangan besi tapi berwajah Semar. Meski kami adalah juga orang Jawa, tapi Bapak meyakinkanku kalau ia tak mungkin berbuat seperti itu.

Aku cuma bisa terdiam. Mata hatiku mencoba melihat, dan Bapak memang berbeda. Paling tidak lebih manusiawi, bahkan terlalu menusiawi jika dibandingkan dengan rekan-rekan seprofesinya. Bapak selalu punya alasan tersendiri, yang tidak bisa dijelaskan begitu saja. Setiap keputusan yang diambilnya terkadang kontroverial, tetapi Bapak tenang saja menghadapinya. Bahkan Bapak menyembunyikan sesuatu dari kamerad-kameradnya.

Sementara pekerja-pekerja itu aku perhatikan tidak konsisten. Mereka tidak memiliki semangat perlawanan, terutama jika berhadapan dengan yang lebih kuat. Hukum rimba benar-benar berlaku di antara mereka. Tapi terkadang, di antara mereka sendiri, terjadi pertikaian-pertikaian karena urusan perut. Insting bertahan hidup mereka bisa muncul, dan mereka berani bertarung untuk itu. Tidak sedikit yang menjadi korban, mati mengenaskan, terpuruk di pojokan.

Bicara pada mereka hampir tak ada gunanya, karena mereka seolah tak mau mengerti apa yang kami ucapkan. Bapak sudah lama berhenti bicara pada mereka. Meskipun selalu tergoda untuk berkomentar, tetapi Bapak tahu bahwa kalimatnya tak ada yang bisa dimengerti. Karenanya Bapak sekarang hanya menyelesaikan pekerjaannya, dan berlalu dari hadapan mereka tanpa suara.

Aku juga sudah pernah berusaha bicara dengan mereka. Bahkan aku mencoba lebih keras, tapi tetap saja sulit membuat mereka mengerti. Mereka tidak mau mendengar kami, atau tidak bisa? Aku pikir mereka tak mau mendengar siapa-siapa. Apalagi perbedaan di antara Bapak dan Aku dengan mereka terlalu jauh. Kami bahkan datang dari ras yang berbeda.

Mereka memang sudah terbiasa bekerja. Tidak banyak bertanya, meski suara-suara sering juga terdengar. Aku sering mendengar suara-suara di antara mereka. Tapi setiap kali aku mendekat, suara itu mereda. Lalu mereka akan tampak sibuk mondar-mandir, seolah tak terjadi apa-apa. Aku pandangi mereka satu persatu, tapi aku tak mendapatkan apa-apa. Mereka bahkan tak pernah membalas tatapanku.

Ketika ada yang terperosok kakinya hingga cacat seumur hidup, Bapak terpaksa menempatkannya di ruangan khusus, dimana mereka tak perlu berdesak-desakan. Ruangan itu dibuat Bapak, khusus untuk mereka yang cacat. Itulah kenapa Aku masih menganggap Bapak lebih manusiawi dari rekan sejawatnya.

Di mataku mereka adalah pekerja paksa. Dalam ruangan yang tak manusiawi, menurut ukuran-ukuran manusia, mereka tidur, bekerja, makan, minum, dan buang hajat. Hanya ada satu pintu untuk setiap kelompok kerja. Di sana ada lubang untuk mengirim makanan dan minuman. Dinding-dinding dari plastik bekas karung memisahkan setiap kelompok pekerja. Tentu saja setelah di antaranya dilapisi dengan kawat. Bapak takkan sudi melihat pekerja-pekerjanya melarikan diri. Kecuali jika Bapak memang menginginkannya.

Setiap kelompok terdiri dari 25-30 pekerja. Di antara mereka tak saling kenal satu sama lain. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-beda, dan entah dari wilayah mana saja. Sulit dilacak keturunannya.Tak pernah ada yang tahu siapa orang tuanya. Mereka ada di sini sejak berumur sangat muda, tapi sudah cukup kuat untuk bekerja. Karena itulah mereka ada disini saat ini, bekerja untuk kami.

Karena sejak usia muda sudah meninggalkan keluarga, mereka kehilangan sejarah. Masing-masing tidak memiliki ikatan yang jelas, sehingga mereka tidak pernah benar-benar bisa bersatu. Tak ada lagi kata keluarga. Sepertinya mereka juga tak mengenal rasa, meski aku meragukan hal itu. Tuhan pasti menciptakan makhluknya dengan kasih sayang, ketakutan, atau kegembiraan. Singa saja tak pernah memangsa anaknya karena suatu alasan.

