26 Jan 2005

Sebuah Cuplikan Perdebatan

Tulisan ini adalah tulisan yang dikirim ke Milis SastraPembebasan, untuk sekedar mengomentari beberapa posting yang agak 'ajaib' dalam hal isu kenaikan BBM, reformasi, dan media massa di Indonesia


Pertama, kembali dulu ke soal Bajuri dkk. Iklan yang mereka perankan adalah sebuah lakon, sekedar mimpi yang memang kenyataannya sangat misterius buat rakyat awam politik macam saya. Persoalannya bukan, mereka kok mau-maunya membohongi orang, tapi kenapa rakyat kita sedemikian bodohnya sampe bisa dibohongi iklan. Seharusnya rakyat jelata mampu membedakan mana mimpi dan mana realita, dan cukup memaknai realitanya saja. Kalau mau menyalahkan iklannya, itu tidak menyelesaikan akar masalah. Kalau mau, selesaikan kebodohan rakyat jelata itu. Caranya, media literasi, pendidikan untuk pembebasan, pemikiran kritis, dan bejibun konsep lainnya yang isinya ya sama saja.

Bukan cuma iklan Bajuri dari Pertamina itu yang punya masalah. Semua iklan pada dasarnya memang membodohi, membual, dan menjual mimpi. Sialnya, lagi-lagi, kita sulit membedakan mana mimpi dan mana realita. Contoh kongkritnya sudah disampaikan pada posting terdahulu, "Mat Solar dan Bollot yg di iklan Pertamina - wahai Mat Solar dan Bollot harap Anda berhenti muncul - kita jadi mual dg percakapan Anda di Iklan - Anda sebenarnya orang baik namun sayang tidak sadar apa yg Anda ucapkan !!)" demikian Mas Gianto berpendapat.

Kenapa Mas Gianto ndak bisa membedakan, kalau peranan Mat Solar dkk itu cuma sekedar lelakon, sandiwara, yang kita semua tahu diragukan kredibilitas beritanya. Kenapa harus menyalahkan mereka? Apa salah mereka? Kemangkelan yang sudah sulit dikendalikan memang kita alami di sini. Sangat memilukan, memalukan, menyedihkan, dan sejuta kata-kata satir lainnya bisa kita alamatkan pada berbagai kenyataan di republik korupsi ini. Tapi lalu apa? Setelah itu apakah kita kemudian bisa mencapai orgasme? Atau semacam katarsis belaka?

Peristiwa semacam ini juga berlaku pada ibu-ibu di pasar yang meludahi seorang artis wanita, karena dalam peranannya di sebuah sinetron sangat culas dan jahat, sampe membuat penonton terpengaruh. Padahal apa kesalahannya? Bukankah itu - lagi-lagi - hanyalah sebuah lelakon? Bukan kenyataan? Tidak membudaya-nya berpikir logis telah menyesatkan kita dalam banyak hal.

Yang lebih menyesatkan, menurut saya, adalah pernyataan berikut:

> Saya yakin jika orang sekelas Aji Massaid yg mewakili Partai Demokrat tak akan mau jadi aktor yang ngebohongin rakyat macam style aktor Bajaj Bajuri ini.

Ini agak luar biasa. Siapa itu Aji Massaid? Apa rekam jejak politiknya? Apa yang pernah dibuatnya untuk negeri ini sebelumnya? Tolong jelaskan pada saya. Yang saya lihat adalah seorang artis, jalan-jalan di pasar menggunakan topi anggota DPR, dan berkata bahwa dia perlu tahu masukan dari bawah supaya bisa berkoordinasi dengan kecamatan, kelurahan?? Lha, dia anggota DPR pusat, atau anggota Badan Perwakilan Desa? Bukankah dia anggota DPR RI, yang mampu bernegosiasi langsung dengan PRESIDEN?


Kedua,
tentang aksi mahasiswa yang katanya gak banyak berguna. Tulisan berikut agak menyesakkan dada saya:

>Saat itu saya pun sudah pernah bilang padanya, berapa puluh kali pun presidennya diganti, tak akan membawa perubahan berarti. Suharto turun, ganti berikutnya, berikutnya turun ganti berikutnya, sampai kapan trial and error ini berlangsung? Kasihan rakyat, kasihan umat mereka harus jadi tikus percobaan terus menerus dalam wadah pemilu sistem demokrasi tiap lima tahun sekali. Selama waktu lima tahun itu mereka hanya bisa menahan sakit hati atas janji2 bulan madu tinggal mimpi itu. (
riafariana)

Saya tidak akan pernah berhenti berharap, tidak akan pernah bosan untuk mengganti presiden. Mau sampe seribu kali juga, kalau nggak beres, harus diganti. Mungkinkah ini Trial and Error? Saya kira tidak juga. Meskipun saya belum melihat ada cahaya di ujung lorong kegelapan ini, tapi paling tidak kita harus melangkah maju menuju ujung lorong itu. Semakin panjang lorongnya, semakin cepat kita harus maju. Tidak ada lori untuk mempercepat langkah kita. Karena negeri ini dihuni oleh ratusan juta jiwa, yang berbeda-beda isi kepalanya. Tidak ada lori ataupun gerbong kereta yang sanggup membawa kita semua ke ujung lorong gelap ini serentak, seketika. Semua butuh proses, perjuangan, yang pasti membutuhkan pengorbanan. Darah ataupun airmata.

Dalam sebuah diskusi non-formal dengan Alm. Harry Roesli, sayapun pernah merasakan kekecewaan yang hampir sama, ketika reformasi ini tidak banyak membawa perubahan yang dicita-citakan. Demokrasi kita mentok. Pada tembok yang namanya KERAS KEPALA, yang adanya di dalam diri kita sendiri. Demokrasi bukan sulap. Demikian pula Pemilu bukan sihir. Berbagai iklan atau pemberitaan di masa kampanye yang sangat mengelu-elukan keberhasilan Pemilu 2004 kita, menutup kenyataan bahwa Pemilu cuma seujung kuku-nya demokrasi yang sesungguhnya. Setelah Pemilu banyak sekali hal lain, yang kita lupa harus berbuat apa. Beres Pemilu, seolah-olah kita sudah memasuki alam demokrasi, yang menjadi barang dagangan politisi-politisi. Padahal tidak, kawan. Perjuangan masih panjang.

Jadi, demonstrasi mahasiswa dan berbagai elemen lain yang juga terlibat di dalamnya pada tahun 1998 boleh diperdebatkan. Tapi tidak pada tempatnya kalau kita reduksi maknanya.

Kasihan pada rakyat tentu saja, karena kita juga adalah rakyat itu sendiri. Membicarakan rakyat adalah juga membicarakan diri kita, karena kita seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari itu semua. Atau kita mau jadi elit terpelajar, yang bisanya berdiri di menara gading, sementara lainnya tenggelam hanyut dihantam tsunami. Lalu kita berbelas kasihan? Sudah terlalu lama mahasiswa ditempatkan di menara itu, hingga lupa kalau dia adalah juga rakyat yang diteriakkannya dalam demonstrasi di jalan-jalan raya. Memang tidak sedikit mahasiswa oportunis, yang kemudian lupa pada fitrahnya. Semua manusia memang begitu. Tak perlu diragukan kelemahannya. Maka jangan percaya pada manusia, karena manusia dianugerahi kemampuan yang luar biasa - seperti yang dituliskan seorang kawan (maaf, saya lupa namanya) - yaitu KEMAMPUAN UNTUK MEMILIH. Dia sebenarnya bisa dengan sadar memilih, jalan mana yang akan diambilnya. Ada seribu satu jalan menuju ROMA.

Ini memang jadi bla...bla...bla... dan mungkin tidak menarik untuk dibaca.

Lalu pada inti masalahnya
, kenaikan harga BBM. Saudara yang menyebut dirinya Kembali KeAllah, menulis:

> Coba kita berhitung sedikit jika BBM naik otomatis ongkos angkutan umum jadi naik. Jika sebelumnya seorang ayah harus mengeluarkan ongkos anaknya yang pergi bersekolah itu Rp. 1.000/hari per anak untuk yang menggunakan kenderaan umum yang hanya sekali nyambung saja, maka denmgan kenaikan BBM sang ayah harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 2.000/hari per anak atau Rp. 52.000/bulan per anak untuk yang menggunakan angkutan umum yang sekali saja. Jika si anak pergi ke sekolah harus nyambung 2 kali angkutan maka ongkos makin akan bertambah. Jadi pertanyaannya subsidi BBM yang disalurkan untuk rakyat kecil itu untuk apa ? Oleh karena biaya yang harus dikeluarkan si ayah untuk ongkos anaknya pergi sekolah lebih besar dari subsidi BBM yang diterimanya.