Mereka adalah diri, tanpa sanak saudara. Nenek moyang mereka tidak pernah mengajarkan tentang apa-apa. Mereka hidup dengan sendirinya, melihat dunia, mengais rejeki sekenanya, mengatasi insting untuk bertahan hidup. Mereka juga tergolong sangat lemah. Setiap kali ada ancaman, mereka tak bereaksi. Seolah pasrah menerima nasib, mengakui bahwa sudah takdirnya menjadi mangsa. Berpikir sangat magis, mistis, atau bahkan memang tak bisa berpikir sama sekali. Aku bahkan tak tahu, apakah Tuhan menganugerahkan pikiran kepada mereka.

Entah demi apa mereka bekerja. Padahal mereka mengorbankan masa remaja, masa paling indah dimana mereka akan belajar banyak hal tentang dunia. Pengorbanan seperti itu bagiku tentu saja sangat berharga. Di saat kelompok lain menghirup udara bebas, berkeliaran ke sana-kemari, mereka terkurung di sini tak bisa kemana-mana. Pandangan matapun terbatas. Tembok-tembok yang mengurung mereka, hanya memiliki satu pintu. Hanya Bapak dan para penjaga saja yang melewati pintu itu. Akupun terkadang melewatinya, tapi tak sesering Bapak dan para penjaga.

Jangan bicara soal kebebasan, karena mereka tampaknya menerima takdir sebagai makhluk tertindas. Seolah-olah mereka memang hidup untuk ditindas. Menjadi makhluk yang diburu oleh predator-predatornya. Dimaki ketika tak memenuhi harapan majikannya, tapi tak pernah mendapat penghargaan setiap kali menghasilkan lebih.

Penindasan yang terjadi pada kaum mereka telah terjadi sejak berabad-abad lalu. Demikian terstruktur dan sistematis, sehingga tidak mungkin lagi mengelak. Seperti tikus yang akan selalu diburu kucing, mereka juga memiliki musuh abadi. Tidak mungkin lagi membebaskan diri dari struktur penindasan yang sudah tersistemasi. Jangankan untuk keluar dari sistem dan mengenali penindas-penindasnya, untuk mengenali diri mereka sendiri saja tak mampu. Bahkan terkadang mereka menduplikasi perilaku penindas-penindas mereka, di antara mereka sendiri!

Aku jadi teringat zaman penjajahan di bumi pertiwi ini sekitar tiga setengah abad yang lalu. Benarkah bangsa ini semudah itu ditaklukkan oleh satpam-satpam VOC, yang awalnya datang dengan niat berdagang? Aku hampir tidak percaya, apalagi jika mendengar dongeng-dongeng tentang pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, atau pendekar legendaris seperti Si Pitung dari tanah Betawi.

Tidak lama setelah Bapak mengeluarkan satu pekerja yang bengong saja di dalam ruangan, aku tak mampu lagi menahan diri. Hatiku serasa tersayat-sayat sembilu. Aku tak mau lagi melihat Bapak mengeksekusi nyawa-nyawa tak berdaya, hanya karena mereka tak sanggup lagi untuk terus bekerja. Aku yakin, setelah dibawa ke tempat terbuka, Bapak akan segera menghabisi nyawa si bengong itu.

Aku berlari masuk ke kamarku. Aku menangis tersedu-sedu. Aku merasa tak berguna, tak mampu menyelamatkan nyawa pekerja kecil itu. Si kecil itu memang lemah, dua kakinya tak normal karena kekurangan gizi. Tapi ia masih bisa bekerja, ia masih bertelur meski kecil ukurannya!

Sejak kemarin sebenarnya aku sudah mencoba menyuapinya dengan pipet tetes. Tapi untuk mendongakkan kepalanya saja ia sudah tak sanggup. Matanya setengah terkatup, setengah terbuka. Tenggorokannya kadang bergerak, menelan ludah sendiri. Dia bahkan mengotori tubuhnya dengan kotorannya sendiri.

Aku menangis lagi. Semakin tersedu. Kuingat sorot mata tak berdosanya, berjalan terseok-seok tanpa cakar yang utuh, dengan sebagian tubuh tercabik tanpa bulu karena dipatuk kawanannya…
Posting Komentar