Lalu terusannya:

> Sepertinya pemerintahan SBY-MJK tidak jauh berbeda dengan pemerintahn yang terdahulu , yakni masih suka menjadikan BUMN sebagai "Sapi Perah Pemerintah". Jika Pertamin sudah tidak sanggup lagi memproduksi BBM dengan biaya murah dan menjaga kerterlangsungan pasokan, sebaiknya pemerintah meng-izinkan perusahaan swasta untuk
melakukan eksplorasi dan penjualan BBM langsung ke masyarakat. Jadi monopoli Pertamina atas BBM dicabut total. Coba kita lihat negara tetangga kita M'Sia selain punya Petronas yang merupakan perusahaan milik kerjaan M'Sia juga ada BP, Shell, Esso dll.


Menswastakan pengelolaan BBM? Hmm... Apa Anda tahu, siapa itu British Petroleum (BP), Shell, dan Esso itu? Kemana duitnya mengalir? Apakah benar kalau mereka yang mengelola BBM bisa murah? Apa kita semua sepakat bahwa yang namanya bahan bakar minyak itu sumberdaya alam yang tidak bisa dengan mudah diperbaharui? Karenanya semua orang akan terus butuh, sementara stok akan semakin menipis saja? Seperti yang kita semua tahu, hukum ekonomi berkata, deman yang tinggi dengan suplai yang rendah, hanya akan menaikkan harga.

Kemiskinan bukan alasan untuk boros energi. Justru karena kita semua sebenarnya miskin, maka berhematlah. Kalau ongkos transportasi mahal, itu karena pemerintah aja nggak becus mengurusi sistem transportasi publik. Untuk kepentingan publik, dibiarkannya kaum bermodal mengeruk keuntungan, di atas penderitaan orang lain. Seharusnya transportasi publik itu tanggung jawab pemerintah. Dibuat dong sistem transportasi yang massal, bagus dan murah. Bukan urusan rakyat yang harus menanggung semua beban. Jadi pemerintah mengerjakan apa?

Pemborosan bahan bakar di negeri ini hanya akan semakin menjerumuskan kita semua dalam kemiskinan yang lebih akut. Keterganungan pada bahan bakar harus segera dikurangi. Eksplorasi pada hasil bumi harus dihemat, karena akan mempengaruhi ekosistem, dan nantinya juga akan mempengaruhi semua manusia di muka bumi. Pemborosan bahan bakar di negeri ini sudah di ambang batas yang mengkhawatirkan. Semua orang boros, tidak cuma yang kaya, yang miskin juga.

Harga BBM yang terlalu murah, hanya akan menghambur-hamburkan nafsu untuk mengkonsumsi bahan bakar. Mencabut subsidi BBM, seharusnya dilakukan tapi dengan banyak sekali catatan. Termasuk siapa yang bisa mengawasi korupsi di balik penumpukan dana bekas subsidi itu. KORUPSI-LAH MASALAH KITA. Selama korupsi nya masih ada dimana-mana, hanya ampas saja yang akan kita telan. Sementara inti sarinya sudah dimakan oleh para KORUPTOR yang ada dimana-mana, di pemerintahan, di lembaga-lembaga hukum, di sekolah, di tempat peribadatan sekalipun. Dan KORUPSI-LAH yang membuat kita semua menjadi BODOH, tak mampu memperluas cakrawala pikir kita. Termasuk saya. Karena saya lahir dari sistem yang sama dengan Anda semua.

Selama sistem-nya tidak berubah, maka kita hanya mengulang-ngulang peristiwa yang sama. Tengok saja, Iwan Fals sudah menyuarakan soal tikus kantor sejak tahun berapa? Kenapa sampai sekarang masih terjadi? Apakah Iwan Fals seorang Futuristik? Tentu bukan. Negeri kita yang sulit berubah. Bangsa kitalah yang sangat bebal pada pencerahan.

Demikian, lebih dan kurangnya, mohon maaf yang sebesar-besanya.
Posting Komentar